Showing posts with label My Distraction. Show all posts
Showing posts with label My Distraction. Show all posts

Wednesday, May 6, 2020

Mewujudkan Sila Ke-5 Pancasila


Film lawas besutan th.2003, The Last Samurai adalah salah satu film favorite saya, selain acting seorang Ken Watanabe sebagai seorang Samurai yang menurut saya bagus banget, ada yang lebih utama yaitu pesan moral yang disampaikan dalam film tersebut tentang jiwa pengabdian dan pengorbanan seorang Leader, dan secara overall film tersebut digarap dengan sangat baik untuk ukuran saya yang tidak begitu paham what a good movie is.

Saya sudah tonton 4x film tersebut, namun demikian tetap saja tidak membosankan bagi saya, terutama saat mengikuti dialog antara seorang samurai dan tawanannya. Sempat terlintas dalam benak saya bahwa menonton film tersebut bisa menjadi syarat wajib pelantikan seorang pejabat di negri ini, untuk pembelajaran tentang apa itu “DIGNITY”.

Kalau saya gak salah ingat, DI pernah mengajarkan sesuatu yang sederhana dalam membentuk community yang baik. Suatu kelompok secara umum dapat dibagi menjadi 3 bagian, 10% orang baik, 10% orang jahat, 80% golongan so-so yang bisa kekiri atau kekanan tergantung arah anginnya. Maka carilah pimpinan dari kelompok 10% yang baik itu, sehingga dia akan mencari pendampingnya dari kelompoknya, as a consquences akan mampu membawa 80% kelompok So-So tertiup angin ke sisi baik, sehingga hanya tersisa 10% kelompok jahat, maka seiring berjalannya waktu mereka akan tergilas punah. Sekilas nampak hebat theory sederhana itu, namun sulit diwujudkan, karena yang menentukan pimpinan seringkali mengambil dari kelompok yang tidak kita harapkan. Wal hasil, kita masih saja mendendangkan lagunya Dian Piesesha “Kita (aku) masih seperti yang dulu....”

Kemudian ada ide menarik dalam film Robocop, untuk menegakkan keadilan ditengah “Lack of Social Trust”, Justice is created with robots, the main reason adalah “machine is free form coruption”. Kalau memang susah menemukan manusia amanah di zaman now, ide ngawur ini mungkin saja menjadi sangat rasional. Tentunya dengan mega syarat, bahwa yang meng-create SYSTEM & MACHINE tersebut harus betul2 manusia yang sangat baik dalam segala hal. Dan kalau ketiga ide diatas disatukan, mungkin saja kita tak perlu menunggu terlalu lama untuk mewujudkan cita2 sila ke-5 Pancasila.

Dalam kepercayaan masyarakat jawa ada 3 jenis mimpi, yaitu Titi Yoni, yaitu mimpi yang terjadi sebelum tengah malam, dimana mimpi pada periode waktu ini tidak bermakna penting, dan lebih dipengaruhi oleh aktifitas keseharian. Berikutnya adalah mimpi yang terjadi pada periode antara pukul 00.00 – 03.00, disebut Ganda Yoni yaitu mimpi yang jika mampu menafsirkannya dapat mengungkap jati diri kita sebenarnya. Dan yang terakhir adalah Puspa Tajem, adalah mimpi yang terjadi pada ujung sepertiga malam terakhir, dan mimpi ini diyakini sebagai petunjuk dari gusti Allah ingkang murbeng dumadi, tentunya hal ini sangat tergantung dengan kualitas keimanan kita.

Nah, corat-coret diatas, termasuk mimpi penulis yang mana....atau malah termasuk mimpi seorang pemabuk....dan mungkin yang terakhir ini yang paling benar.

Terakhir, mas Bro & mBak Sis, tut mir leid, jika script above smells like garbage, perhap....

Wednesday, November 21, 2018

Ridho Allah

Ridho Allah...
Selalu menjadi dalih kita, untuk setiap amalan yang kita lakukan...
Namun, apakah kita tahu benar makna mencari ridho Allah...
Allah ridho adalah Allah senang terhadap apa yang kita lakukan...
Sesederhana itu maknanya...

