Buka-buka info pendakian di
suatu laman, ternyata Gunung Penangggungan sudah dibuka, untuk tahap uji coba pembukaan
dilakukan di jalur “KEDUNGUDI”, sementara yang lain masih ditutup. Segera info
tersebut saya sampaikan ke rekan MB, karena sebenarnya kami sudah lama
merencanakan pendakian Gunung Penanggungan melalui jalur Jolotundo. Singkat
cerita, bertiga kami sepakat pendakian dilakukan pada Sabtu 4 Juni 2020.
Kami berangkat dari Malang
persis pada pukul 05.00, menuju desa Kedungudi kecamatan Trawas. Meskipun
jalanan dari Prigen ke Trawas lebih susah, karena meliuk-liuk naik turun dengan
derajad kemiringan yang lumayan extreme, kami pilih jalur ini dari pada lewat
Ngoro Industri yang meskipun lebih nyaman tapi selisih jaraknya mencapai 15 Km.
Kurang lebih pukul 6.10 kami sudah sampai di Desa Kedungudi, mobil kami
titipkan di salah satu rumah penduduk, khawatir diatas tidak ada penjaga
parkir, karena kami belum sepenuhnya yakin bahwa rute pendakian ini sudah
dibuka. Dari tempat parkir, kami harus berjalan menuju Pos Perijinan Pendakian
sepanjang 500 m , dan ternyata sudah banyak sepeda motor yang terparkir disitu,
menurut informasi penjaga Pos Perijinan, jalur Kedungudi sudah dibuka sejak
hari Sabtu seminggu sebelumnya.
Setelah melapor dan membayar
karcis 10rb rupiah per orang, dan melakukan stretching, hiking Mount
Penanggungan via jalur Kedungudi kami lakukan tepat pukul 06.37. Perlu
diketahui bahwa Jalur Kedungudi ini terletak antara Jalur Tamiajeng dan Jalur
Jolotundo. Pemandangan selama pendakian sangat bagus, disebelah kiri nampak Gunung
Bekel berdiri kokoh dengan lerengnya nampak sangat terjal, sementara disebelah
kanan Arjuna dan Welirang berdiri bersebelahan nampak sangat jelas, dengan
Gunung Welirang berada lebih dekat ke arah Penanggungan. Seperti halnya jalur
Jolotundo, sepanjang pendakian rute Kedungudi ini akan dijumpai banyak candi
dengan urut-urutan Candi Carik – Candi Lurah – Candi Syiwa – Candi Guru – Candi
Whisnu, diatas candi Whisnu ada Goa
Butol sebagai point of refference terakhir sebelum menuju puncak Pawitra. Bagi
yang nge-camp saya sarankan mendirikan kemah di candi-candi tersebut, karena
halaman candi cukup nyaman untuk beristirahat dan lebih terlindung dari angin
karena setiap candi tersebut selalu memunggungi bukit, dari pada bermalam di
puncak. Selama perjalanan di ketinggian kami disuguhi pemandangan luar biasa, di
sebelah kanan kami di arah tenggara titik2 perumahan, guest house, hotel di
Prigen & Trawas bagai kotak2 kecil yang berserakan, disebelah kiri arah
Utara agak ke Barat Laut Luas Areal Ngoro Industri dengan atap2 pabrik yang
besar terlihat sangat jelas, Jauh mata memandang arah Timur Laut nampak samar2
Pond Lumpur Lapindo menggenangi areal yang sangat luas, bisa kita bayangkan
ribuan orang yang terusir dari desa kelahirannya karena suatu hal yang tidak
mereka inginkan dan mungkin mereka kutuk sepanjang hidupnya, dari Selatan ke Utara
dan kearah Timur garis jalan Tol Malang – Surabaya & Gempol – Probolinggo
nampak dengan jelas, sementara di kiri kami Gunung Bekel dengan setia
mengiringi pendakian kami dan di kanan kami Arjuna Welirang memandangi kami
yang sedang terengah-engah sambil mengusap peluh, dan sesekali meneguk air
minum untuk menawar dahaga kami bertiga, di kejauhan arah tenggara Puncak Mahameru malu2 menyembul dari kerumunan awan. Sangat beruntung kami hari ini, karena
cuaca sangat cerah yang tidak memberikan kesempatan kabut untuk turun
menghalangi pandangan kami untuk menikmati pahatan gusti Allah dan karya
manusia yang nampak lebih elok di ketinggian. Phase terakhir pendakian kami
dari Goa Butol adalah phase tersulit karena medannya sangat terjal, baik saat
naik maupun turun menyusahkan kami bertiga, disini trekking pole sangat
membantu. Akhirnya sampailah kami di Puncak Pawitra, setelah melalui periode
waktu sepanjang 4 jam 5 menit.
