Showing posts with label Trekking. Show all posts
Showing posts with label Trekking. Show all posts

Wednesday, September 23, 2020

CYTREK KEDUNG DARMO BANTUR

Mungkin banyak yang belum familiar dengan “KEDUNG DARMO”, meskipun warga kota Malang sekalipun, karena memang tempatnya nun jauh di Kecamatan Bantur Kabupaten Malang, dan juga akses ke lokasi kedung (waduk kecil) perlu effort lebih. Jika sobat alam googling, maka akan nampak foto yang sangat indah, dengan kolam ditengah2 sungai yang bertingkat tingkat dengan air mengalir bak air terjun meskipun hanya pendek saja, kurang dari 3 meter. Kedung Darmo adalah tampungan pertemuan aliran 2 sungai di desa Srigonco. Saat musim kemarau air dalam kedung sangat jernih, sebaliknya saat musim hujan menjadi keruh karena pengaruh derasnya aliran air. Kita bisa berenang di Kedung dengan nyaman karena airnya yang jernih, ditambah pahatan alam batu cadas diseklilingnya yang menanjubkan.

Dimusim pandemi ini banyak tempat wisata alam yang ditutup untuk sementara waktu karena harus menjalankan protocol kesehatan, social distancing yakni tidak boleh membuat/menimbulkan kerumunan masa dalam jumlah besar, juga mencegah orang asing memasuki wilayah tertentu karena bisa jadi adalah carrier yang dapat menyebarkan virus di daerah tertentu. Karena situasi tersebut, kami berempat saya pakWe, mas Insan, pak Anang dan pak Hariadi, mencoba melakukan eksplorasi asal aliran sungai yang terperangkap di Kedung Darmo, yang secara protocol kesehatan aman.

Dari Malang kami berangkat sekitar pukul 06.15 menuju Pagak, karena kami sudah merencanakan lebih memilih rute kampung pedesaan,kebun tebu dan persawahan daripada harus lewat jalan raya bersaing dengan kendaraan yang bermesin “motor bakar”, disamping keuntungan mendapatkan udara segar tanpa polusi dan pemandangan indah sepanjang perjalanan juga aman dari resiko disambar kendaran berkecepatan tinggi. Kami tiba di kantor Telkom Pagak sebagai titik start kurang lebih pukul 7.45. Perjalanan menuju bantur menempuh jarak sekitar 14 Km, ditambah 4 Km menuju rumah penduduk terakhir sebelum kami menyusuri sungai. Sepanjang perjalanan rute ini terdiri dari separuh makadam dan sisanya jalan aspal halus, melalui kampung perumahan penduduk, kebun tebu dan persawahan seperti yang sudah disampaikan sebelumnya, kontur jalannya naik turun, meskipun secara overall jika di observasi melalui  google maps nampak jalannya menurun. Dengan stamina yang masih fit, kami dapat melibas rute ini dengan lancar dan tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai di desa Bantur, waktu yang kami butuhkan kurang lebih 35 menit saja, baru setelahnya diperlukan waktu yang agak panjang menuju desa Srigonco, karena harus melakukan explorasi untuk menemukan titik dimana kami bisa turun ke sungai. Dari SMPN 1 Bantur kami terus saja menyusuri jalan Raya Bantur arah Donomulyo, ketika sampai di pertigaan arah Pantai Balekambang atau Pantai Ngliyep ambil jalan yang kearah Pantai Balekambang, dari pertigaan tersebut kurang lebih 600 m belok kiri, ikuti jalan tersebut sampai melewati jalan cor beton kurang lebih 1 Km sampai ketemu rumah terakhir. Kami menitipkan sepeda di rumah  tersebut, selanjutnya blakrak-an dilanjut dengan trekking membelah semak belukar diantara pohon-pohon sengon yang tertanam di perengan menuju dasar sungai (entah sungai apa namanya kami tak tahu persis, namun orang sekitarnya menyebut sungai Gading), sampai akhirnya kami mencapai sungai dibawah. Badan sungai cukup lebar namun airnya tidak banyak, dasar sungainya adalah batu-batu padas yang bentuknya tidak beraturan dengan beberapa cekungan yang dapat menjebak aliran air dan mejadikannya kolam2 kecil yang bening airnya, kondisi seperti ini membuat pemandangan nampak sangat elok, karena kita jarang menjumpainya. Kami terus menyusuri sungai menuju kebawah lokasi Kedung Darmo, yang terkadang harus bersusah panyah untuk melewati kolam air yang menempati seluruh badan sungai sehingga tidak menyisakan batu pijakan untuk kami melewatinya tanpa harus berbasah-basah, namun dengan bantuan bambu panjang yang banyak tergeletak disekitar sungai kami dapat juga melewatinya meskipun dengan resiko terjatuh kedalam kolam cekungan sungai yang dalamnya mencapai 3 meter tersebut, dan benar saja salah satu dari kami, yakni pak Anang terpeleset dan jatuh kedalam kolam sehingga seluruh pakaian dan backpack-nya basah kuyup, beruntung pak Anang mampu segera naik dengan cepat keatas, sehingga HP dalam kantongnya masih terselamatkan dan berfungsi normal. Sepanjang menyusuri sungai kami menemukan 4 kolam cekungan yang cukup besar, kolam ke-2, ke-3, ke-4 terhubung air terjun kecil karena memang letaknya berdempetan, namun jika kami terjun ke kolam ke-4, akan kesulitan untuk naiknya, sehingga kami memutuskan untuk berhenti di kolam ke-3, dam kami mandi berenang di kolam ke-2 dan ke-3 saja, meskipun kebawah menuju kedung Darmo masih terdapat 5 kolam lagi. Trekking menyusuri sungai yang kami lakukan tidak jauh hanya berjarak kurang dari 1 km. Kurang lebih 2 jam kami menghabiskan waktu untuk bermain-main disini, menikmati jernihnya air kali yang terjebak di cekungan yang sangat dalam, bak si Bolang kecil yang riang bermain-main air di kali, gak ingat kalau sudah above fifty, he3x.

Setelah makan siang, puas berenang dan menunaikan dhuhur, kami balik menuju sepedah kami, dan masih harus melalui jalan setapak naik cukup extreem menerobos semak belukar yang sangat melelahkan, karena setamina terkuras habis setelah berenang. Tidak seperti saat berangkat, perjalanan pulang cukup menyiksa, dengan sisa-sisa tenaga harus melibas jalan naik turun yang tiada habis, terutama anggota termuda mas Insan yang seperti biasanya selalu tercecer dibelakang, namun kali ini saya terus ikuti dari belakang agar tidak sering-sering berhenti beristirahat, karena hari sudah sore. Setelah melewati periode waktu 2 jam 49 menit akhirnya kami sampai juga di homebase kantor Telkom Pagak.

Masih ada plan “remedy” rute ini di benak saya, karena belum menuntaskan 9 kolam kali gading sampai kedung Darmo. Namun tetep saja kami merasa puas, meskipun hanya mendapat 4 kolam saja, “there is still a chance for the other 5 ponds”.

Salam 2rodaMTB

Monday, September 14, 2020

PENDAKIAN GUNUNG WELIRANG VIA KALIANDRA

Gunung Welirang adalah salah satu gunung berapi aktif, yang berada di 3 wilayah Pemerintahan Daerah Tingkat II Kota Batu, Kabupaten Pasuruan dan Kabupaten Mojokerto. Dalam satu garis lurus dari Utara keselatan berjajar 4 puncak dengan ketinggian diatas 3.000 mdpl, dengan urutan Puncak Welirang, Puncak Kembar 1, Puncak Kembar 2, dan Puncak Ogal-Agil gunung Arjuna, dan disebelah timur ada Gunung Ringgit yang berada di sebelah kanan track pendakian Arjuna-Welirang dari Kaliandra dan disebelah kiri rute pendakian via Tretes. Komplek pegunungan tersebut dibawah pengelolaan Taman Hutan Raya (TAHURA) Raden Soerjo, juga komplek pegunungan Anjasmoro dan teman2nya yang terbentang sampai jombang dan mojokerto berada dalam pengendalian Tahura R. Soerjo, didalamnya didominasi oleh jenis vegetasi hutan alam cemara, vegetasi hutan hujan pegunungan dan padang rumput. Selain puncak Gunung, obyek wisata yang dapat dinikmati di kawasan Tahura R. Soerjo adalah Arboretum Sumber Brantas (asal mula sumber mata air kali Brantas), Pemandian air panas Cangar, Beberapa Air terjun (Coban Putuk Truno, Coban Watu Ondo, Coban Watu Lumpang, dll), pertapaan Indrokilo, puncak watu Jengger dan masih banyak lagi obyek wisata yang bisa dinikmati dikawasan ini.

