Saturday, June 22, 2019

GUNUNG KATU : Gowes Wisata


22 Juni 2019, sekitar setengah bulan pasca lebaran, kaki dah gatal pingin gowes lagi, sudah sebulan lebih kaki ini nggak ngayuh pedal sepeda. Pagi ini, berangkat dari rumah jam 5.20 menuju rumah rekan Riaman, kami dah janjian gowes ke Gunung Katu, yang jika dipandang dari lantai 4 gedung kantor Telkom Blimbing bak perahu terbalik.

Sampai di rumah rekan Riaman, Klayatan Gg.2, kami ngopi2 dulu sambil menghabiskan sebatang cigarrete, dilanjut gowes menuju Gunung Katu. Jalan yang kami lalui sebagian besar adalah jalan desa beraspal sepanjang 9 km, setelah mendekati lokasi wisata Gunung katu barulah kami jumpai jalan tanah sepanjang kira-kira 2 km, yang sebagian sudah beralaskan paving, yang terlihat belum lama dibangun.


Sesampainya di lokasi wisata, nampak cukup banyak warung2 yang kurang terawat, mungkin dikarenakan kunjungan wisata yang tidak sebanyak saat dibuka dulu, sehingga para pedagang sudah tidak lagi berminat berjualan disana. Beginilah nasib kebanyakan obyek wisata yang hanya seumur jagung saja, karena ketidak mampuan dalam pengelolaannya. Suasana pepohonan yang asri membuat sangat nyaman bagi kami untuk melepas lelah setelah bike hiking sepanjang kurang lebih 11 km. Tak berapa lama, ada rombongan gowes sebanyak 4 orang menghampiri kami, salah satunya mas Eki, orangnya agak gendut, namun meskipun begitu rupanya termasuk maniak gowes. Sejurus kemudian ada rombongan gowes lagi yang datang, terdiri dari 3 orang cowok dan 2 orang cewek, yang salah satunya bernama mbak Tanti. Kami saling berkenalan, dan ngobrol-ngobrol kecil, dan tak lupa foto bersama.

Setelah cukup beristirahat, kamipun melanjutkan gowes untuk mencapai puncak Gunung Katu, dimana terdapat petilasan Singasari dan Majapahit. Agar dapat gowes sampai puncak, kami mengambil jalan melingkar, dimana slope-nya tidak terlalu extreme. Dan akhirnya sampailah kami di puncak Gunung Katu, pertama kali yang kami tuju adalah petilasan berupa makam, kondisinya sepertinya kurang terawat, tidak ada bau kemenyan seperti kebayakan situs-situs yang dikeramatkan. Makam tersebut terletak tepat di puncak Gunung Katu. Dari sana kita bisa menyaksikan kota malang dari posisi yang sangat baik, namun sayangnya terhalang oleh kabut tipis sehingga tidak nampak jelas. Dibawah makam, terdapat lokasi yang cukup lapang untuk beristirahat pengunjung dan juga terdapat wahana untuk berfoto. Sementara disisi sebelah barat bukit terdapat wahana “jembatan menuju langit”, jembatan terbuat dari bambu yang menjorok ke lembah cukup jauh, apabila kita berdiri diujungnya nampak seolah-olah seperti berdiri di awang-awang, namun sayangnya banyak ruas bambunya yang sudah rusak, sehingga dapat membahayakan pengunjung yang berada diatasnya.

Setelah puas kami berfoto, maka kami balik melalui jalur menuju wagir. Saat turun dari puncak saya cukup menikmati turunan yang cukup men-chalenge nyali kami, dan apabila diteruskan pada jalur yang sama saat berangkat, maka track turunan yang dinikmati bisa lebih panjang lagi. Pada jalur balik via Wagir semuanya melalui jalan aspal mulus, terdapat 2 tanjakan cukup tajam yang sangat menguras tenaga kami, padahal untuk sampai rumah masih harus menempuh 10 km lagi. Singkat cerita dengan sisa-sisa tenaga, saya sendirian mengaspal diterik matahari pk. 12.00 dari Wagir menuju rumah, sementara rekan Riaman berbelok kearah klayatan.