Kita lakukan hal-hal baik, seperti yang dicontohkan nabi kita...
Tak perlu menyalahkan orang lain yang tak sama persis dengan kita...
Jangan berlagak seperti tetangga Rasulullah...
Apalagi seolah-olah asistennya Gusti Allah..
Kita tidak pernah tahu benar, mana yang lebih benar menurut Allah...
Berbuatlah kebajikan sebagaimana yang telah kita pahami...
Jangan pernah meng-kavling sorga untuk kita...
Neraka untuk mereka...
Jangan pernah meng-hak-i pahala untuk kita...
Dosa untuk mereka...
Semua itu hak mutlak Allah...
Dan jangan pernah kita menawar...
Kewajiban kita hanya ikhtiar...
Untuk menyenangkan gusti Allah...

rangkuman mauidhoh hasanah gus Mus

Tuesday, November 20, 2018

Dunia Terbalik

Jika seorang polisi penegak hukum, dihukum...
Jika petugas keamanan, diamankan...
Jika seorang hakim pengadil perkara, diadili...
Jika jaksa penuntut, dituntut...
Jika pemberantas korupsi, melakukan korupsi...
Jika wakil rakyat, namun tidak membela rakyat...
Jika kepala daerah, lebih sibuk memperkaya diri...
Jika seorang pejabat, tidak amanah...

Jika ethics dan moral adalah standar nilai baku untuk semua tata kelola dalam aspek kehidupan...
Maka keadilan dan kemakmuran akan mudah terwujud...
Jika tidak, yang terjadi sebaliknya...
Dunia sepertinya sudah terbalik...

Jika temanmu sedikit, jangan sedih...
Karena orang baik jumlahnya tidak banyak...
Dan jika temanmu banyak, jangan terlalu bangga...
Karena mungkin banyak diantaranya yang tidak baik...
Dunia memang sudah terbalik...

Maka menjadi orang biasa...
Yang mungkin berguna bagi tetangga kiri-kanan saja...
Niscaya lebih  baik dan mulia...

Tuesday, November 13, 2018

Organization Without a Real Owner tend to be Broken Soon

Manusia pada dasarnya memiliki bibit egois dalam dirinya, yang dalam interaksi sosial dapat mengancam keutuhan kelompoknya dalam skala kecil maupun besar. Seperti teory yang disampaikan The Godfather-nya  Psychoanalyst, Sigmund Freud, bahwa dalam struktur kepribadiannya terdapat 3 unsur, yaitu Id, Superego dan Ego. Id adalah keinginan paling liar yang dimiliki setiap individu, seperti makan, minum, sex, dll, sedangkan Superego adalah norma di luar diri-nya, sementara Ego adalah unsur yang bersifat memutuskan, apakah kita lebih memilih Id atau Superego. Ketika seseorang lebih memilih id-nya tanpa mempertimbangkan superego, maka dia akan menjadi manusia yg menghalalkan segala cara demi memenuhi keinginannya. Frued mengenalkan istilah Idish untuk manusia seperti ini, atau kita lebih mengenalnya sebagai egois.

Saat bapak bangsa kita, yaitu pendiri Negara ini berikrar untuk membentuk NKRI, ego dalam diri beliau-beliau mampu menyeimbangkan antara id dengan superego, sehingga dalam menetapkan tujuan (meraih keinginan dan kebutuhan) selalu mempertimbangkan kepentingan bersama seluruh bangsa Indonesia, bukan sekelompak orang saja atau seorang Soekarno atau seorang Hatta semata. Karenanya bangsa ini dikenal dengan jiwa “Gotong Royong-nya”, hal ini karena adanya keseimbangan Id dan Superego. Dalam perkembangan dunia modern, yang cenderung selalu berkompetisi untuk menjadi yang “TER”, maka keseimbangan antara Id dan Superego mulai bergeser kearah Id dan lebih extreeme lagi bahwa superego sudah tidak tersisa lagi. Hal ini terjadi hampir disemua bangsa di dunia dalam seluruh strata sosial, dengan level yang berbeda, yang cenderung meningkat dari strata primitif/tradisional ke modern.

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara rakyat Indonesia, dahulu secara de facto pemilik negara ini adalah Ir. Soekarno, bung Hatta, orang-orang yang terlibat dalam pendirian NKRI, dan bahkan mungkin seluruh rakyat Indonesia waktu itu yang hatinya tidak rela jika Negara ini hancur, bahkan mereka rela berkorban harta dan nyawa untuk menjaga keutuhan negara ini. Namun di era demokrasi modern saat ini, saya belum menemukan sosok seperti bapak bangsa yang dapat dianggap sebagai pemilik negara ini. Sehingga praktik2 yang berpotensi menuju kehancuran bangsa dan negara ini bisa kita saksikan terjadi silih berganti. Dulu ada kasus impor garam dari India yang digudangkan di pulau Madura, sehingga saat didistribusikan ke pasar, menjadi seolah-olah produk lokal masyarakat Madura, sementara akibatnya stock garam melimpah, harga turun, rakyat lokal menjerit, sayangnya jeritannya sayup-sayup hampir-hampir tidak terdengar. Yang paling uptodate adalah kasus BULOG, sementara Kabulog menyatakan stock beras melimpah, namun impor beras jalan terus, siapa yang dirugikan ?, selalu rakyat kecil yaitu para petani, siapa yang diuntungkan ?, selalu para “******”. Contoh lain dari makin banyaknya kumpulan para Idish adalah saat-saat sekarang, menjelang pilpres 2019, HOAKS beterbangan di seluruh sosmed, saling serang, saling fitnah yang bertujuan sama untuk tampil menjadi pemenang dengan cara apapun. Mungkin tidak secuilpun terbersit pikiran untuk mengalah demi kepentingan bangsa yang lebih besar, yang ada adalah saling sikut antara saudara sedarah, seiman, sesuku,  sebangsa dan setanah air, “jika kau tidak sama denganku, kau adalah musuhku”. Id sudah sedemikian dominan terhadap superego. Kondisi ini berbahaya!!!.