Dipilihnya Gunung Welirang kali ini adalah karena puncaknya merupakan salah satu puncak di Pulau Jawa dengan ketinggian diatas 3.000 mdpl, atau sudah masuk kelas elite 3.000-an...he3x. Terdapat 2  jalur yang biasa diambil para pendaki untuk mencapai puncak welirang, yaitu jalur Cangar/ Sumber Brantas dan jalur Tretes/ Prigen, jalur Cangar relatif lebih pendek jaraknya dibanding jalur Tretes, karena start pendakian jalur Cangar berada di ketinggian 1.700-an mdpl, sementara di jalur Tretes kita mulai pendakian dari ketinggian 800-an mdpl. Disamping kedua jalur tersebut, kita juga bisa melalui jalur tak resmi rute Kaliandra/ Taman Safari, jalur ini sebenarnya untuk akses pendakian Gunung Arjuna, dimana biasanya nge-camp di Lembah Kidang sebelum summit attack, namun karena jarak Lembah Kidang ke Pos 3 Welirang (Pondokan) hanya 30 menit perjalanan, maka jalur ini juga sangat ideal untuk mencapai puncak Welirang, disamping kita juga mendapat bonus keindahan lembah Kidang, dan untuk pendaki yang ingin menaklukkan Puncak Welirang dan Arjuna secara berurutan maka lembah kidang adalah base camp paling ideal. Namun sayangnya, meskipun rute Kaliandra ini termasuk rute pendek, namun track yang ditawarkan sungguh menyiksa lutut, karena medannya sangat terjal berupa batu berundak.

Tidak seperti pengalaman Tek-Tok Lembah kidang dari Kaliandra (Kawasan Wisata Jendela Langit) yang sudah pernah saya lakukan sebelumnya, dimana backpack kita kurang lebih hanya 3kg saja, namun kali ini pundak, pinggang, dan kaki ini dibebani carrier dengan beban 13Kg, baru seperempat perjalanan rasa-rasanya kaki ini tak akan bisa menginjak lembah kidang, namun karena semangat pantang menyerah, sampai juga kami ke Lembah Kidang, dengan catatan bahwa ditengah perjalanan beban carrier saya 1.5 kg pindah ke pundak PakDhe. Jika sebelumnya dengan sangat santai kami membutuhkan waktu kurang dari 6 jam untuk sampai di lembah Kidang, maka kali ini kami sampai harus butuh waktu lebih dari 7 jam. Cerita perjalanan Jendela Langit -  Lembah Kidang tidak perlu saya kupas pada tulisan kali ini, sobat dapat check pada tulisan saya sebelumnya “Trekking Lembah Kidang Lereng Arjuna”. Pada kesempatan kali ini saya akan ulas trekking dari lembah kidang menuju puncak Welirang 3.156 mdpl.

Kondisi cuaca di lembah Kidang sangat cerah, bulan pucat sudah terlihat sejak kami sampai di area camp, namun saat kami mendirikan tenda tiba-tiba saja tetesan air yang cukup rapat jatuh menerpa kami, kerena datangnya kabut yang tiba-tiba, dan uap airnya mengembun menetes bagai hujan, namun tidak berlangsung lama dan segera berhenti berganti dengan udara yang sangat cerah. Yang paling menyenangkan saat berkemah di Lembah kidang adalah adanya sumber air, meskipun kecil namun terus mengalir, sehingga kita tidak perlu susah membawa air bersih dari bawah, kemudian untuk kebelakang kita bisa membersihkan diri dengan air karena tidak semua orang bisa membersihkan diri dengan tissue selesai BAB, juga kita bisa membersihkan badan selepas berpeluh2 sehingga saat tidur ditenda menjadi nyaman. Untuk membuat api unggun saat malam hari, material tersedia melimpah, mulai dari trigger pembakaran dari daun cemara kering dan bahan utamanya kulit kayu pohon cemara yang mengelupas sangat mudah didapatkan berserakan dibawah pohon-pohon cemara. Sepanjang malam kami berkemah cuaca sangat cerah, tiada kabut turun sedikitpun, bulan meskipun tidak penuh, bersinar dengan sangat terang sehingga dapat menyinari area lembah kidang dengan baik. Suasana hening, ditengah hutan, di ketinggian, saat terang bulan malam minggu hanya kami nikmati  bertiga saja, MB, pakDhe, dan saya sendiri....mahal harganya masbro mbaksis, sangat langka untuk bisa mendapatkan yang seperti ini. Setelah api unggun menyala, disamping memberikan kehangatan, juga mengambil alih peran kompor yang kita bawa, kami masak dengan sumber panas dari bara api unggun. Setelah menikmati santap malam dibawah sinar bulan, dan menikmati suasana lembah Kidang di malam hari, akhirnya kami merebahkan badan di tenda untuk persiapan summit attack Welirang keesokan harinya.

Pada hari Minggu keesokan hari, setelah selesai sarapan dan merapikan tenda, kami berangkat memulai summit attack pada pukul 6.50. Dari lembah kidang ke Pos 3 Jalur Tretes atau yang dikenal dengan Pondokan (lokasi shelter penambang belerang), adalah jalan setapak datar yang cukup rimbun semak belukarnya, kami membutuhkan waktu sekitar 25 menit untuk sampai di Pondokan. Bagi rekan2 yang dari jalur Tretes biasanya nge-camp di area Pondokan, terdapat sumber air di lokasi ini meskipun tempatnya agak kotor. Diawali dengan jalan makadam yang cukup lebar, yang akhirnya menyempit berupa jalan tanah dan langsung menanjak gigi 1. Jalan tanah ini cukup panjang sampai akhirnya kami jumpai jalan dari bongkahan batu2 besar berserakan yang di beberapa ruas cukup sulit dilalui. Sampai kami di hutan cemara yang cukup indah dengan jalan setapak tanah ditengahnya, dari sini kita bisa melihat puncak Welirang dengan jelas. Track terus menanjak menyusuri sisi utara  lereng Gunung Kembar 1, setelah itu melintas di area yang cukup lapang untuk menyeberang ke lereng Welirang sisi selatan untuk kemudian memutari sampai pada sisi arah barat daya, dari sini kami mendapat line of sight kearah Sumber Brantas Batu, bumi pertanian BrakSeng sangat elok dilihat dari ketinggian, nampak juga kepulan uap air sumber air panas Cangar. Kemudian kami berbelok arah untuk naik menuju puncak. Akhirnya puncak Welirang tergapai kaki kami, ada banyak puncak diatas, kami menjejaki 2 puncaknya disebelah timur dan di sebelah selatan. Seperti kebanyakan puncak gunung berapi, puncaknya sangat gersang, dibumbui dengan asap belerang yang cukup menyengat dan angin yang bertiup sangat kencang. Dari puncak Welirang, sejauh mata memandang kita dapat melihat gunung-gunung disekitarnya, yang paling dekat di arah selatan sedikit ke timur, segaris lurus secara berurutan Kembar 1, Kembar 2, dan Puncak Ogal-Agil yang paling jauh nampak dengan jelas, bergeser sedikit lagi persis arah tenggara nampak puncak Mahameru terlihat menyembul diantara awan putih di kejauhan, kemudian di arah utara agak ketimur nampak Gunung Penanggungan menjulang didampingi gunung Bekel disebelah kanannya, sementara disebelah barat gugusan gunung Anjasmoro dan kawan-kawannya. Setelah puas menikmati ketinggian puncal Welirang, kami segera turun.



Pendakian Puncak welirang start dari lembah kidang membutuhkan waktu kurang lebih 3.5 jam dengan jarak tempuh sekitar 6 Km, sementara untuk turun sampai kembali ke Lembah Kidang kami butuh waktu sekitar 2.5 Jam, kira-kira pukul 13.00 kami sudah berada kembali di kemah kami. Rencana turun jam 14.00, ternyata tidak terlaksana, mengingat kondisi tubuh sudah sangat lelah, siksaan sebenarnya bukan hari ini, namun terjadi kemarin saat memanggul carrier dari Jendela Langit menuju Lembah Kidang. Karena terlena istirahat yang kebablasan, kami turun dari lembah kidang pukul 16.30.

