Gunung Anjasmoro kurang begitu populer bagi para pecinta
alam, tidak seperti Arjuna – Welirang – Penanggungan, meskipun letaknya
berdekatan. Keberadaannya menduduki 3 wilayah daerah tingkat II, yakni Kota
Batu – Kabupaten Jombang – Kabupaten Mojokerto. Akses pendakian utama adalah
dari Wonosalam Jombang, atau ada juga yang menyebut pendakian via Carangwulung,
di jalur pendakian ini rutenya sudah tertata rapi dengan beberapa POS interval
dan petunjuk arah yang cukup jelas. Target puncak yang dituju melalui rute ini
adalah Puncak Cemorosewu dengan ketinggian 2.282 mdpl. Sementara jalur alternatif
lainnya adalah dari Cangar Batu, namun jarang ada pendaki yang melalui jalur
ini, sehingga sulit menemukan BLOG atau VLOG tentang pendakian Anjasmoro via
Cangar bagi yang ingin melihat review-nya sebelum melakukan pendakian, termasuk
saya sendiri yang tidak menemukan referensi yang informatif sebagai bekal
pendakian di jalur ini. Puncak Anjasmoro dari jalur ini lebih pendek dibanding
puncak Cemorosewu, yakni di ketinggian 2.258 mdpl. Sebenarnya banyak
puncak-puncak tersembunyi di Gunung Anjasmoro ini yang belum terjamah para
pendaki, karena puncaknya seperti tusuk gigi. Tidak seperti Penanggungan,
Arjuna, Welirang, Semeru yang puncaknya gersang berbatu, di puncak Anjasmoro
ini masih tertutup hutan yang cukup rimbun, sehingga tidak panas terik dan nyaman
untuk duduk bersantai berlama-lama.
Karena tidak ada yang mengulas secara jelas jalur pendakian
via Cangar, maka seolah2 menjual
tantangan kepada kami yang wajib untuk dibayar cash. Tidak gowes tidak
pula trekking, menemukan rute baru atau
paling tidak melalui rute yang belum dikenal banyak orang selalu menjadi magnet
atau daya tarik yang luar biasa bagi kami. Akhirnya rencana menaklukkan Gunung
Anjasmoro rute Cangar mengalahkan planning kami sebelumnya untuk summit Gunung
Bekel dengan jalur melingkar.
Start pendakian dimulai dari bekas pabrik Jamur, di KM 18
jalan Raya Batu – Pacet. Memasuki komplek bekas pabrik jamur tersebut lurus
saja sampai menemukan bangunan Villa Pabrik Jamur yang sepertinya sudah tidak
pernah dipergunakan dalam waktu cukup lama, kemudian belok kanan kita temukan
tempat lapang yang dasarnya terbuat dari semen, lurus saja kemudian belok kanan
melalui jalan setapak kecil menuju semak2 (jangan ambil yang lurus). Mengikuti
jalan setapak yang cukup lebar dan nyaman untuk berjalan, namun sayangnya kami terhalang pohon tumbang yang telah dipotong2 sehingga menutup jalan setapak kami.
Cukup lama kami berhenti disini untuk mencari jalan setapak yang hilang. Perlu
sobat pendaki ketahui bahwa semak belukar di jalur pendakian ini sangat lebat,
dan menutup jalan setapak sehingga tak nampak oleh mata kita. Karena jalan
setapak tidak kami temukan, maka parang yang sudah kami persiapkan dari rumah
segera saja berfungsi. Pak Dhe mBeng, sebagai pembuka jalan dengan sigap
mengepras setiap semak yang menghalangi jalan kami, terutama tanaman berduri
yang kami menyebutnya “rendhet”. Pak Dhe terus mengepras semak belukar yang
menghalangi kami sampai jalan setapak kembali kami temukan.
Meskipun jalan setapak sudah kami temukan, namun parang di
tangan pak Dhe tidak berhenti untuk terus mengepras semak belukar yang menjadi penghalang
jalan kami, sementara saya dan MB mengikuti dari belakang. Akibatnya perjalanan
kami menjadi sangat lambat, namun sisi baiknya adalah kami tidak terlalu lelah,
meskipun jalur pendakian ini kemiringannya luar biasa, menurut perkiraan saya
sekitar 60 derajad. Di beberapa titik rute pendakian, kami temukan pita penanda
jalur dari tali rafia yang sudah usang, dan beberapa pita plastik kuning-hitam.
Kurang lebih 30 menit sejak menemukan jalan setapak yang hilang, kami kembali kehilangan
jejaknya, sempat salah arah meskipun tidak begitu jauh, dan setelah melakukan
observasi beberapa saat akhirnya kami temukan jalan setapak menuju atas. Tips
bagi sobat pendaki, jika tiba2 kehilangan jalan, sebaiknya explore kesegala
penjuru arah mata angin sejauh kira-kira 20 meter untuk menemukan kembali jalan
setapak yang menghilang sepenggal. Akhirnya sampailah kami di ketinggian 2.150
mdpl, depan kami adalah jurang yang sangat terjal, kami menyebutnya puncak
bayangan dari sisi Cangar.