Sekarang kita mencoba melihat scope yang lebih sempit dalam skala korporasi. Sebagai contoh BUMN yang dipimpin oleh seorang direktur, secara keterikatan antara insitusi dan personal (BUMN – Direktur) tidaklah kuat sekali, artinya Apabila perusahaan colapse dia mungkin tidak akan berbuat sesuatu yang sampai mengorbankan seluruh potensi pribadinya, karena mungkin dia dengan mudah mencari pekerjaan lain, dan yang lebih penting masih punya banyak materi. Kondisi kohesivitas yang rendah ini ditambah banyaknya para Idish dalam struktur organisasi, semakin mempercepat kehancuran. Membeli membership golf yang harganya ratusan juta dengan uang perusahaan mungkin jamak terjadi (kecuali ada aturan yang legalkan itu), bahkan mungkin stick golf pribadi-nya juga dibeli dari biaya operasional perusahaan, melakukan perjalanan dinas dengan anggaran perusahaan, namun ticket pesawat dan biaya hotel dibayar oleh dayang2nya dengan menggunakan anggaran entah dari mana, menyisihkan sebagian anggaran operasional setiap bulannya untuk dipakai rekreasi keluar negri bersama unitnya saat akhir tahun, terlalu sering makan siang di resto mahal baik sendiri atau dengan staff dengan memanfaatkan anggaran operasional perusahaan. Kemudian bicara ke skala yang lebih strategic, sangat mungkin terjadi kong kalikong dengan mitra untuk mendapatkan keuntungan pribadi, memanipulasi kinerja perusahaan demi prestasi semu individu/unit yang dampaknya sangat merugikan perusahaan in the long term. Hal-hal demikian sangat mungkin dilakukan karena tidak ada konskuensi material kepada individu, “hancur-hancurlah perusahaan, yang penting diriku sudah dapat banyak”.

Kohesivitas yang tinggi antara pimpinan Institusi  dengan Institusi yang dipimpin akan berdampak pada langgengnya keutuhan Organisasi, hal dapat dibuktikan pada management perusahaan swasta. Pada korporasi swasta, owner adalah pimpinan tertinggi dan mempunyai kekuasaan absolut atas perusahaan. Dalam situasi ini, tak seorangpun dengan leluasa melakukan tindakan-tindakan buruk yang mungkin terjadi pada korporasi BUMN, karena dapat dipastikan owner akan memberikan sangsi dalam skala peringatan sampai pemecatan bahkan diperkarakan hukum. Sehingga semua kegiatan perusahaan seiring selangkah menuju keuntungan dan kelanggengan perusahaan. Owner dengan segala upayanya mengerahkan bahkan mengorbankan seluruh potensinya untuk kemajuan perusahaan. Tidak ada kinerja semu, tidak ada penyelewengan anggaran, dan jika terjadi sangsi berat siap menanti.