Karena sudah prepare dengan perjalanan malam, kami sengaja memulai perjalanan dengan santai, menikmati suasana senja di pegunungan, dengan suasana yang berbeda tentunya. Meskipun sinar bulan mengiringi perjalan kami, namun kami sudah harus menyalakan senter sebelum sampai di MPS, karena jalan setapak kami sudah tak nampak jelas. Selepas MPS  kami harus extra hati-hati, mengingat track batu berundak sangat curam, ditambah tingkat kelelahan yang cukup parah, yang mempengaruhi keseimbangan kami, beberapa kali kami harus berhenti beristirahat di kegelapan, namun dengan bonus menikmati kerlap-kerlip lampu Prigen, Pandaan,dan kota disekitarnya, yang nampak Indah dan tentunya pemandangan seperti ini sangat langka bagi kami. Salut untuk pakDhe rekan yang paling senior, namun staminanya paling tangguh diantara kami, yang rela membawa beban paling berat. Sesampainya di pipa besar diatas niagara Gumandar, ibarat air ledeng stamina kami tidak lagi mengucur namun jatuh stetes demi stetes yang menggambarkan kelelahan yang sangat. Dengan kondisi lutut rekan MB yang terasa nyeri, maka semakin menahan laju langkah kami. Dari kejauhan kami sempat melihat penjaga parkir di Kawasan Wisata Jendela Langit memberikan kode arah dengan menyorotkan kedip lampu yang cukup terang, kamipun membalasnya menandakan kami masih dalam arah track yang benar, mereka memberikan kode mungkin karena khawatir kami tersesat, karena 2 minggu sebelumnya ada pasangan suami istri yang tersesat saat turun malam ketika trekking ke lembah Kidang, bahkan sampai harus dijemput keatas oleh penjaga parkir Jendela Langit. Alhamdulillah, puji syukur Yaa Allah, setelah kurang lebih 5 jam, kami sampai di area parkir mobil tepat pukul 21.30.

Sesampainya dibawah kami mendapati penjaga parkir masih terjaga, sempat beberapa saat kami ngobrol sambil melepas lelah, sebelum menginjak tuas gas untuk mengantarkan kami menuju Malang. Kira-kira pukul 23.00 kami sampai kembali di Malang dengan selamat, kami berpisah di jalan Ahmad Yani, saya langsung pulang menuju rumah, sementara pakDhe dan MB kearah Sawojajar. Seberat apapun yang telah kami lalui, tidak akan pernah menyurutkan semangat kami untuk melakukan hal yang sama pada kesempatan yang akan datang. Di ketinggian lereng dan puncak gunung, di sela-sela rerimbunan hijaunya daun pepohonan hutan, di tengah padang sabana, desiran angin yang menerpa dedaunan hingga suaranya terdengar syahdu di telinga juga hembusannya lebut membelai tubuh kita, dan suasana hening yang semuanya membangkitkan kedamaian yang tiada tara.

Tuhan telah menciptakan Indonesiaku dengan sangat indah, akan sangat bersalah jika kita tak mau menikmati karunia ini.

Akhirnya, Salam 3AngleTOP






Tuesday, August 11, 2020

TREKKING LEMBAH KIDANG LERENG ARJUNA

Lembah kidang adalah salah satu spot yang sangat indah pada jalur pendakian Gunung Arjuna via Taman Safari/ Kaliandra atau rute Tretes/ Kakekbodo, padang rumput yang luas dikelilingi oleh hutan cemara membuat lokasi ini terlindung dari angin sehingga pas banget untuk nge-camp. Berada di ketinggian 2.500 mdpl, posisinya kira-kira berada ditengah-tengah Segitiga Welirang – Ringgit – Arjuna, dan dari lokasi ini puncak Ogal-Agil terlihat sangat jelas di arah selatan, yang seolah-olah tersenyum mengejek kita, “apakah mampu menjejakkan kaki di puncaknya”, karena dalam jarak line of site kurang lebih 1.500 meter puncak Ogal-Agil terlihat menjulang ke awan, pasti sangat berat jalur pendakian rute ini.

Aktifitas trekking-ku ternyata sekarang sudah mengalahkan rutinitas offroad cycling karena ada “keasyikan” baru didalamnya, itung-itung ngurangi traffic load, karena sejak pandemi euforia bersepeda sudah menjadi trend. Kali ini kami bertiga mencoba trekking menuju Lembah Kidang, start dari Taman Jendela Langit di Kaliandra. Di awal benak kami, rute ini tidak akan terlalu berat, karena dari informasi yang saya dapatkan dari banyak tulisan blog sobat pendaki, pendakian Gunung Arjuna jalur Lawang/ Kebun Teh Wonosari adalah yang paling berat, namun ternyata jalur ini bisa membuat kapok yang pernah melaluinya, karena sepanjang track-nya tak ada ruas yang datar, sepanjang jalur kurang lebih 6.5 Km adalah tanjakan, bahkan banyak diantaranya track bebatuan yang sangat terjal. Sebenarnya target utama kami bukan lembah Kidang, namun batasan waktu trekking sampai dengan pukul 14.00, dan segera setelah itu turun kembali, karena tidak ingin kejadian kemalaman di gunung seperti terjadi di Gunung Anjasmoro terulang kembali.

Trekking Start Point dimulai dari Taman Jendela Langit. Perlu sobat pendaki ketahui bahwa untuk mencapai lokasi ini, bagi yang berangkat dari surabaya bisa melalui jalan Indrokilo, setelah keluar dari pintu TOL Pandaan menuju malang, kurang lebih 850 meter belok kanan (jika belok kiri ke Rawon Jetak), ikuti saja jalan Indrokilo sepanjang 6.5 km, jika ada petunjuk arah Talu Nongko ikuti saja, sebelum SDN Dayurejo III belok kanan, ikuti jalan ini sampai ke lokasi Taman Jendela Langit. Sedangkan yang dari Malang, bisa melalui akses menuju Taman Safari. Ruas jalan terakhir menuju Taman Jendela Langit sepanjang kurang lebih 2.5 km adalah jalan makadam sempit menanjak dengan batu-batu yang tertata sangat kasar, sehingga laju mobil harus sangat pelan dijalur ini. Tempat parkirnya dijaga 24 jam, sehingga saat Jalur Pendakian sudah dibuka kembali para pendaki bisa melalui jalur ini tanpa khawatir harus menyimpan mobil dimana. Bagi yang khawatir mobilnya tidak mampu menanjak di jalan makadam kasar, bisa memilih parkir di rest area bawah, disini sudah ada ojek motor maupun ojek mobil, atau jika tidak ingin keluar tambahan ongkos ojek, maka harus berjalan sepanjang 2.5 km menuju Taman Jendela Langit.

Setelah titip2 mobil ke panjaga parkir, pukul 7.45 kami bertiga mulai trekking dari ketinggian 1.100-an mdpl. Track awal adalah makadam yang masih landai, setelah 5 menit perjalanan baru kita jumpai tanjakan di jalan setapak yang lumayan membuat nafas cepat terengah-engah. Sampai kali batu tempat aliran air terjun Gumandar, jalannya naik terjal dengan track berbatu. Untuk diketahui bahwa air terjun gumandar saat musim kemarau tidak ada airnya sama sekali. Sobat pendaki, sebelum mencapai kali Batu Gumandar kita ikuti jalan setapak ke kanan menyeberang kali, ancer2nya adalah keberadaan 2 pohon di tengah2 rerumputan. Setelah itu jalan setapak berundak berbatu sangat terjal, setelah kurang lebih 1 jam 15 menit perjalanan maka akan kita jumpai pipa air dari besi. Untuk kebutuhan air bersih bagi masyarakat desa, secara swadaya mereka membangun instalasi pipa air untuk mengalirkan air dari sumber air diatas lembah Kidang, sehingga jalur pipa tersebut bisa menjadi panduan kita menuju lembah Kidang. Tak seperti biasanya, sejak dari bawah raut muka rekan MB tidak nampak ceria, dan terkesan menahan sesuatu dan nampak lelah, beberapa kali harus berhenti karena kelelahan. Nampaknya bukan lelah penyebab MB kurang bersemangat, ternyata sejak dari bawah sudah merasakan penderitaan karena perutnya mules. Dan akhirnya karena sudah tidak tahan lagi, dia lari ke semak-semak untuk menunaikan tugasnya, sementara kami menunggu sampai habis 2 batang rokok. Setelah akhirnya nampak MB muncul dari rimbunan semak wajahnya sudah sangat ceria, tidak seperti sebelumnya, maka trekking menjadi lebih bergairah dan berjalan lebih cepat.

