
Kali ini Biker08 punya gawe Gowes
Wanawisata Blora, sebagai penutup kegiatan Touring Luar Kota 2018. Track yang
dibidik adalah Hutan Jati di kawasan kabupaten Blora. Bukan tanpa alasan kenapa
memilih daerah tersebut, karena ada anggota kami yang berasal dari sana, dan
kebetulan kedua orang tuanya masih sugeng (sehat) dan tinggal disana, sehingga
akomodasi penginapan dan makan adalah “free of Charge alias No Pay”,
he33x…jurus hemat ala biker08. Thanks a lot P. Besut, for your hospitality,
jangan kapok ngundang lagi.

Sabtu pagi 15 Desember 2018, satu
kendaraan Long Elf dengan kapasitas 16 penumpang dan 1 truck DMax owned by
p.Ugeng salah satu anggota kami, siap dengan 15 Bikes loaded. Kira2 jam 7.30
waktu tikum (Kantor Telkom Sawojajar) berangkat menuju Blora. Sepanjang
perjalanan, yang namanya GUGOSAE (guyon gojlok2an Sampe Elek) tidak pernah
berhenti, periode diam meski sekejap-pun tak mendapat kesempatan sepanjang
perjalanan, namun sayangnya “korban” gugosae adalah tuan rumah, sampai2 p.
Besut kehabisan kata2 double cover dan diam adalah senjata pamungkasnya.
Singkat cerita, sampailah kami di tempat tujuan, di desa Punggur yang berjarak
2 km dari alun2 kota Blora. Setelah sejenak bersilaturahmi dengan bapak-ibunya
p.Besut, dan tanpa downloading bikes terlebih dahulu, kami langsung balik ke
pusat kota Blora untuk mengabadikan gambar kami dengan latar ikon kota Blora
dan tentunya wisata kuliner khas Blora, Sate Blora, Soto Klethuk, Enthung Jati,
khususon Sate Kambing-nya luuueeezaaat masbro, kalau penasaran boleh dicoba
sendiri.
Keesokan harinya, kami dijamu
sarapan pagi pecel pincuk godhong jati, yang bagi orang kota menjadi barang
langka, aroma daun jati merebak saat di tumpahkan nasi putih panas diatasnya,
semakin merangsang selera makan. Kira2 jam 07.00 kami berangkat menuju tikum ex
stasiun kota Blora yang sekarang dialih fungsikan menjadi terminal Ngopi, untuk
bertemu dengan komunitas gowes Blora. Kami menyusur jalan Jendral Sudirman yang
merupakan akses utama masuk kota Blora dari arah timur, selanjutnya berbelok
memasuki jalan Veteran untuk kemudian
memasuki track off-road. Interval pertama yang kami tuju adalah embung Plered
yang terletak di dukuh Betet – desa Purworejo – kec. Blora Kota. Embung Plered
ini dibangun pemerintah kabupaten Blora dengan tujuan untuk menggalakkan wisata
di daerah tersebut, disamping fungsi utama sebagai penampung air dan irigasi
pertanian. Namun sayang, niat baik pemerintah daerah untuk meningkatkan
perekonomian masyarakat desa, dengan telah ditebarkannya ribuan bibit ikan,
kemudian rencana penanaman pohon buah disekitarnya dan pengembangan wisata
kuliner, sepertinya hanya sebatas angan-angan, karena sejak diisi air pada awal
Januari 2018 sampai dengan kunjungan kami, nampak kurang terawat dan terkesan terbengkalai. Menurut data statistik, embung tersebut
dibangun diareal seluas 5 hektare, memiliki
daya tampung air sebanyak 210.870 meter kubik, dan mampu mengairi lahan
pertanian seluas 125 hektare, adapun nilai kontrak pembangunannya sebesar 14M
rupiah.

Etape selanjutnya menuju Oil
Drilling di desa Semanggi. Yang menarik adalah sumur2 minyak yang ada disana
adalah sumur kuno peninggalan zaman kolonial Belanda. Sumur minyak tersebut
dikenal dengan sebutan “SUMUR ANGGUK” karena mesin pompanya berbentuk seperti
kepala yang mengangguk-angguk. Sepanjang jalan menuju kesana didominasi oleh
jalan makadam batu putih dengan kontur naik turun yang lumayan menyiksa paha
dan mendorong degup jantung sampai level 150 bpm, ditambah sengatan terik matahari yang serasa memanggang kulit kami. Dikanan kiri dipenuhi hutan
jati yang mulai semi daunnya, namun sayang nampaknya banyak hama ulat yang
menggerogotinya. Ditengah perjalanan kami beristirahat di warung kopi dukuh
setempat untuk menikmati kopi santan kas desa tersebut. Yang membuat kami
takjub adalah hampir semua rumah disetiap desa yang kami lalui tersusun dari
kayu jati tua. Kerangka atap, dinding, lantai, perabotan rumah tangga semuanya
terbuat dari kayu jati kualitas A, dan jika di kota, saya rasa hanya orang kaya
saja yang mampu melakukannya. Sekitar jam 11.30 sampailah kami di salah satu
sumur angguk di desa Semanggi Kec. Jepon. Acara tebar pesona didepan Digital
Phone Camera dimulai, tentunya dengan latar Sumur angguk yang legendaris.
Setelah puas berfoto kami bongkar kiriman rangsum menu tradisional : nasi
jagung, urap-urap, sambel teri, oseng-oseng enthung jati, telur dadar, tempe
ndesa dan tak ketinggalan kerupuk. Selain sumur tua peninggalan Belanda,
Pertamina terus mencari sumur2 baru di kawasan ini, salah satunya adalah sumur
Banyuasin yang pengeborannya dimulai pada 7 Nopember 2018, dengan kedalaman
2.036 meter, sumur ini diharapkan dapat menghasilkan 150 barel minyak per hari.
Tujuan selanjutnya adalah Jurang
Jero, masih tetap track offroad. Untung tak dapat diraih-malang tak dapat
ditolak, roda belakang sepeda dedengkot biker08 “PACE” mencium duri, bangga tak
dapat digapai – malu tak mampu ditolak, akhirnya Pace bersama sepedanya dengan
sangat terpaksa berada diatas Truck DMax yang sedari start mengawal kami. Benar
adanya bahwa Tuhan maha pengasih dan penyayang, do’a Pace terjawab, tidak berapa lama jatuh korban, lik Mentrik
alias lik Tris mengalami kram yang cukup parah sehingga tak mampu melanjutkan
gowes, jadilah Pace mengendarai sepeda lik Mentrik, maka selamatlah
kredibilitas Pace sebagai maskotnya biker08. Lepas dari Jurang Jero, kami
melibas aspal mulus jalan raya Randublatung-Blora sampai di titik finish desa
Punggur.
Perjalanan kami kali ini menempuh
jarak kurang lebih 45 Km dengan waktu tempuh sekitar 7 jam. Alhamdulilah semua
berjalan dengan lancar, seluruh anggota sampai titik finish dengan selamat. Bahwa
“Setiap Track Yang Berbeda Menawarkan
Experience Yang Berbeda” adalah moto kami, maka dimanapun kami gowes dan di
track apapun selalu kebahagiaan yang kami bawa pulang sebagai buah tangan, tak
ada kata kecewa atau menyesal. Setelah up-loading sepeda dan bersih2 badan,
kami berangkat pulang ke Malang sekitar jam 17.20. Demikian yang bisa kami bagi
kepada sahabat gowes kali ini, semoga kami masih diberi umur panjang untuk
dapat membagi pengalaman gowes berikutnya.
Salam 2rodaMTB
0 comments:
Post a Comment