Jadi sangat jelas bahwa kohesivitas yang tinggi antara pimpinan dan organisasi yang dipimpinnya akan berpengaruh pada sukses yang sutainable atas organisasi/institusi. kohesivitas yang tinggi itu bisa hadir dengan hadirnya pemilik atau sosok yang berjiwa pemilik.  Saya masih terus bermimpi dan terus bermimpi, suatu saat hadir sosok pemimpin bangsaku yang berjiwa owner, siap mengorbankan segala miliknya untuk kepentingan bangsa dan negara, yang mampu mengatur egonya agar seimbang antara id dan superego, yang mampu menularkan kebaikan kepada seluruh rakyat Indonesia. Dan jika belum mampu menghadirkan prosperity bagi rakyatnya, paling tidak mampu membuat kebijakan publik yang adil, jika mungkin lebih menguntungkan rakyat kecil. Di Indonesia barang apa yang belum ada?, merk apa yang tidak ada?, hampir semua barang yang dibelahan bumi kaya sana ada, disini juga ada. Ponsel Vertue yang harganya tidak masuk akal-pun punya outlet di Jakarta, mobil sport italia yang harganya setara pesawat terbangpun sudah jamak kita saksikan bersliweran di jalanan Indonesia, khususnya Jakarta, barang-barang fashion yang harganya 10x rumah type 45 banyak dipakai dan ditenteng ibu-ibu pejabat dan artis-artis karbitan, “beginilah kalau inginku sudah jauh melebihi butuhku”. Seandainya pemerintah  membuat kebijakan, mobil yang masuk Indonesia adalah merk A dan B saja, impor bahan pangan dilarang jika kebutuhan dalam negri dapat dicukupi oleh petani lokal, barang-barang mewah dikenakan pajak yang sangat mahal, ohhh alangkan indahnya Indonesiaku. Sehingga rakyat tidak didorong menjadi konsumtif, petani terlindungi dari system perdagangan liberal yang kejam, rakyat kecil mendapatkan jaminan sosial yang memadai. Tapi sampai kapan kita berharap…karena nafsu serakah itu secara masive sudah ditularkan oleh para senior ke yunior-nya, atau ide konyol dalam kepala saya segera kita wujudkan, “kita potong leher manusia 25 tahun keatas”, dengan harapan yang tersisa adalah generasi baru yang belum terkontaminasi oleh nafsu keserakahan, Wallahu Alam….

malang, nov 14 2018

Thursday, November 8, 2018

di Negri Antah Berantah

Ada lomba lari marathon di negri antah berantah…
Hadiahnya adalah kemuliaan…
Pesertanya banyaaak sekaliiiii…
Semua bersiap di garis start…
Menunggu juri menembak pistol, aba2 dimulainya lomba…

Dor, semua peserta berebut lari didepan…
Tak jauh dari garis start…
Ada yang sibuk mencari tumpangan ojek…
Ada yang segera berbelok menuju jalan pintas…
Namun ada yang terus berlari di jalur lomba…
Sampai-sampai sang panitia terheran-heran…
Segera mendekatinya dan bertanya…
“Kenapa kau tak cari sesuatu?”…

Setelah sekian waktu…
Nampak pemandangan di garis finish…
Semua beradu cepat mencapai garis finish…
Tak nampak lagi, mana yang naik ojek…
Mana yang berlari melewati jalan pintas…
Semuanya tampak sama seperti berlari sepanjang jalur lomba…

Dan akhirnya munculah sang juara…
Diatas panggung disaksikan oleh semua penonton…
Sang pejabat tertawa bangga mengangkat tangan sang juara…
Tak peduli bagaimana caranya…
Sang juara tak kalah keras tawanya, mewakili rasa bangganya…
Tak peduli bagaimana caranya…

Tibalah waktu olimpiade marathon…
Negri antah berantah tak mengirimkan wakilnya…

Jujur atau bodoh tipis batasnya, susah untuk dibedakan…
Baik atau buruk bukan lagi soal standar nilai…
Bukan lagi tentang tatanan moral…
Hanya masalah persepsi dan perspektif…
Tergantung sudut pandangnya…
Maling dilingkungan maling, belum tentu buruk…
Alim dilingkungan maling, mungkin bukan sosok yang baik…
Yang baik adalah siapa yang sama dengan kita, lebih2 yang mendukung kita…
Yang buruk adalah yang berbeda dengan kita, lebih2 yang mengkritisi kita…
Yang tersisa hanyalah persepsi dan perspektif…

Monday, November 5, 2018

Berlayar

Kulayari samodra ini entah sampai kapan...
Kapalku kubawa keujung jauh disana...
Kujaga arahnya meski angin dan ombak menerpa...
Barisan karang tajam bagaikan iri turut menghadang...
Tak mudah mengendalikan...
Memang, ku tak sendiri menebar layar...
Bersama jurumudiku kukendalikan bahtera...
Dibantu kelasi ringankan beban...
Komando kujalankan, perintah kuberikan...
Dengan harapan jalurnya tetap terjaga...

Namun segalanya tidak selalu mudah...
Banyak mau yang aku ingin...
Tak selalu inginku adalah maunya...
Itulah pernak pernik indahnya...
Disini dewasaku disemai...
Disitulah sabarku diuji...

Lima belas tahun bahtera kami berlayar...
Banyak tempat kami labuhi...
Banyak harapan kuraih bersama...
Bahagia, sedih, gembira, kecewa silih berganti mengakrabi...