Pos peristirahatan setelah Gumandar adalah Terminal MPS (Masyarakat peduli Sumber), lokasi ini ditandai dengan plakat bertuliskan “Terminal MPS 36 Jatiarjo”, terdapat balok kayu yang bisa digunakan duduk beristirahat, dan juga terdapat air bersih, keluar dari bocoran pipa air. Kami tidak lama disini, karena mengejar target sebelum pukul 14.00 harus sudah mencapai lembah Kidang. Sepanjang perjalanan kami berada di sebelah selatan lereng Gunung Ringgit, dengan track yang terus menanjak tiada akhir, yang memaksa kami beberapa kali harus berhenti untuk menurunkan heartrate yang telah mencapai angka maximal 167 bpm. Setelah melewati padang ilalang yang cukup luas, sampailah kami di Sawahan Banyu Kuning atau taman Lavender. Tipikal Area sekitar Arjuna, kabut tebal datang dan pergi dengan begitu cepat, dan saat kami sampai di Taman Lavender kabut tebal turun menyelimuti area ini, bagus sekali untuk pengambilan foto yang nampak lebih dramatic. Waktu menunjukkan sudah masuk Dhuhur, dan karena disini tidak ada sumber air, maka kami putuskan segera meneruskan perjalanan untuk mendapatkan sumber air, dan tidak sampai setengah jam perjalanan kami menemukan air bersih yang keluar dari pipa bocor, maka segera saja kami beristirahat untuk menunaikan sholat Dhuhur disini. Dari Taman Lavender ini sebetulnya kami keluar dari jalur pendakian yang ditunjukkan Maps dari aplikasi pendakian, yang arahnya menyimpang ke kiri, namun karena untuk sampai ke lembah Kidang harus mengikuti jalur pipa air, maka kami ikuti saja jalurnya. Tepat pukul 13.00 kami menjumpai area yang lumayan lapang, dimana ada batu yang bisa dipakai duduk beristirahat, sehingga kami putuskan untuk buka bekal disini, disamping itu rasa lapar sudah mengganggu perjalanan. Cita rasa makanan apapun pastinya 5x lebih maknyus dibanding dibawah, termasuk bekal makanan kami, masBro mBak Sis tak percaya...silahkan dicoba sendiri, he3x.


Alhamdulillah, setelah menempuh jarak kurang lebih 6.5 Km dalam rentang waktu hampir 6 jam, kami sampai di lembah Kidang, dan waktu menunjukkan pukul 13.55, yang artinya 2 target yang kami bidik yaitu jam 14.00 dan Lembah Kidang dapat kami penuhi keduanya pada trekking kali ini. Kami memilih tempat beristirahat yang cukup nyaman dibawah pepohonan dan menghadap ke selatan, sehingga saat rebahan di rumput yang empuk mata kami lurus menghadap puncak Ogal-Agil yang terlihat dengan sangat jelas dan cukup dekat. Penat badan ini langsung luntur terobati oleh kesunyian, keasrian, kemegahan alam ciptaan gusti Allah yang tak mungkin dapat disaingi oleh maha karya sejuta Architect-pun.


Lembah Kidang ini bisa sebagai transit untuk pendakian ke Arjuna maupun Welirang. Setelah cukup lama beristirahat dan menikmati pemandangan alam, sekaligus mengembalikan stamina, kamipun segera turun. Namun sebelum turun kami explore kurang lebih 300 meter jalur pendakian menuju Gunung Welirang, dan ternyata ada space untuk mendirikan 4 tenda, yang posisinya terlindung pepohonan Cemara, berada di depan Goa yang didalamnya terdapat air bersih yang menetes dari sela-sela bebatuan yang bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan minum, disini bisa menjadi alternatif nge-camp.


Waktu hampir menunjukkan pukul 15.15, segera saja kami balik untuk turun. Karena stamina tubuh sudah kembali fit, maka speed kami geber pakai gigi 6 dengan harapan tidak kemalaman di perjalanan. Trekking turun memang tidak terasa melelahkan, namun dengkul bener-benar menanggung beban yang sangat berat. Kami terus berpacu dengan waktu, apalagi leading trekker MB tidak pernah mengendorkan speed-nya, sehingga saya harus sedikit lari2 kecil untuk mengimbanginya. Alhasil, setelah kurang lebih 1 jam 30 menit, sesampainya kami di Terminal MPS, stamina sudah benar-benar terkuras, dan perjalanan semakin lambat, ditambah lagi sejak Terminal MPS track pendakian berbatu dan curam, diperlukan kehati-hatian untuk menuruni track ini, karena kondisi badan yang sudah letih akan sangat mudah oleng. Sangat dianjurkan untuk menggunakan bantuan Trekking Pole. Karena ritme jalan kami sudah jauh menurun, akibatnya kejadian Anjasmoro terulang kembali, kami menuruni gunung dikegelapan, untung saja salah satu dari kami, PakDhe membawa cadangan flashlight, meskipun dengan lumen yang tidak besar namun sangat membantu menerangi perjalanan kami. Sedikit saran, saat pendakian agar benar2 memperhatikan persimpanagn yang kita lalui, bila perlu catat atau difoto, dan bila perlu ditandai, karena saat turun dengan kondisi letih apalagi di kegelapan, konsentrasi kita sudah jauh menurun, yang memungkinkan bisa salah ambil jalur. Akhirnya kami sampai di Taman Jendela Langit pukul 18.00. Sekali lagi alhamdulillah, kami dapat melakukan Tek-Tok lembah Kidang dengan lancar dan selamat, setelah ngopi di Cafe Jendela Langit untuk menghangat badan dan mencegah ngatuk saat driving menuju Malang, maka segera saja kami meneruskan perjalanan pulang.


Semoga sedikit pengalaman yang kami tuangkan dalam tulisan ini bisa menjadi “share” yang bermanfaat bagi sobat alam semuanya, untuk bisa lebih mencintai alam maupun sebagai panduan untuk melakukan hal yang sama. Dan sedikit catatan kami, bekas kebakaran hutan masih terlihat jelas bekasnya, nampak batang pohon yang kulit kayunya hangus, dan yang lebih membuat sedih adalah menyaksikan pipa paralon jalur air yang gosong meleleh karena panas, tak terbayangkan betapa sedihnya masyarakat desa yang mengandalkan air darinya, alhamdulillah saat pendakian kami, sudah tergantikan dengan pipa besi yang terpasang dengan kokoh. Satu lagi catatan kecil dari trekking kali ini adalah di jalur pendakian Kaliandra ini banyak sekali sampah plastik yang tercecer, ajakan saya bagi siapapun yang benar-benar mencintai alam, jangan tinggalkan sampah non organik di gunung & hutan, seperti semboyan para pendaki, “Don’t Leave anything but FootPrint and Don’t take anything but Picture”.

Salam 3angleTOP

Saturday, July 18, 2020

PENDAKIAN GUNUNG ANJASMORO VIA CANGAR


Gunung Anjasmoro kurang begitu populer bagi para pecinta alam, tidak seperti Arjuna – Welirang – Penanggungan, meskipun letaknya berdekatan. Keberadaannya menduduki 3 wilayah daerah tingkat II, yakni Kota Batu – Kabupaten Jombang – Kabupaten Mojokerto. Akses pendakian utama adalah dari Wonosalam Jombang, atau ada juga yang menyebut pendakian via Carangwulung, di jalur pendakian ini rutenya sudah tertata rapi dengan beberapa POS interval dan petunjuk arah yang cukup jelas. Target puncak yang dituju melalui rute ini adalah Puncak Cemorosewu dengan ketinggian 2.282 mdpl. Sementara jalur alternatif lainnya adalah dari Cangar Batu, namun jarang ada pendaki yang melalui jalur ini, sehingga sulit menemukan BLOG atau VLOG tentang pendakian Anjasmoro via Cangar bagi yang ingin melihat review-nya sebelum melakukan pendakian, termasuk saya sendiri yang tidak menemukan referensi yang informatif sebagai bekal pendakian di jalur ini. Puncak Anjasmoro dari jalur ini lebih pendek dibanding puncak Cemorosewu, yakni di ketinggian 2.258 mdpl. Sebenarnya banyak puncak-puncak tersembunyi di Gunung Anjasmoro ini yang belum terjamah para pendaki, karena puncaknya seperti tusuk gigi. Tidak seperti Penanggungan, Arjuna, Welirang, Semeru yang puncaknya gersang berbatu, di puncak Anjasmoro ini masih tertutup hutan yang cukup rimbun, sehingga tidak panas terik dan nyaman untuk duduk bersantai berlama-lama.

Karena tidak ada yang mengulas secara jelas jalur pendakian via Cangar, maka seolah2 menjual  tantangan kepada kami yang wajib untuk dibayar cash. Tidak gowes tidak pula trekking, menemukan rute baru  atau paling tidak melalui rute yang belum dikenal banyak orang selalu menjadi magnet atau daya tarik yang luar biasa bagi kami. Akhirnya rencana menaklukkan Gunung Anjasmoro rute Cangar mengalahkan planning kami sebelumnya untuk summit Gunung Bekel dengan jalur melingkar.