Diatas ternyata sudah ada 8
anak muda yang berkumpul, kami saling menyapa dan berbincang2, dari mereka
ternyata ada 3 kelompok, yang kelompok besar berjumlah 6 orang berasal dari
Surabaya & Blitar, mereka naik melalui jalur Kedungudi sama seperti kami, sementara
dua sisanya rupanya naik ke Pawitra sendiri2 dari jalur Kunjorowesi. Setelah
mereka semua turun, kami bertiga masih betah sesaat berada diatas untuk
menikmati pemandangan yang luar biasa ini. Setelah puas take picture, kami
segera turun melalui jalur yang sama. Sejak perjalanan pendakian seringkali suara
music dari HP mas Boiy yang di amplify ke BT Speaker tiba-tiba mati tak tahu
sebabnya, dan saat turunpun mengalami hal yang sama, tepat di lokasi candi Guru
tiba2 suara music mati, dan beberapa langkah kemudian hidup kembali, akhirnya
saya minta mas Boiy untuk balik ke candi lagi, dan benar saja suara music
kembali mati, dan kemudian setelah beberapa langkah maju kembali hidup. Rupanya
geomagnetic field yang terlalu besar di lokasi candi Guru menyebabkan RF 2.4
GHz yang digunakan wireless data communication Bluetooth terganggu. Saya coba
ukur besaran medan magnet bumi dibeberapa lokasi batu andesit yang besar bisa
mencapai lebih dari 100 µT, sementara medan geomagnetic normal berkisar antara
25 – 65 microTesla (µT). Di areal Arjuna dan Penanggunganbanyak lokasi2 yang memiliki medan
geomagnetic jauh diatas normal, sehingga jangan heran jika kadang2 kompas tidak
menunjukkan arah yang presisi, karena geomagnetic field ini dipergunakan sebagai
acuan dalam ber-navigasi, tidak hanya oleh manusia namun juga hewan seperti
halnya burung dan kura2 saat melakukan migrasi. Dalam perjalanan turun, kami beristirahat makan siang
di Candi Lurah, sekitar satu jam kami habiskan waktu disini. Saat kami masih
beristirahat menikmati sejuknya udara gunung, datang 3 remaja dengan terengah-engah,
kemudian duduk istirahat bersama kami, alhamdulillah kami sama2 beruntung,
bahwa bekal makan dan minum kami yang masih tersisa kami berikan kepada mereka,
sementara kami turun dengan beban yang lebih ringan.
Semakin kami ke bawah semakin
banyak jumpa dengan rombongan anak muda yang naik ke puncak Penanggungan, dalam
hitungan saya lebih dari 200 orang, mereka datang dari berbagai kota di Jawa
Timur. Rupanya berita pembukaan jalur Kedungudi ini sudah banyak didengar oleh
para pecinta alam, dan segera saja mereka mengobati kerinduannya kepada alam
setelah kurang lebih 4 bulan lockdown semua jalur pendakian sejak pandemi
Corona muncul. Akhirnya kami sampai di pos perijinan pendakian setelah melalui
periode waktu selama kurang lebih 3 jam 20 menit, termasuk istirahat selama
lebih kurang satu jam di Candi Lurah. Setelah melaporkan kedatangan, kami
menuju Masjid desa Kedungudi untuk membersihkan diri dan menunaikan sholat,
setelah beristirahat sejenak, akhirnya kami meneruskan perjalanan pulang ke
Malang.