Tempat tujuku masih sangat jauh didepan...
Asa, kami bentang luas didepan…
Harap kami sama, menatap hidup lebih optimis…
Cita-cita kami teguh, membawa bahtera ini untuk terus berlayar...
Berlayar dengan segenap hati kami...

Balikpapan, malam sebelum tidur 8 Juni 2009
”Kudedikasikan untuk kebersamaan kami yang telah menempuh ujian selama 15 tahun, 9 Juni 1994 – 9 Juni 2009”

Paradoks Kehidupan Beragama

Kita sadari bahwa diri kita sebagai manusia harus terjadi proses balancing antara kehidupan sosial kita dengan kehidupan beragama, sehingga kesadaran beragama kita akan menciptakan resultante positif berupa kesalehan sosial, yang diwujudkan dalam kehidupan sosial yang bermoral. Tentunya kita harapkan bahwa Kesadaran Beragama dengan kesalehan sosial menjadi pondasi iman dan takwa, kebesaran jiwa, kebersihan nurani, sehingga dapat melahirkan pandangan optimis dalam menatap masa depan.

Saat ini banyak symptom yang kita lihat bahwa kesadaran beragama telah kehilangan sukma transformatifnya, beragama hanya sebagai alat pencitraan diri. Banyak kamuflase semarak ritual beragama, ada yang melakukan repetitif ibadah haji, namun dalam kesempatan lain melakukan hal yang tidak seharusnya dilakukan oleh seorang yang beriman, ada yang dalam kehidupan sehari2 tidak mencerminkan kehidupan seorang muslimah yang baik, tiba2 dalam bulan suci ramadhan berperilaku santun sebagai mana muslimah yang baik. Paradoks kehidupan beragama seperti ini sudah sangat jamak kita lihat disekitar kita.

Hal ini terjadi karena kehidupan beragama berada pada ruang yang exclusive, terpisah dari kehidupan sosial, kesadaran beragama berada diluar tindakan praktis. Disini terjadi kekacauan konseptual dalam mempertalikan peribadatan agama dengan tindakan praktis. Ritualitas agama bermakna hampa, hanyalah sebagai pemenuhan terhadap tuntutan yang bersifat legalistik formal. Selalu berpijak pada tataran pemikiran kalkulatif dan matematis menurut takaran pragmatisme dan materialisme.

Marilah dengan sekuat tenaga kita lakukan balancing dalam hidup ini sehingga kesadaran beragama kita dapat mewujudkan kesalehan sosial....Amin

april 19, 2009

Aku, Iblis & Malaikat

Aku ini manusia...
Bukan Iblis, bukan pula malaikat...
Maka, aku berupaya menjadi sejatinya manusia...
Tidak gampang memang, namun juga tidak susah...
Kita tahu, mana sifat manusia, mana sifat iblis, dan juga sifat malaikat...
Namun terkadang, kita tidak tahu atau tidak mau tahu, bahkan pura2 tidak tahu...
Oleh manusia lain, manusia kadang terlihat seperti iblis...
Namun adakalanya terlihat bak malaikat...
Namun sejatinya kita tidak pernah tahu, lebih menyerupai yang mana...
Hanya mereka saja dan Tuhannya yang tahu, lebih mirip yang mana dirinya...
Tipis memang bedanya...
Di dunia ini tak ada yang putih sekali ataupun yang benar2 hitam...
Yang ada hanyalah abu2...
Abu2 kehitaman atau abu2 keputihan...
Semua bergantung kepada diri kita...
Akan kita geser kearah mana warna hati kita...
Putihkah, atau hitamkah ?...
Wallahualam...

June, 2009

Cinta

Cintailah yang harus kau cinta
Cintailah yang perlu kau cinta
Cintailah yang ingin kau cinta

Cinta adalah keniscayaan
Cinta tak bisa direncanakan
Cinta mulia tak terkirakan

Cinta akan membuatmu bergairah
Cinta akan membuatmu bersemangat
Cinta akan membuatmu penuh harapan

Mencintai adalah naluri
Dicintai adalah karunia
Saling mencinta adalah takdir

Cintaku kan kubalut dengan sayang
Cintaku kan kupendam dalam hati
Cintaku kan kubawa sampai mati

Hidup tak kan berarti tanpa cinta

Balikpapan, tengah malam, 30 Mei 2009

Tuesday, October 30, 2018

It's a Simple Words Means Alots

It’s a simple words, means alots. Kalimat penyemangat, yang dapat menginspirasi, santapan qolbu, datangnya bisa dari mana saja, dari tukang sayur sampai orang besar, dari obrolan warung kopi sampai seminar di hotel bintang, dari yang paling sederhana sampai teori management yang paling rumit.