Start pendakian dimulai dari bekas pabrik Jamur, di KM 18 jalan Raya Batu – Pacet. Memasuki komplek bekas pabrik jamur tersebut lurus saja sampai menemukan bangunan Villa Pabrik Jamur yang sepertinya sudah tidak pernah dipergunakan dalam waktu cukup lama, kemudian belok kanan kita temukan tempat lapang yang dasarnya terbuat dari semen, lurus saja kemudian belok kanan melalui jalan setapak kecil menuju semak2 (jangan ambil yang lurus). Mengikuti jalan setapak yang cukup lebar dan nyaman untuk berjalan, namun sayangnya kami terhalang pohon tumbang yang telah dipotong2 sehingga menutup jalan setapak kami. Cukup lama kami berhenti disini untuk mencari jalan setapak yang hilang. Perlu sobat pendaki ketahui bahwa semak belukar di jalur pendakian ini sangat lebat, dan menutup jalan setapak sehingga tak nampak oleh mata kita. Karena jalan setapak tidak kami temukan, maka parang yang sudah kami persiapkan dari rumah segera saja berfungsi. Pak Dhe mBeng, sebagai pembuka jalan dengan sigap mengepras setiap semak yang menghalangi jalan kami, terutama tanaman berduri yang kami menyebutnya “rendhet”. Pak Dhe terus mengepras semak belukar yang menghalangi kami sampai jalan setapak kembali kami temukan.

Meskipun jalan setapak sudah kami temukan, namun parang di tangan pak Dhe tidak berhenti untuk terus mengepras semak belukar yang menjadi penghalang jalan kami, sementara saya dan MB mengikuti dari belakang. Akibatnya perjalanan kami menjadi sangat lambat, namun sisi baiknya adalah kami tidak terlalu lelah, meskipun jalur pendakian ini kemiringannya luar biasa, menurut perkiraan saya sekitar 60 derajad. Di beberapa titik rute pendakian, kami temukan pita penanda jalur dari tali rafia yang sudah usang, dan beberapa pita plastik kuning-hitam. Kurang lebih 30 menit sejak menemukan jalan setapak yang hilang, kami kembali kehilangan jejaknya, sempat salah arah meskipun tidak begitu jauh, dan setelah melakukan observasi beberapa saat akhirnya kami temukan jalan setapak menuju atas. Tips bagi sobat pendaki, jika tiba2 kehilangan jalan, sebaiknya explore kesegala penjuru arah mata angin sejauh kira-kira 20 meter untuk menemukan kembali jalan setapak yang menghilang sepenggal. Akhirnya sampailah kami di ketinggian 2.150 mdpl, depan kami adalah jurang yang sangat terjal, kami menyebutnya puncak bayangan dari sisi Cangar.

Babak ketiga rute yang kami jalani adalah rute paling nyaman, trekking menyisir punggung gunung yang dikiri dan kanannya jurang terjal yang sangat dalam, sehingga tidak ada lagi tanjakan terjal dengan kemiringan extreme seperti dibawah. Sepanjang jalur ini kami melewati 3 tempat datar yang bisa dijadikan tempat nge-camp yang lumayan terlindung dari hembusan angin dibanding berkemah di puncak. Rute menyisir punggung Gunung Anjasmoro ini sepanjang kurang lebih 1 Km, diselingi turun lembah kecil 3 kali. Dan akhirnya pada pukul 12.50 sampailah kami di puncak Gunung Anjasmoro rute Cangar, setelah menempuh jarak kurang lebih 4 km, selama 4.5 jam. Tuntas sudah penaklukan Gunung Anjasmoro rute Cangar, yang menurut peta topografi yang berhiaskan garis hachures dari Aplikasi ViewRanger, puncaknya berada di ketinggian 2.254 mdpl.

Sayangnya kabut sangat tebal menyelimuti puncak Anjasmoro, yang muncul sejak kami sampai di ketinggian 2.100 mdpl, sehingga tak nampak gugusan gunung dan bukit yang jika cerah terlihat sangat indah. Namun begitu tetap saja kami merasa senang, berada di ketinggian dan tak ada orang lain selain kami bertiga. Setelah makan, ngopi, dan sholat, kami bersantai cukup lama, sekitar 2 jam menikmati hidup sejenak diatas awan. Akhirnya kami turun pukul 14.54.


Perjalanan turun pastinya akan sangat sulit, mengingat dibanyak lereng, kemiringannya sangat terjal. Kami lalui track yang sama dengan saat pendakian, sampai pada tanda pita terakhir yang kami jumpai, jalan setapak terus menurun, kira-kira 30 meter setelahnya tidak lagi kami temukan jalannya. Hari sudah menunjukkan pukul 16.30, dengan bantuan maps sebetulnya kami bisa memperkirakan arah dengan tepat, dan jarak ke titik start  awal pendakian juga sudah tidak terlalu jauh, ditandai dengan suara kenalpot sepeda motor di jalan sekitar pabrik jamur terdengar sangat jelas, namun tidak ada jalan setapak melainkan kearah jurang.  Cukup lama kami melakukan observasi di titik ini, naik turun pada jalur yang sama sampai 2x yang cukup melelahkan, sampai waktu sudah menunjukkan pukul 17.00. Akhirnya kami putuskan untuk menerobos semak belukar pohon paitan, dengan bantuan tongkat yang dibawa MB dan parangnya Pak Dhe, kami terus maju pantang mundur menerobos rerimbunan semak belukar. Alhamdulillah, setelah kira-kira 30 menit kami menemukan jalan setapak  yang kami lalui saat awal pendakian, perasaan lega langsung menyembul di dada kami. Kira-kira 300 meter dari titik start pendakian terdengar suara Adzan Magrib, dan setelah beberapa saat dari berakhirnya adzan Magrib sampailah kami dititk start pendakian.

Untuk pendakian lewat jalur ini, sangat disarankan menggunakan sepatu trekking, bukan sekedar sneakers, karena kemiringan track pendakian yang sangat terjal sehingga saat turun akan sangat sulit bagi siapa saja jika tidak memakai sepatu yang punya grip baik, seperti halnya yang dialami Pak Dhe, saat pendakian masih aman2 saja, namun ketika perjalanan pulang di track menurun tajam, lebih dari 15 kali jatuh terduduk karena terpeleset tanah yang licin atau dedaunan basah. Jika ingin berlama-lama di puncak, saya anjurkan untuk membawa jaket, karena udara dingin dipuncak akan membuat kita menggigil saat duduk2 berdiam diri tidak melakukan gerakan, alih-alih bersantai menikmati suasana puncak, kita malah sangat tidak nyaman karena kedinginan. Dan karena didalam hutan udara sangat lembab, membuat semak-semak selalu basah, jangan memakai celana dari bahan kanvas yang tebal, karena sulit kering saat terkena dedaunan basah, sebaiknya gunakan celana trekking quick dry. Bawa alat navigasi, karena meskipun jalur pendakian pendek seringkali kita kehilangan track pendakian karena lebatnya vegetasi hutan, atau paling mudah dan aman didampingi guide pendakian.

Semoga sekilas tulisan ini bisa menjadi pedoman yang cukup bermanfaat bagi sobat pendaki. Sampai jumpai di jalur pendakian yang lain.

Akhirnya salam 3angleTOP

Saturday, July 4, 2020

PENDAKIAN GUNUNG PENANGGUNGAN


Buka-buka info pendakian di suatu laman, ternyata Gunung Penangggungan sudah dibuka, untuk tahap uji coba pembukaan dilakukan di jalur “KEDUNGUDI”, sementara yang lain masih ditutup. Segera info tersebut saya sampaikan ke rekan MB, karena sebenarnya kami sudah lama merencanakan pendakian Gunung Penanggungan melalui jalur Jolotundo. Singkat cerita, bertiga kami sepakat pendakian dilakukan pada Sabtu 4 Juni 2020.

Kami berangkat dari Malang persis pada pukul 05.00, menuju desa Kedungudi kecamatan Trawas. Meskipun jalanan dari Prigen ke Trawas lebih susah, karena meliuk-liuk naik turun dengan derajad kemiringan yang lumayan extreme, kami pilih jalur ini dari pada lewat Ngoro Industri yang meskipun lebih nyaman tapi selisih jaraknya mencapai 15 Km. Kurang lebih pukul 6.10 kami sudah sampai di Desa Kedungudi, mobil kami titipkan di salah satu rumah penduduk, khawatir diatas tidak ada penjaga parkir, karena kami belum sepenuhnya yakin bahwa rute pendakian ini sudah dibuka. Dari tempat parkir, kami harus berjalan menuju Pos Perijinan Pendakian sepanjang 500 m , dan ternyata sudah banyak sepeda motor yang terparkir disitu, menurut informasi penjaga Pos Perijinan, jalur Kedungudi sudah dibuka sejak hari Sabtu seminggu sebelumnya.