Resume pendakian Tek-Tok Puncak
Pawitra via Kedungudi, pendakian membutuhkan waktu 4 jam 5 menit, sementara
perjalanan turun membutuhkan waktu kurang lebih 2 jam 30 menit. Panjang jalur
pendakian hanya sekitar 4 Km, namun dengan kemiringan yang cukup berat, start
dari 660 mdpl menuju ke 1.653 mdpl, yang kalau dihitung pakai rumus arcsinus
maka akan ketemu kemiringan rata2 sebesar 14.5 derajad. Pemandangan selama
pendakian bagus. Track pendakian relatif aman, karena jalurnya rapi berundak
tanah, akar pohon maupun batu, tidak seperti jalur Tamiajeng yang banyak
kerikil yang bisa berjatuhan saat diinjak. Petunjuk arah sangat jelas, dijamin
aman bagi pemula. Demikian Sobat Alam yang dapat kami share dan semoga
bermanfaat.
BUKIT JABAL MALANG
Bukit JABAL masih terasa asing di telinga kita, tidak
seperti Gunung Panderman yang sangat dikenal dikalangan pecinta alam khususnya
di wilayah Mala…Read More
CYTREK KEDUNG DARMO BANTURMungkin banyak yang belum familiar dengan “KEDUNG DARMO”, meskipun warga kota Malang sekalipun, karena memang tempatnya nun jauh di Kecamatan Bantur K…Read More
PENDAKIAN GUNUNG WELIRANG VIA KALIANDRAGunung Welirang adalah salah satu gunung berapi aktif, yang berada
di 3 wilayah Pemerintahan Daerah Tingkat II Kota Batu, Kabupaten Pasuruan dan
Kabup…Read More
PENDAKIAN GUNUNG ANJASMORO VIA CANGAR
Gunung Anjasmoro kurang begitu populer bagi para pecinta
alam, tidak seperti Arjuna – Welirang – Penanggungan, meskipun letaknya
berdekatan. Keberad…Read More
PENDAKIAN GUNUNG PENANGGUNGAN
Buka-buka info pendakian di
suatu laman, ternyata Gunung Penangggungan sudah dibuka, untuk tahap uji coba pembukaan
dilakukan di jalur “KEDUNGUDI”, …Read More
Gowes adalah kegiatan favorite saya, manfaat utama adalah sehat, juga menjadi sarana refreshing penghilang kepenatan, dan bonusnya adalah bisa silaturahmi dengan banyak orang, khususnya sahabat gowes...
Cukup banyak database rute gowes area Malang – Batu yang sdh kami jejaki, dengan macam2 jenis track-nya, dari aspal mulus sampai makadam rusak, mendaki maupun yang menurun, jalan kampung – sawah – hutan pegunungan dengan segala variasi-nya...
Nah, bagi sobat gowes luar Malang yang belum pernah merasakan sensasi track AREMA, boleh kontak saya, jika waktunya pas Insyaa Allah siap menjadi guide bersama rekans komunitas biker08...
I'm an Engineer, working for state telecommunications company...
Almost all of my education were taken in Malang, but I took my master degree in Northeastern University Boston - Massachuset...
"Always keep your track in the right path, Be Honest, then you are a Free Man"...
Wow keren bangett... gak sabar pengen baca ulasan next destination.... Ogal Agil
ReplyDelete🙏 dengan persiapan lebih matang
DeleteMemang menarik, namun buat saya cukup menikmati saja apa yg diungkapkan disini ... Allah maha besar..
ReplyDeleteKapan2 join pak
DeleteDengan susah payah dan memerlukan power yg cukup gede wow ...!!
ReplyDeleteTernyata ternyata layar biasa alam pegunungan ini...
Next berikutnya ditunggu.
Saya yang dari Kunjorowesi sendirian pak👋
ReplyDeleteini mbak yang turun duluan atau mas yang turun belakangan...soalnya dua2nya lonehiker dan sama2 dari kunjorowesi...
DeleteMantap om saya termasuk pemuda dari surabaya
ReplyDeleteya mas...smg bisa ketemu lagi di puncak yg lain...tks
Delete