Orang biasa kayak kita ini, ehh…maaf, maksudku kayak saya ini, perlu referensi atau panutan, karena belum mampu menelorkan teori atau menginspirasi orang lain. Referensi itu bisa berupa nasihat, suatu hal yang bisa menginspirasi kita, sehingga mampu men-triger kita untuk melakukan hal-hal yang baik, dan bahkan cenderung kreatif dan produktif. Seperti halnya minggu lalu, di televisi ada obrolan BOB Sadino, yang temanya mungkin sangat remeh, namun dibaliknya ada pelajaran yang bagi orang biasa kayak saya ini menjadi suatu energy daya dorong terhadap pikir dan asa.

Banyak orang terbelenggu daya pikirnya, hilang daya khayalnya, dikarenakan oleh diri mereka sendiri. Seorang piyayi atau kawula ningrat, tentunya akan sangat berat kalau harus bepergian naik becak, meskipun secara material dia tidak mampu, dia lebih memilih naik taksi, meskipun mungkin ongkos taksinya akan menyita biaya belanja satu hari. Seorang sarjana, hampir pasti malu jika menjalani profesi loper koran, meskipun dia pada saat itu menyandang gelar “pengangguran”. Banyak orang menghargai diri mereka terlalu tinggi, sehingga menganggap banyak hal produktif yang dapat dilakukan hanya pantas dilakukan oleh orang tertentu dan bukan oleh mereka, akhirnya hanya “Nol Besar” yang mereka peroleh. Mereka tidak sadar bahwa untuk menjadi “BISA” diperlukan belajar, dan belajar bisa dimulai dari “MENCOBA”, mencoba hal-hal kecil, mencoba hal-hal yang dilakukan oleh orang-orang yang berada “di bawah strata mereka”.

Di dalam kehidupan ini tidak ada “kesuksesan yang terus menerus”, kita harus yakin dengan teori ini, dan sebaliknya juga berlaku bahwa tidak ada dalam kehidupan ini, “kegagalan yang terus menerus”, pasti ada selang-selingnya, diantara sukses ada gagal, dan sebaliknya diantara gagal pasti ada sukses. Maka kita harus yakin dengan kegagalan kita, gagal adalah a step among the long journey, yang bisa terjadi di depan, di belakang, maupun ditengah, dan most of them, happen in the beginning. Terkadang terbersit dalam pikir kebanyakan orang, bahwa seseorang kaya karena beruntung dilahirkan dari bapak yang kaya, bahwa seseorang menjadi berkuasa karena beruntung merupakan anak raja, dan seterusnya dan seterusnya. Apabila kita berpikir dengan logika begini, maka sama halnya dengan kita mengatakan “Tuhan Maha Tidak Adil”, menjadikan sekelompok tertentu menjadi kaya, pandai, bekuasa, sementara sebagian yang lain menjadi miskin, bodoh dan tertindas. Padahal dalam do’a kita senantiasa mengatakan Tuhan Maha Adil, pengingkaran macam apa ini?.

Semua yang terjadi di dunia ini hanyalah obyek atau akibat, sedangkan subyeknya apa?, ya kita-kita inilah subyek atas segala sesuatu yang terjadi, ndhak ada yang namanya ”take it for granted”, semua ada biayanya, yakni ikhtiar kita. Kita perlu leveraging dalam berusaha, daya ungkit itu perlu kala kita gagal, agar semangat kita yang mulai redup kala kegagalan menghampiri dapat menyala kembali. Sekali lagi, sebelum sampai pada puncak keberhasilan, gunung kegagalan harus didaki terlebih dahulu, nah disinilah leveraging itu, bisa dari mana saja sumbernya, namun yang pasti, maknanya adalah, bagaimana kita benar-benar menyadari keberadaan ”Gunung Kegagalan” itu, sehingga kala menjumpainya, dengan cueknya terus kita daki untuk sampai pada puncak keberhasilan.

Satu lagi yang perlu kita maknai adalah, semakin besar kita berharap atau semakin besar yang kita harap, maka semakin besar pula kekecewaan kala harapan tak tergapai, agar kita tidak kecewa maka jangan berharap. He3x...setuju nggak?, perlu perenungan yang dalam. Diatas kita sudah yakin, bahwa semuanya adalah akibat, maka mengalir sajalah segala sesuatunya. Jangan jadikan harapanmu menjadi dewa yang kau puja, namun jadikanlah rencanamu menjadi haluan untuk mencapai keberhasilan. Lebih-lebih, jangan pernah menjadikan sukses sebagai tolok ukur keberhasilan, karena sukses tidak pernah terdefinisikan secara sama.