Setelah melapor dan membayar karcis 10rb rupiah per orang, dan melakukan stretching, hiking Mount Penanggungan via jalur Kedungudi kami lakukan tepat pukul 06.37. Perlu diketahui bahwa Jalur Kedungudi ini terletak antara Jalur Tamiajeng dan Jalur Jolotundo. Pemandangan selama pendakian sangat bagus, disebelah kiri nampak Gunung Bekel berdiri kokoh dengan lerengnya nampak sangat terjal, sementara disebelah kanan Arjuna dan Welirang berdiri bersebelahan nampak sangat jelas, dengan Gunung Welirang berada lebih dekat ke arah Penanggungan. Seperti halnya jalur Jolotundo, sepanjang pendakian rute Kedungudi ini akan dijumpai banyak candi dengan urut-urutan Candi Carik – Candi Lurah – Candi Syiwa – Candi Guru – Candi Whisnu,  diatas candi Whisnu ada Goa Butol sebagai point of refference terakhir sebelum menuju puncak Pawitra. Bagi yang nge-camp saya sarankan mendirikan kemah di candi-candi tersebut, karena halaman candi cukup nyaman untuk beristirahat dan lebih terlindung dari angin karena setiap candi tersebut selalu memunggungi bukit, dari pada bermalam di puncak. Selama perjalanan di ketinggian kami disuguhi pemandangan luar biasa, di sebelah kanan kami di arah tenggara titik2 perumahan, guest house, hotel di Prigen & Trawas bagai kotak2 kecil yang berserakan, disebelah kiri arah Utara agak ke Barat Laut Luas Areal Ngoro Industri dengan atap2 pabrik yang besar terlihat sangat jelas, Jauh mata memandang arah Timur Laut nampak samar2 Pond Lumpur Lapindo menggenangi areal yang sangat luas, bisa kita bayangkan ribuan orang yang terusir dari desa kelahirannya karena suatu hal yang tidak mereka inginkan dan mungkin mereka kutuk sepanjang hidupnya, dari Selatan ke Utara dan kearah Timur garis jalan Tol Malang – Surabaya & Gempol – Probolinggo nampak dengan jelas, sementara di kiri kami Gunung Bekel dengan setia mengiringi pendakian kami dan di kanan kami Arjuna Welirang memandangi kami yang sedang terengah-engah sambil mengusap peluh, dan sesekali meneguk air minum untuk menawar dahaga kami bertiga, di kejauhan arah tenggara Puncak Mahameru malu2 menyembul dari kerumunan awan. Sangat beruntung kami hari ini, karena cuaca sangat cerah yang tidak memberikan kesempatan kabut untuk turun menghalangi pandangan kami untuk menikmati pahatan gusti Allah dan karya manusia yang nampak lebih elok di ketinggian. Phase terakhir pendakian kami dari Goa Butol adalah phase tersulit karena medannya sangat terjal, baik saat naik maupun turun menyusahkan kami bertiga, disini trekking pole sangat membantu. Akhirnya sampailah kami di Puncak Pawitra, setelah melalui periode
waktu sepanjang 4 jam 5 menit.

Diatas ternyata sudah ada 8 anak muda yang berkumpul, kami saling menyapa dan berbincang2, dari mereka ternyata ada 3 kelompok, yang kelompok besar berjumlah 6 orang berasal dari Surabaya & Blitar, mereka naik melalui jalur Kedungudi sama seperti kami, sementara dua sisanya rupanya naik ke Pawitra sendiri2 dari jalur Kunjorowesi. Setelah mereka semua turun, kami bertiga masih betah sesaat berada diatas untuk menikmati pemandangan yang luar biasa ini. Setelah puas take picture, kami segera turun melalui jalur yang sama. Sejak perjalanan pendakian seringkali suara music dari HP mas Boiy yang di amplify ke BT Speaker tiba-tiba mati tak tahu sebabnya, dan saat turunpun mengalami hal yang sama, tepat di lokasi candi Guru tiba2 suara music mati, dan beberapa langkah kemudian hidup kembali, akhirnya saya minta mas Boiy untuk balik ke candi lagi, dan benar saja suara music kembali mati, dan kemudian setelah beberapa langkah maju kembali hidup. Rupanya geomagnetic field yang terlalu besar di lokasi candi Guru menyebabkan RF 2.4 GHz yang digunakan wireless data communication Bluetooth terganggu. Saya coba ukur besaran medan magnet bumi dibeberapa lokasi batu andesit yang besar bisa mencapai lebih dari 100 µT, sementara medan geomagnetic normal berkisar antara 25 – 65 microTesla (µT). Di areal Arjuna dan Penanggungan  banyak lokasi2 yang memiliki medan geomagnetic jauh diatas normal, sehingga jangan heran jika kadang2 kompas tidak menunjukkan arah yang presisi, karena geomagnetic field ini dipergunakan sebagai acuan dalam ber-navigasi, tidak hanya oleh manusia namun juga hewan seperti halnya burung dan kura2 saat melakukan migrasi. Dalam perjalanan turun, kami beristirahat makan siang di Candi Lurah, sekitar satu jam kami habiskan waktu disini. Saat kami masih beristirahat menikmati sejuknya udara gunung, datang 3 remaja dengan terengah-engah, kemudian duduk istirahat bersama kami, alhamdulillah kami sama2 beruntung, bahwa bekal makan dan minum kami yang masih tersisa kami berikan kepada mereka, sementara kami turun dengan beban yang lebih ringan.

Semakin kami ke bawah semakin banyak jumpa dengan rombongan anak muda yang naik ke puncak Penanggungan, dalam hitungan saya lebih dari 200 orang, mereka datang dari berbagai kota di Jawa Timur. Rupanya berita pembukaan jalur Kedungudi ini sudah banyak didengar oleh para pecinta alam, dan segera saja mereka mengobati kerinduannya kepada alam setelah kurang lebih 4 bulan lockdown semua jalur pendakian sejak pandemi Corona muncul. Akhirnya kami sampai di pos perijinan pendakian setelah melalui periode waktu selama kurang lebih 3 jam 20 menit, termasuk istirahat selama lebih kurang satu jam di Candi Lurah. Setelah melaporkan kedatangan, kami menuju Masjid desa Kedungudi untuk membersihkan diri dan menunaikan sholat, setelah beristirahat sejenak, akhirnya kami meneruskan perjalanan pulang ke Malang.

Resume pendakian Tek-Tok Puncak Pawitra via Kedungudi, pendakian membutuhkan waktu 4 jam 5 menit, sementara perjalanan turun membutuhkan waktu kurang lebih 2 jam 30 menit. Panjang jalur pendakian hanya sekitar 4 Km, namun dengan kemiringan yang cukup berat, start dari 660 mdpl menuju ke 1.653 mdpl, yang kalau dihitung pakai rumus arcsinus maka akan ketemu kemiringan rata2 sebesar 14.5 derajad. Pemandangan selama pendakian bagus. Track pendakian relatif aman, karena jalurnya rapi berundak tanah, akar pohon maupun batu, tidak seperti jalur Tamiajeng yang banyak kerikil yang bisa berjatuhan saat diinjak. Petunjuk arah sangat jelas, dijamin aman bagi pemula. Demikian Sobat Alam yang dapat kami share dan semoga bermanfaat.

Akhirnya salam 3angleTOP

Saturday, June 13, 2020

BUKIT JABAL MALANG


Bukit JABAL masih terasa asing di telinga kita, tidak seperti Gunung Panderman yang sangat dikenal dikalangan pecinta alam khususnya di wilayah Malang Raya, yang cocok untuk aktivitas trekking ringan pada ketinggian 2.000an mdpl. Anak2 muda asli Malang pun saya yakin banyak yang belum kenal bukit Jabal, apalagi tahu dimana tempatnya.


Check google maps, lokasinya persis disebelah barat P-WEC (Petung Sewu). Sabtu kemarin 130620, berlima gowes untuk survey titik start trekking bukit Jabal. Karena rumah kami terpisah arah, di daerah Blimbing, Sawojajar dan Sukun maka meeting point disepakati di depan Kantor Desa Kalisongo. Janjian kumpul pukul 7.00, ternyata 6.30 sudah nyampe tikum, ternyata otot kaki saya lebih kuat dari perkiraan saya sendiri. Setelah rombongan Sukun datang, berangkatlah kami menuju P-WEC, tujuan kami sebenarnya adalah bertanya kepada penduduk dusun Sumberbendo. Singkat cerita titik start trekking dapat kami identifikasi, maka kami putar haluan gowes back Home, namun karena waktu masih menunjukkan pukul 08.10, kami berhenti di rumah paling atas. Setelah basa basi sejenak dengan pemilik rumah, kami utarakan maksud kami untuk nitip sepeda sementara kami trekking keatas, ibu yang baik hati itu mempersilahkan untuk meninggalkan sepeda kami di pekarangan rumahnya.