Babak ketiga rute yang kami jalani adalah rute paling
nyaman, trekking menyisir punggung gunung yang dikiri dan kanannya jurang
terjal yang sangat dalam, sehingga tidak ada lagi tanjakan terjal dengan
kemiringan extreme seperti dibawah. Sepanjang jalur ini kami melewati 3 tempat
datar yang bisa dijadikan tempat nge-camp yang lumayan terlindung dari hembusan
angin dibanding berkemah di puncak. Rute menyisir punggung Gunung Anjasmoro ini
sepanjang kurang lebih 1 Km, diselingi turun lembah kecil 3 kali. Dan akhirnya pada
pukul 12.50 sampailah kami di puncak Gunung Anjasmoro rute Cangar, setelah menempuh
jarak kurang lebih 4 km, selama 4.5 jam. Tuntas sudah penaklukan Gunung
Anjasmoro rute Cangar, yang menurut peta topografi yang berhiaskan garis hachures
dari Aplikasi ViewRanger, puncaknya berada di ketinggian 2.254 mdpl.
Sayangnya kabut sangat tebal menyelimuti puncak Anjasmoro,
yang muncul sejak kami sampai di ketinggian 2.100 mdpl, sehingga tak nampak
gugusan gunung dan bukit yang jika cerah terlihat sangat indah. Namun begitu
tetap saja kami merasa senang, berada di ketinggian dan tak ada orang lain
selain kami bertiga. Setelah makan, ngopi, dan sholat, kami bersantai cukup
lama, sekitar 2 jam menikmati hidup sejenak diatas awan. Akhirnya kami turun
pukul 14.54.

Perjalanan turun pastinya akan sangat sulit, mengingat
dibanyak lereng, kemiringannya sangat terjal. Kami lalui track yang sama dengan
saat pendakian, sampai pada tanda pita terakhir yang kami jumpai, jalan setapak
terus menurun, kira-kira 30 meter setelahnya tidak lagi kami temukan jalannya.
Hari sudah menunjukkan pukul 16.30, dengan bantuan maps sebetulnya kami bisa memperkirakan
arah dengan tepat, dan jarak ke titik start
awal pendakian juga sudah tidak terlalu jauh, ditandai dengan suara
kenalpot sepeda motor di jalan sekitar pabrik jamur terdengar sangat jelas,
namun tidak ada jalan setapak melainkan kearah jurang. Cukup lama kami melakukan observasi di titik
ini, naik turun pada jalur yang sama sampai 2x yang cukup melelahkan, sampai waktu
sudah menunjukkan pukul 17.00. Akhirnya kami putuskan untuk menerobos semak
belukar pohon paitan, dengan bantuan tongkat yang dibawa MB dan parangnya Pak
Dhe, kami terus maju pantang mundur menerobos rerimbunan semak belukar.
Alhamdulillah, setelah kira-kira 30 menit kami menemukan jalan setapak yang kami lalui saat awal pendakian, perasaan
lega langsung menyembul di dada kami. Kira-kira 300 meter dari titik start
pendakian terdengar suara Adzan Magrib, dan setelah beberapa saat dari
berakhirnya adzan Magrib sampailah kami dititk start pendakian.
Untuk pendakian lewat jalur ini, sangat disarankan
menggunakan sepatu trekking, bukan sekedar sneakers, karena kemiringan track
pendakian yang sangat terjal sehingga saat turun akan sangat sulit bagi siapa
saja jika tidak memakai sepatu yang punya grip baik, seperti halnya yang
dialami Pak Dhe, saat pendakian masih aman2 saja, namun ketika perjalanan
pulang di track menurun tajam, lebih dari 15 kali jatuh terduduk karena
terpeleset tanah yang licin atau dedaunan basah. Jika ingin berlama-lama di
puncak, saya anjurkan untuk membawa jaket, karena udara dingin dipuncak akan membuat
kita menggigil saat duduk2 berdiam diri tidak melakukan gerakan, alih-alih bersantai
menikmati suasana puncak, kita malah sangat tidak nyaman karena kedinginan. Dan
karena didalam hutan udara sangat lembab, membuat semak-semak selalu basah, jangan
memakai celana dari bahan kanvas yang tebal, karena sulit kering saat terkena
dedaunan basah, sebaiknya gunakan celana trekking quick dry. Bawa alat navigasi, karena meskipun jalur pendakian pendek seringkali kita kehilangan
track pendakian karena lebatnya vegetasi hutan, atau paling mudah dan aman didampingi
guide pendakian.
Semoga sekilas tulisan ini bisa menjadi pedoman yang cukup
bermanfaat bagi sobat pendaki. Sampai jumpai di jalur pendakian yang lain.
Akhirnya salam 3angleTOP
Mantul..
ReplyDeleteGara2 Anjasmoro sampai rumah batuk pilekq kok wis ilang alias waras OPO gara2 gawe clono kanfas sepatu pesta Iku yo sampek badan nggigil... Hahaha mantan Anjasmoro... ta tunggu etape berikutnya p.We. Next...
Selalu ada feel yang berbeda saat muncak ke gunung ... apalagi daerah yang sangat jarang dilalui orang. Elang yang sangat besar terbang diatas seolah memberi ucapan selamat datang ,ditambah kabut tebal dan vegetasi yang rapat menjadikan pendakian ini terasa seperti pemeran film horor. Thanks ditunggu hiking di lain jalur.
ReplyDeleteGa ada pacet, beda dg peg. Hutan Lindung Megamendung 1500-2000 mdpl. Ditanggung 50+ nempel (anehnya) jenis warna warni
ReplyDelete