So, kerjakan selagi sempat, karena sebentar lagi kamu akan sibuk; kerjakan selagi mampu, karena sebentar lagi kamu tidak kuat lagi; kerjakan selagi ada, karena sebentar lagi kamu tidak punya. Semoga Tuhan meridhoi ikhitiar kita, dan semoga Tuhan memudahkan segala urusan kita...Amin

Surabaya, 28 September 2010

Maunya Lebih

Dalam kesadaranku & tidurku
Selalu ada hasrat yang tak terkendali
Ingin yang melebihi butuhku
Mau yang melompat dibatas perluku
Logika rasio selalu mendukung
Kata batinku selalu bimbang
Antara pantas, mendesak ataupun tamak

Apa yang hendak kau cari
Siapa yang kan engkau cukupi
Hanya memuaskan egomu kah
Kan hendak mencari keakuanmu
Alasan menafkahi anak istrimu
Membantu saudaramu yang tak mampu
Ataukah hasrat mulia mengangkat derajad
para fakir miskin, anak yatim dan janda para syuhada

Kurenungkan dalam keheninganku
Kutimbang dengan kebeningan batin
Kusaring lewat jaring halus kalbuku
Obsesiku telah melampaui asupan lahir
Juga lewat jauh diatas kedamaian batin
Logikaku tak mampu membaca gejala
Akalku sering salah menterjemahkan

Hati dan rasio sering tak sepaham
Masing2 berjalan dengan standarnya
Mata batin seringkali lebih awas
Namun logikamu jangan kau tinggalkan
Manusia arif yang tahu benar
Kapan menurut kata hati
Kapan berpikir dengan akal
Namun sulit dilakukan

Maka berlatihlah menjadi bijak
Insya Allah Tuhan menuntun langkah kita
Amin

26 Mei 2009, jam 21.10 wita, diatas awang2 pulau Kalimantan

Bekerja or Berkarir

Bekerja atau Berkarir
Maknanya bisa sama bisa tidak
Bekerja atau Berkarir
Bedanya bisa tipis bisa sangat berbeda

Akan sama maknanya apabila
Jabatan tidak kunjung melambung
Akan beda maknanya apabila
Pangkat terus meningkat

Namun semuanya bergantung
Dari sisi mana kita melihat
Dari cara pandang mana kita gunakan
Dari konsep mana yang kita pikirkan

Menjadi susah membedakan
Antara idealisme dan bodoh
Idealisme sering tidak membuahkan karir
Bodoh jelas membuat kita tetap ditempat
Terkadang malah sebaliknya
Bodoh berbuah karir dengan sebab yang jelas2 tidak jelas

Menjadi susah membedakan
Antara kalah dan ikhlas
Kalah kalau kita tidak mampu melawan
Ikhlas seolah2 terlihat seperti pasrah
Itu semua disebabkan
Cara pandang menang dan kalah

Menurut cara pandangku
Alasan kenapa kita harus bekerja
Kita bekerja sebab harus bekerja
Kita bekerja karena harga diri
Kita bekerja untuk ridho Allah
Karir adalah bonus atau ujian

June 25, 2009

Mendadak GATUTKACA

Menjadi besar tiba-tiba belum tentu baik
Sekoyong-koyong menjadi tinggi, jatuhnya akan sakit
Kita bukan Gatotkaca atau burung bangau
Kita manusia biasa yang harus berproses

Belajar pada kehidupan katak
Pantang menyerah menunggu waktu
Tak putus asa menguntai rantai hidup
Melatih sabar berganti wujud
Menggapai asa di depan sana
Waktu berudu tak mimpi menapak tanah
Saat kecebong setia berkubang air
Dikala kecil tak mimpi dipanggil katak
Untuk setia menanti waktumu tiba

Mampu berkaca pada bayangan
Merengkuh harap dalam ukuran
Tak merindu bulan dibayang
Merendam hati didalam tentram

Someday, I don't remember, when...

PathWay

Manungsa urip mono mung wenang milih dalan kan bakal diliwati...

Kang angka siji, yakuwi dalan kuning, kang werdine dalan kang kerep diliwati wong kang ngegungake akal pikire, mung ngurusi keprigelane uteg, lan akhire njur gelem dha rebut menang, cecengilan, srana perang batin...

Angka loro, dalan abang, yakuwi dalane wong kang nggedheake rasane, ngumbar lan nguja hawa nepsune...

Kaping telu, dalan ireng kang asring dienggo wira-wiri wong kang nengenake karepe, karep sing kurang mawas kahanan, adat sing uwis, yen ora klakon karepe banjur tumindak ngiwa, nubruk-nubruk...

