Lembah kidang adalah salah satu
spot yang sangat indah pada jalur pendakian Gunung Arjuna via Taman Safari/
Kaliandra atau rute Tretes/ Kakekbodo, padang rumput yang luas dikelilingi oleh
hutan cemara membuat lokasi ini terlindung dari angin sehingga pas banget untuk
nge-camp. Berada di ketinggian 2.500 mdpl, posisinya kira-kira berada
ditengah-tengah Segitiga Welirang – Ringgit – Arjuna, dan dari lokasi ini
puncak Ogal-Agil terlihat sangat jelas di arah selatan, yang seolah-olah
tersenyum mengejek kita, “apakah mampu menjejakkan kaki di puncaknya”, karena
dalam jarak line of site kurang lebih 1.500 meter puncak Ogal-Agil terlihat
menjulang ke awan, pasti sangat berat jalur pendakian rute ini.

Aktifitas trekking-ku ternyata sekarang sudah
mengalahkan rutinitas offroad cycling karena ada “keasyikan” baru didalamnya,
itung-itung ngurangi traffic load, karena sejak pandemi euforia bersepeda sudah
menjadi trend. Kali ini kami bertiga mencoba trekking menuju Lembah Kidang,
start dari Taman Jendela Langit di Kaliandra. Di awal benak kami, rute ini
tidak akan terlalu berat, karena dari informasi yang saya dapatkan dari banyak tulisan
blog sobat pendaki, pendakian Gunung Arjuna jalur Lawang/ Kebun Teh Wonosari
adalah yang paling berat, namun ternyata jalur ini bisa membuat kapok yang
pernah melaluinya, karena sepanjang track-nya tak ada ruas yang datar,
sepanjang jalur kurang lebih 6.5 Km adalah tanjakan, bahkan banyak diantaranya
track bebatuan yang sangat terjal. Sebenarnya target utama kami bukan lembah
Kidang, namun batasan waktu trekking sampai dengan pukul 14.00, dan segera
setelah itu turun kembali, karena tidak ingin kejadian kemalaman di gunung
seperti terjadi di Gunung Anjasmoro terulang kembali.
Trekking Start Point dimulai dari
Taman Jendela Langit. Perlu sobat pendaki ketahui bahwa untuk mencapai lokasi
ini, bagi yang berangkat dari surabaya bisa melalui jalan Indrokilo, setelah
keluar dari pintu TOL Pandaan menuju malang, kurang lebih 850 meter belok kanan
(jika belok kiri ke Rawon Jetak), ikuti saja jalan Indrokilo sepanjang 6.5 km,
jika ada petunjuk arah Talu Nongko ikuti saja, sebelum SDN Dayurejo III belok
kanan, ikuti jalan ini sampai ke lokasi Taman Jendela Langit. Sedangkan yang
dari Malang, bisa melalui akses menuju Taman Safari. Ruas jalan terakhir menuju
Taman Jendela Langit sepanjang kurang lebih 2.5 km adalah jalan makadam sempit
menanjak dengan batu-batu yang tertata sangat kasar, sehingga laju mobil harus
sangat pelan dijalur ini. Tempat parkirnya dijaga 24 jam, sehingga saat Jalur
Pendakian sudah dibuka kembali para pendaki bisa melalui jalur ini tanpa
khawatir harus menyimpan mobil dimana. Bagi yang khawatir mobilnya tidak mampu
menanjak di jalan makadam kasar, bisa memilih parkir di rest area bawah, disini
sudah ada ojek motor maupun ojek mobil, atau jika tidak ingin keluar tambahan
ongkos ojek, maka harus berjalan sepanjang 2.5 km menuju Taman Jendela Langit.