Jika Triathlon atau yang paling popular saat ini dengan jarak IRONMAN (Ultra Distance), menggabungkan swim-cycling-run, maka kali ini kami menggabungkan antara cycling-trekking. Dari rumah terakhir kami menitipkan sepeda, mengurut jalan makadam sepanjang 700m sampai ke jalan paving menuju ke track pendakian, kemudian dilanjut dengan menyusuri perkebunan warga yang ditanami jeruk yang diselang-seling oleh tanaman cabe, sampai kami menemukan jalan bekas sungai, kami susuri jalan tersebut sampai ada percabangan, ambil yang kekanan sampai ketemu kali dengan bongkahan batu-batu besar yang bisa menjadi pijakan kaki saat menyeberang. Etape berikutnya dilanjut dengan jalan yang cukup lapang di sela-sela hutan pinus, saat menemukan percabangan jalan, ambil yang lurus sampai menemukan tanda arah pendakian ke Gunung Malang/ Bukit Jabal warna hijau yang di tempel di Pohon Pinus. Kita ikuti jalan naik tersebut sampai ketemu tanda penunjuk arah Gunung Malang tertempel di pohon pinus yang cukup kecil, kita ikuti saja arahnya.

Dimulailah pendakian ke Bukit Jabal, melalui jalan setapak diantara semak belukar yang ranting dan daunnya tertangkup antara sisi kiri-kanan. Sepanjang jalan adalah tanah liat yang jika musin hujan pasti sangat licin, di bawahnya tertanam jalur pipa untuk mengalirkan air bersih dari puncak bukit Jabal menuju perkampungan penduduk. Jalur pendakian sampai puncak sangat monoton, kita tidak bisa melihat pemandangan diatas karena tertutup rerimbunan daun, sehingga seolah-olah kami berjalan di lorong yang sangat panjang. Meskipun ketinggian bukit jabal hanya 1.470 mdpl, namun sangat melelahkan, berkali-kali kami harus berhenti untuk menata nafas dan mengistirahatkan otot kaki, hal ini disebabkan karena jarak pendakian yang relatif pendek, sehingga slope yang terbentuk lumayan menyiksa, dan menjadi tantangan tersendiri bagi kami yang sudah above fifty. Akhirnya, satu persatu dari kami sampai di TOP PEAK Bukit JABAL.

Beruntung kami, saat tiba di puncak sekitar pukul 11.00, kondisi udara cerah, clear tidak berkabut, sehingga nampak pemandangan yang menakjubkan. Arah Pandang ke utara nampak kota Batu dengan titik2 putih bangunan yang menjadi accessories-nya, jauh dibelakangnya nampak Gunung Arjuna berdiri kokoh menjulang tinggi yang puncak biru-nya menyembul diantara sekumpulan awan, pandangan kita geser sedikit ke barat, akan nampak Gunung Panderman, kemudian kami alihkan pandangan kami menuju arah timur, nampak Kota Malang dengan gedung2-nya, jauh dibelakangnya nampak puncak Semeru menjulang tinggi diatas awan. View dari puncak bukit Jabal sangat elok dan menakjubkan, belum lagi jika disaksikan pada pagi hari, tentunya lebih indah.

Bagi yang pingin nge-camp, tempat lapang di puncak tidak terlalu luas, perkiraan saya tidak lebih dari 25 tenda yang bisa didirikan, dan jika tidak kebagian tempat bisa meratakan semak2 di jalur pendakian di bawah puncak. Saya melihat terdapat pipa saluran air yang sengaja dilubangi untuk pengambilan air bersih dengan menggunakan selang plastik yang di taruh di pokok pohon didekatnya, sehingga bagi para camper tidak perlu khawatir akan ketersediaan air bersih. Karena tempat ini masih alami, tidak tersedia MCK. Begitulah bukit Jabal sebagai alternatif pendakian ringan atau camping selain Gunung Panderman yang berada di sekitar Malang Raya.

Kami memerlukan waktu sekitar 2.5 jam perjalanan mendaki, dan 1.5 jam perjalanan arah sebaliknya. Sedangkan untuk mencapai titik start pendakian, kami gowes pergi-pulang sepanjang 30 Km. Cukup asyik juga menggabungkan Outdoor Activity Cycling and Trekking dalam satu kesempatan, sobat Natur Lover boleh mencoba dan rasakan sensasinya.

Terima kasih pak Fa, pak Ivan, pak Dhe Bambang, dan pak Edy yang telah menemani saya blakrak-an, untuk selalu mencoba dan menemukan rute baru gowes maupun trekking.

Sunday, June 7, 2020

PENDAKIAN GUNUNG ARJUNA

Sudah lama pingin kembali menghidupkan memori masa SMA dengan kegiatan mendaki gunung (Hiking), baru kali ini terwujud. Sebetulnya nggak sengaja juga hiking kali ini saya lakukan, dikarenakan temen2 gowes banyak yang berhalangan untuk diajak ngalas, maka saya coba ajak mas Boiy untuk hiking. Gayung bersambut, dengan ditemani satu lagi rekan yakni pak Dhe mBeng, pada Sabtu 6 Juni 2020, pukul 05.10 kami bertiga berangkat menuju pos pendakian Arjuna via Desa Tambaksari, sebenarnya kami berjudi dengan “peluang”, karena banyak lokasi pendakian yang masih ditutup karena pandemi corona. Sesampainya di lokasi, ternyata benar adanya, bahwa jalur pendakian via dusun Tambakwatu masih ditutup untuk para pendaki, khususnya bagi yang berencana bermalam diatas, karena kami berencana naik sampai candi Sepilar dan langsung kembali turun, maka masih mendapat toleransi ijin pendakian.

Setelah parkir mobil di rumah warga, tepat diujung pengkolan sebelum pintu masuk jalan paving pendakian, mulailah perjalanan kami menuju POS#1. Pos pertama dikenal dengan sebutan Goa Antaboga yang berjarak sekitar 1.750 meter, dengan medan bervariasi jalan tanah dan makadam, yang dikiri kanannya adalah kebun kopi. Etape awal ini kami tempuh sekitar 30 menit. Di POS#1 ini terdapat fasilitas kamar mandi dan mushola, juga terdapat tanaman pinus yang tertanam rapi di komplek Goa Antaboga, bagus untuk spot foto dengan dramatisasi sinar matahari yang jatuh ketanah melalui sela2 dedaunan pinus. Nama Antaboga adalah diambil dari tokoh pewayangan dengan karakter Ular Naga, dan di sini diabadikan dengan Patung sepasang Ular Naga. Meski namanya goa, namun ujudnya hanya lobang dengan kedalaman 1.5 meter dan lebar-tinggi satu meter. Tempat ini dianggap sebagai tempat keramat yang banyak dikunjung para peziarah yang melakukan tirakatan atau nyepi.

Legenda nama Arjuna adalah berasal dari tokoh pewayangan, yaitu panengah Pandawa Raden Arjuna, yang konon bertapa di lereng gunung tersebut. Arjuna adalah salah satu Gunung yang dipenuhi dengan situs peninggalan purbakala Singasari dan Majapahit, karena pada saat itu banyak tokoh Kerajaan Singasari dan Majapahit yang menganggap tempat tersebut adalah tempat bertuah yang cocok digunakan untuk nyepi dan bertapa. Sehingga jangan heran jika di sepanjang jalur pendakian tercium aroma wangi dupa, karena semua pos peristirahatan adalah juga tempat keramat yang digunakan sebagai tempat pemujaan. Belum lagi mitos mistis yang banyak berkembang di masyarakat yang menambah aura sakral dari gunung Arjuna.

Kembali ke pendakian, berikutnya kami menuju Pos Tampuono yang berjarak kurang dari 2 km dari Pos Antaboga. Disini terdapat warung dan Punden untuk Pemujaan. Saat kami beristirahat disana, berbarengan dengan kedatangan rombongan ibu yang sudah berumur, dengan 2 anak perempuannya dan juga 2 cucunya, saat datang mereka langsung menuju punden pemujaan, setelah beberapa saat melakukan sembahyangan, mereka keluar menuju sendang Dewi Kunthi yang terletak di bawah komplek Tampuono, konon bagi yang mandi di sendang ini dapat membuat awet muda dan merasakan ketenangan batin. Kami membutuhkan waktu kurang lebih satu jam untuk sampai di Pos Tampuono dari Pos Antaboga, track pendakian didominasi oleh jalan makadam yang di kanan kirinya kebun kopi rakyat.