Kang pungkasan, dalan putih, yaiku dalan kang saklumrahe diliwati para suhada, pemimpin kang wicaksana, lan wong kang ngudi kabecikan...

Inggal dipilih dalan ngendi sing mbok antepi...

June 09, 2009

Yang Tidak Mungkin Itu Normal, Karena Hanya Seolah-olah


Kehidupan ini diciptakan Tuhan dengan keaneka ragaman yang berwarna-warni, didukung fakta bahwa manusia diciptakan dengan akal dan nafsunya. Tidak perlu kaget dengan kejanggalan yang terjadi didepan mata kita, itu karena kita masih belum mampu memahami dari perspektif manusia yang menjadi sebab sesuatu  itu terjadi. Termasuk ironi-ironi yang menurut nilai-nilai kita adalah suatu hal yang mustahil, dan faktanya terjadi.

On the way Malang-Surabaya, rutinitas yang harus saya jalani setiap senin pagi, termasuk rutinitas mendengarkan radio FM 100MHz Suara Surabaya, sejak roda depan mobil menyentuh aspal Lawang, karena di daerah tersebutlah suara penyiar SS FM mulai terdengar jelas di radio saya. Kata si penyiar, seorang kader partai politik besar, dengan jabatan tinggi dalam partai itu, menyampaikan bahwa “Kalau politik uang sudah bicara, maka rusaklah tatanan negara ini” begitulah kurang lebihnya yang dia sampaikan. “Loh...apa gak salah nih”, menyampaikan aib yang selama ini mereka lakukan, melakukan segala cara, termasuk dengan uang, untuk menggapai tujuan politiknya. Parahnya lagi, saat ini tokoh penting dari kelompoknya lagi gencar-gencarnya menghamburkan uangnya untuk mencapai ambisi pribadi, melebihi kepentingan kelompoknya, apalagi kemaslahatan umat manusia Indonesia. “Sangat Ironis” itulah yang ada dalam benak kita manusia “sehat”.


Seperti yang saya sampaikan tadi, “Aja sok gumunan, aja sok kagetan”, itulah dunia. Di Departemen Agama, terjadi tindakan menguntungkan diri pribadi pada kegiatan pengadaan Kitab Suci Al-qur’an, oleh pejabat tinggi departemen tersebut. Pemikiran normal, tentulah tidak mungkin departemen yang mengurusi tata kelola kehidupan beragama di negri ini, yang seharusnya memberikan rekomendasi atau endorsement atas kebaikan, malah berbuat sebaliknya. Tidak mungkin seorang pejabat tinggi dari departemen agama yang seharusnya secara alamiah sudah terseleksi baik, dan harus menjadi tauladan baik, berbuat sebaliknya. Dan juga tidak akan mungkin orang dari kumpulan “Golongan Baik”, yang seharusnya sudah terseleksi alam, dan mungkin sangat memahami ajaran Al-Qur’an tega melakukan manipulasi terkait dengan Kitab Al-qur’an yang nota bene adalah kitab suci dari beliefe yang dia anut. Apakah Al-qur’an sudah tidak lagi ditakuti?...memang hanya kepada Allah Swt. Saja kita harus takut, Al-qur’an hanya berisi wahyu Allah yang wajib dipahami agar kita menjadi takut kepada Allah. Logika yang menurut cara berpikir “manusia normal” tidak akan terjadi, tapi terjadi.


Alasan kenapa “Ironi” itu terjadi adalah karena kita tidak berani “jujur”, jujur dengan orang lain maupun jujur dengan diri kita sendiri.


Semua ironi itu semoga menjadi pembelajaran kita agar menjadi orang yang lebih sabar dan berpikir positif. “Manusia jahat itu bukan berarti dia tidak mau melakukan kebaikan, hanya belum mengerti bagaimana caranya”. Untuk itu tugas kita untuk senantiasa menyerukan kebaikan dan mengajak melakukan kebaikan, sehingga dapat menjadi pengingat kepada saudara kita yang sekarang masih “jahat”. Dan jangan lupa bahwa, yang merasa menjadi manusia “baik”, pasti punya banyak sisi jahat, yang harus terus menerus diperbaiki.


Bagi yang tidak mampu ber-tablig secara lisan, marilah menjaga diri untuk senantiasa berbuat baik, agar dapat menginspirasi saudara kita yang belum mengerti cara berbuat baik.



Surabaya, 30 Juli 2012.


resep donat empuk ala dunkin donut resep kue cubit coklat enak dan sederhana resep donat kentang empuk lembut dan enak resep es krim goreng coklat kriuk mudah dan sederhana resep es krim coklat lembut resep bolu karamel panggang sarang semut