Setelah titip2 mobil ke panjaga
parkir, pukul 7.45 kami bertiga mulai trekking dari ketinggian 1.100-an mdpl. Track
awal adalah makadam yang masih landai, setelah 5 menit perjalanan baru kita
jumpai tanjakan di jalan setapak yang lumayan membuat nafas cepat
terengah-engah. Sampai kali batu tempat aliran air terjun Gumandar, jalannya
naik terjal dengan track berbatu. Untuk diketahui bahwa air terjun gumandar
saat musim kemarau tidak ada airnya sama sekali. Sobat pendaki, sebelum
mencapai kali Batu Gumandar kita ikuti jalan setapak ke kanan menyeberang kali,
ancer2nya adalah keberadaan 2 pohon di tengah2 rerumputan. Setelah itu jalan
setapak berundak berbatu sangat terjal, setelah kurang lebih 1 jam 15 menit perjalanan
maka akan kita jumpai pipa air dari besi. Untuk kebutuhan air bersih bagi
masyarakat desa, secara swadaya mereka membangun instalasi pipa air untuk
mengalirkan air dari sumber air diatas lembah Kidang, sehingga jalur pipa
tersebut bisa menjadi panduan kita menuju lembah Kidang. Tak seperti biasanya,
sejak dari bawah raut muka rekan MB tidak nampak ceria, dan terkesan menahan
sesuatu dan nampak lelah, beberapa kali harus berhenti karena kelelahan.
Nampaknya bukan lelah penyebab MB kurang bersemangat, ternyata sejak dari bawah
sudah merasakan penderitaan karena perutnya mules. Dan akhirnya karena sudah
tidak tahan lagi, dia lari ke semak-semak untuk menunaikan tugasnya, sementara
kami menunggu sampai habis 2 batang rokok. Setelah akhirnya nampak MB muncul
dari rimbunan semak wajahnya sudah sangat ceria, tidak seperti sebelumnya, maka
trekking menjadi lebih bergairah dan berjalan lebih cepat.

Pos peristirahatan setelah
Gumandar adalah Terminal MPS (Masyarakat peduli Sumber), lokasi ini ditandai
dengan plakat bertuliskan “Terminal MPS 36 Jatiarjo”, terdapat balok kayu yang
bisa digunakan duduk beristirahat, dan juga terdapat air bersih, keluar dari
bocoran pipa air. Kami tidak lama disini, karena mengejar target sebelum pukul
14.00 harus sudah mencapai lembah Kidang. Sepanjang perjalanan kami berada di
sebelah selatan lereng Gunung Ringgit, dengan track yang terus menanjak tiada
akhir, yang memaksa kami beberapa kali harus berhenti untuk menurunkan heartrate
yang telah mencapai angka maximal 167 bpm. Setelah melewati padang ilalang yang
cukup luas, sampailah kami di Sawahan Banyu Kuning atau taman Lavender. Tipikal
Area sekitar Arjuna, kabut tebal datang dan pergi dengan begitu cepat, dan saat
kami sampai di Taman Lavender kabut tebal turun menyelimuti area ini, bagus
sekali untuk pengambilan foto yang nampak lebih dramatic. Waktu menunjukkan
sudah masuk Dhuhur, dan karena disini tidak ada sumber air, maka kami putuskan
segera meneruskan perjalanan untuk mendapatkan sumber air, dan tidak sampai
setengah jam perjalanan kami menemukan air bersih yang keluar dari pipa bocor,
maka segera saja kami beristirahat untuk menunaikan sholat Dhuhur disini. Dari
Taman Lavender ini sebetulnya kami keluar dari jalur pendakian yang ditunjukkan
Maps dari aplikasi pendakian, yang arahnya menyimpang ke kiri, namun karena untuk
sampai ke lembah Kidang harus mengikuti jalur pipa air, maka kami ikuti saja
jalurnya. Tepat pukul 13.00 kami menjumpai area yang lumayan lapang, dimana ada
batu yang bisa dipakai duduk beristirahat, sehingga kami putuskan untuk buka
bekal disini, disamping itu rasa lapar sudah mengganggu perjalanan. Cita rasa makanan
apapun pastinya 5x lebih maknyus dibanding dibawah, termasuk bekal makanan
kami, masBro mBak Sis tak percaya...silahkan dicoba sendiri, he3x.

Alhamdulillah, setelah menempuh
jarak kurang lebih 6.5 Km dalam rentang waktu hampir 6 jam, kami sampai di
lembah Kidang, dan waktu menunjukkan pukul 13.55, yang artinya 2 target yang
kami bidik yaitu jam 14.00 dan Lembah Kidang dapat kami penuhi keduanya pada
trekking kali ini. Kami memilih tempat beristirahat yang cukup nyaman dibawah
pepohonan dan menghadap ke selatan, sehingga saat rebahan di rumput yang empuk
mata kami lurus menghadap puncak Ogal-Agil yang terlihat dengan sangat jelas
dan cukup dekat. Penat badan ini langsung luntur terobati oleh kesunyian,
keasrian, kemegahan alam ciptaan gusti Allah yang tak mungkin dapat disaingi oleh
maha karya sejuta Architect-pun.