Pos berikutnya adalah Situs Eyang Sakri, terletak persis diatas Pos Tampuono, sedangkan pos setelahnya adalah Situs Eyang Semar. Menuju situs Eyang Semar, jalur pendakian sudah memasuki hutan dan banyak batu besar diselingi alang2 lebat yang tersusun tidak beraturan, terkadang kita harus merangkak dan memanjat bongkahan batu2 tersebut untuk bisa melewatinya. Dari Pos Tampuono berjarak kurang lebih 1.3 Km, namun karena medannya yang cukup berat, kami membutuhkan waktu sekitar 1.5 jam untuk mencapainya. Konon situs Eyang Semar ini adalah yang paling keramat, sampai2 disitu tertulis “Jangan Berisik”. Di tempat ini arealnya sempit, sehingga tidak nyaman untuk beristirahat, jika terpaksa harus melepas penat, bisa di duduk di bongkahan batu yang ada disitu.

Diatas situs Eyang Semar terdapat candi Makutarama yang menempati areal lapang yang cukup luas. Terdapat tiang bendera yang cukup tinggi dengan bendera merah putih yang berkibar cukup besar, bendera ini nampak kecil dari kejauhan saat perjalanan menuju pos Tampuono. Sepanjang yang saya saksikan, candi Makutarama adalah candi paling besar yang berada di areal Gunung Arjuna. Nama2 situs di areal Gunung Arjuna sangat kental dengan nama2 dalam cerita pewayangan, termasuk Makutarama. Wahyu Makutarawa adalah ajaran Sri Bathara Kresna kepada Raden Arjuna, tentang Hastabrata. Makutarama sendiri berasal dari kata Makuta = Mahkota dan Rama adalah Raja Ayodya yang terkenal sebagai raja besar yang arif bijaksana, sedangkan ajaran Hastabrata artinya adalah 8 ajaran suci, hasta =  delapan, brata = perilaku. Di Pos Makutarama ini terdapat fasilitas peristitahatan yang cukup lengkap bagi pendaki, ada sumber air bersih, MCK, Mushola, 2 bangunan barak yang berukuran kira2 6x8 meter, yang bisa digunakan para pendaki untuk bermalam sebelum perjalanan menuju Puncak Arjuna (Puncak Ogal Agil). Candi Makutarama berjarak sekitar 400 meter dari situs Eyang semar, dengan track pendakian sangat menanjak melalui bongkahan batu besar, perlu waktu kurang lebih 30 menit untuk mencapainya dari situs Eyang Semar. Oh..ya, jangan lupa turun ke Sungai di arah barat daya Candi Makutarama, berjarak kurang lebih 150 meter, dikenal dengan sebutan sendang Widodari, disebut sendang mungkin karena banyak aliran air yang terperangkap, tertampung dalam cekungan batu
yang sangat besar sehingga menyerupai bak mandi besar, sehingga bisa untuk berendam, tempat ini bagus sekali untuk berfoto, apalagi jika kabut sedang turun.

Selesai melepas penat, buka bekal, dan sholat dhuhur, kami melanjutkan pendakian menuju Candi Sepilar yang berjarak sekitar 250 meter, mendekati area candi terdapat anak tangga yang diujungnya terdapat arca Dwarapala. Agar mendapatkan experience yang berbeda, kami berencana menempuh jalan memutar untuk rute turun pendakian, Candi Sepilar – Candi Wesi – Putuk Lesung – Tampuono dan selanjutnya menuju Dusun Tambakwatu, meskipun tidak ada satupun dari kami yang pernah melewati rute tersebut. Setelah menempuh jarak kurang lebih 500 meter, dengan menerobos jalan setapak di bibir jurang yang lembahnya di sebelah kanan kami, dengan vegetasi yang sangat rapat, tanda bahwa jarang dilewati, sampailah kami di Candi Wesi yang kondisinya tidak terawat.

Perjalanan menuju Putuk Lesung adalah episode yang paling serem bagi kami. Setelah putar2 Candi Wesi kami menemukan pintu masuk jalan setapak kedalam hutan, dengan yakin kami ikuti jalan tersebut, setelah melewati  jalan setapak yang cukup panjang di bibir jurang yang lembah jurangnya masih disebelah kanan kami, dan tiba2 jalan setapak tersebut lenyap tertutup semak yang sangat rimbun. Bertiga kami berusaha menemukan jalan setapaknya, setelah beberapa saat, kami temukan jalan setapaknya, belum sempat hati ini merasa tenang kami dihadapkan pada pilihan jalan setapak yang bercabang, dengan insting kami yang terbiasa “blakrak-an” maka kami ambil satu pilihan yang ternyata berujung di padang ilalang yng tingginya hampir menyamai tinggi badan kami. Meskipun jalan setapaknya tak nampak terhalang lebatnya ilalang, kaki kami masih bisa merasakan jalurnya. Dalam menyusuri jalan setapak ditengah padang ilalang ini kami menemukan 3 situs yang terletak tidak berjauhan, yang ternyata adalah











Candi Lepek, Candi Gong dan satu Candi lagi yang berupa tumpukan batu andesit layaknya situs purbakala, menurut warga setempat keberadaan ketiga candi tersebut susah ditemukan, meski untuk sekelas guide pendakian macam pak Wondo warga dusun Tambakwatu. Suasana hati was-was mulai menggelanyuti akalku, timbul penyesalan kenapa semalam tidak download off-line google maps, sedangkan ditengah hutan tidak tercover signal GSM. Kami teruskan menapaki jalan setapak di tengah ilalang yang berujung pada lembah yang tidak mungkin bisa kita lalui. Maka mulailah bayang2 berita buruk bermunculan, Hutan di Gunung Arjuna yang dikenal dengan “alas Lali Jiwa” sering menyesatkan para pendaki, jika benar2 tidak menemukan jalan balik dan harus bermalam di gunung tanpa persiapan yang cukup sangat mungkin terkena serangan Hypothermia. Tersesat seperti ini sudah sering kami alami saat gowes blakrak-an, sehingga pengalaman tersebut mampu membuat kami tetap bisa berpikir dengan baik. Saat di dusun Tambakwatu sekilas saya melihat tower radio, terlintas dalam pikiran saya tidak menutup kemungkinan ada antena BTS nempel diatasnya, maka saya coba nyalakan HP, dan benar saja signal GPS mengcover tempat saya berdiri, rasa khawatir langsung surut, mungkin hanya tersisa 10% nya saja. Dengan google maps acuan arah tujuan menuju Putuk Lesung menjadi jelas, belum lama rasa optimis menyembul, kami dihadapkan lagi pada fakta bahwa jalan setapak yang kami temui bukan menuju direction yang benar, namun malah menuju jurang, belum lagi kabut tebal datang dan pergi begitu cepat sehingga menutupi point of reference yang bisa kami jadikan acuan. Kami putuskan memotong jalan ditengah ilalang yang sangat rimbun, kontur tanah dibawah tak nampak oleh mata kami karena tertutup rimbunnya daun ilalang, akhirnya “grubyak” mas Boiy jatuh telentang terperosok ke dalam lubang dan kakinya terantuk batu. Dengan sedikit menahan sakit, kami lanjutkan perjalanan menerobos rimbunnya ilalang sampai menemukan jalan setapak yang cukup bagus menuju lembah, setelah kami susuri jalan setapak tersebut ternyata sampailah kami di Candi Putuk Lesung. Akhirnya sampailah 


kami di Putuk Lesung, barulah terasa capek setelah menempuh jalan memutar yang cukup panjang dari sepilar menuju Putuk lesung yang berjarak kurang lebih 3 km dengan medan naik turun lembah. Tersadar, bahwa selama tersesat kami lupa untuk istirahat bahkan minum, dan speed jalan kita sangat cepat. Ternyata rasa was-was bisa meningkatkan potensi kita kalau kita bisa maintain dengan baik, inilah bukti bahwa otak manusia sangat mudah untuk dimanipulir oleh trigger dari luar.

Setelah melepas penat sejenak di Putuk Lesung, kami lanjutkan perjalanan pulang melalui POS2 Tampuono. Amazfit saya menunjukkan bahwa total waktu perjalanan adalah 10 jam 26 menit, dengan jarak tempuh sepanjang 16.59 km, dengan top peak di Candi Sepilar adalah 1.909 mdpl.
resep donat empuk ala dunkin donut resep kue cubit coklat enak dan sederhana resep donat kentang empuk lembut dan enak resep es krim goreng coklat kriuk mudah dan sederhana resep es krim coklat lembut resep bolu karamel panggang sarang semut