Lembah Kidang ini bisa sebagai
transit untuk pendakian ke Arjuna maupun Welirang. Setelah cukup lama beristirahat
dan menikmati pemandangan alam, sekaligus mengembalikan stamina, kamipun segera
turun. Namun sebelum turun kami explore kurang lebih 300 meter jalur pendakian
menuju Gunung Welirang, dan ternyata ada space untuk mendirikan 4 tenda, yang posisinya
terlindung pepohonan Cemara, berada di depan Goa yang didalamnya terdapat air
bersih yang menetes dari sela-sela bebatuan yang bisa dimanfaatkan untuk
kebutuhan minum, disini bisa menjadi alternatif nge-camp.

Waktu hampir menunjukkan pukul
15.15, segera saja kami balik untuk turun. Karena stamina tubuh sudah kembali
fit, maka speed kami geber pakai gigi 6 dengan harapan tidak kemalaman di
perjalanan. Trekking turun memang tidak terasa melelahkan, namun dengkul
bener-benar menanggung beban yang sangat berat. Kami terus berpacu dengan
waktu, apalagi leading trekker MB tidak pernah mengendorkan speed-nya, sehingga
saya harus sedikit lari2 kecil untuk mengimbanginya. Alhasil, setelah kurang
lebih 1 jam 30 menit, sesampainya kami di Terminal MPS, stamina sudah
benar-benar terkuras, dan perjalanan semakin lambat, ditambah lagi sejak
Terminal MPS track pendakian berbatu dan curam, diperlukan kehati-hatian untuk
menuruni track ini, karena kondisi badan yang sudah letih akan sangat mudah
oleng. Sangat dianjurkan untuk menggunakan bantuan Trekking Pole. Karena ritme
jalan kami sudah jauh menurun, akibatnya kejadian Anjasmoro terulang kembali,
kami menuruni gunung dikegelapan, untung saja salah satu dari kami, PakDhe
membawa cadangan flashlight, meskipun dengan lumen yang tidak besar namun
sangat membantu menerangi perjalanan kami. Sedikit saran, saat pendakian agar
benar2 memperhatikan persimpanagn yang kita lalui, bila perlu catat atau difoto,
dan bila perlu ditandai, karena saat turun dengan kondisi letih apalagi di
kegelapan, konsentrasi kita sudah jauh menurun, yang memungkinkan bisa salah ambil
jalur. Akhirnya kami sampai di Taman Jendela Langit pukul 18.00. Sekali lagi
alhamdulillah, kami dapat melakukan Tek-Tok lembah Kidang dengan lancar dan
selamat, setelah ngopi di Cafe Jendela Langit untuk menghangat badan dan
mencegah ngatuk saat driving menuju Malang, maka segera saja kami meneruskan
perjalanan pulang.

Semoga sedikit pengalaman yang kami
tuangkan dalam tulisan ini bisa menjadi “share” yang bermanfaat bagi sobat alam
semuanya, untuk bisa lebih mencintai alam maupun sebagai panduan untuk
melakukan hal yang sama. Dan
sedikit catatan kami, bekas kebakaran hutan masih terlihat jelas bekasnya,
nampak batang pohon yang kulit kayunya hangus, dan yang lebih membuat sedih
adalah menyaksikan pipa paralon jalur air yang gosong meleleh karena panas, tak
terbayangkan betapa sedihnya masyarakat desa yang mengandalkan air darinya, alhamdulillah
saat pendakian kami, sudah tergantikan dengan pipa besi yang terpasang dengan
kokoh. Satu lagi catatan kecil dari trekking kali ini adalah di jalur pendakian Kaliandra
ini banyak sekali sampah plastik yang tercecer, ajakan saya bagi siapapun yang benar-benar
mencintai alam, jangan tinggalkan sampah non organik di gunung & hutan,
seperti semboyan para pendaki, “Don’t Leave anything but FootPrint and Don’t
take anything but Picture”.
Salam 3angleTOP
Terinspirasi dg pencapaian pendaki trail runing membuat pengen coba trek ini,walau tidak berlari mencapai target lembah kidang, sudah sangat membahagiakan ... mengingat jalur yg sangat menguras tenaga dengan paparan matahari sepanjang perjalanan. Next tantangan jalur lain perlu dicoba.
ReplyDelete