Resume gowes kami adalah, Jarak tempuh 42 km, dengan total waktu hampir 6 jam (termasuk istirahat dilokasi wisata), Puncak tertinggi 740 m dpl, komposisi track Uphill : Flat : Downhill = 37% : 45% : 18%. Untuk mencapai Gunung Katu, menurut saya lebih baik menggunakan sepeda type HardTail dari pada pakai AM, pada gowes kali ini saya menggunakan sepeda AM, dan saya rasakan cukup berat untuk bike hiking, dan jangan lupa menyiapkan air minum yang cukup, karena saya tidak jumpai satupun warung yang buka. Demikian yang bisa kami share kali ini, semoga dapat menjadi referensi bagi sahabat gowes yang ingin menikati puncak Gunung Katu.

Akhirnya salam 2RodaMTB.



Tuesday, April 9, 2019

EXPLORE KAKI SEMERU


Rencana yang sudah lama didiskusikan kawan2 biker08 untuk jelajah Malang bagian selatan, baru kali ini dapat diwujudkan. Sabtu 06 April 2019, seperti biasa kami kumpul di kantor Telkom Sawojajar, dari rencana 7 orang bengkak menjadi 12 orang terlibat pada jelajah offroad seputar kecamatan WAJAK (Tumpang-Poncokusumo-Wajak-Turen) kali ini. Kebetulan cuaca hari ini cerah sekali, kami berangkat menuju titik start ETAPE#1 di Rest Area Gubug Klakah Kecamatan Tumpang sekitar jam 6.30.

Track offroad dimulai dari sebrang rest area Gubug Klakah, turun ke barat daya arah jam 8. Track awal sangat menyenangkan, dengan landasan paving cukup rapi dengan lebar jalan yang cukup, ditambah decline yang lumayan panjang yang diselingi tanjakan2 kecil, di kanan kiri kami adalah kebun apel dan jeruk. Kami meluncur cukup deras di jalur ini, hampir 40 km/jam, hal ini tentunya sangat menggairahkan bagi umumnya gowesser. Disisi timur nampak Mahameru berdiri kokoh, yang terlihat sangat jelas dari tempat kami pedalling, persis disisi kiri kami terbentang jurang yang cukup panjang dan sangat dalam. Setelah menikmati little enduro, kami masuk ke jalan setapak pematang kebun yang posisinya cukup tinggi relatif terhadap tanah kebun, sehingga kalau tidak awas bisa jatuh lumayan dalam, dan cukup banyak turunan curam. Karena member gowes cukup banyak maka kami lebih sering melakukan regrouping karena ada yang tercecer di belakang. Spesifikasi sepeda dan Jenis Ban sangat membantu di track dengan tingkat kesulitan cukup tinggi, sedang faktor manusia adalah skill dan keberanian individu yang paling menentukan kelancaran gowes, kenapa ini saya bahas karena ada anggota baru yg pakai HT 29er, sehingga untuk track decline agak kesulitan, ditambah masih newbie pada track offroad. Lepas dari track pematang kebun tersebut kami disambut hutan pinus yang ditengahnya terbujur single track tanah yang cukup padat, sehingga mendorong kami melakukan enduro kecil lagi sampai di kawasan wisata Ledok Amprong. Dari sini kami menyusuri jalan setapak sepanjang lereng2 yang ditanami Abasia, dimana dikiri kami cukup curam, sehingga kami harus extra hati2. Di kira2 seperlima akhir etape, kami jumpa dengan sungai yang airnya sangat jernih dengan sawah yang hampir menguning disekitarnya. Disini bukan sepenuhnya gowes, tapi ada bagian contest memanggul sepeda, dan ETAPE awal kami ini berakhir di lokasi wisata Sedaer River Tubing.

Total panjang track kurang lebih 7.6 km, menurut catatan Amazfit. Sekalian info utilitas Amazfit (bukan mo promo lho), karena ini pengalaman penulis pertama pakai Amazfit, yang sebelumnya mengandalkan Samsung S-Health, yang paling saya suka adalah record Heart Rate yang mampu mencatat secara detail kerja jantung kita sepanjang gowes (tanpa perlu additional peripheral), ditambah alert saat bpm mencapai maximal kekuatan jantung kita, history beatrate jantung kita di resume menjadi 5 segment mulai dari light sampai extreeme, kemudian ada juga resume slope dalam 3 area : decline, flat dan incline, selebihnya fungsi smart watch standar, seperti alert aplikasi sosmed, telepon, dan pemutar musik digabungkan dengan standar fungsi gps, oh ya…satu lagi yang paling saya suka dari Amazfit adalah sensitifitas connect satelit dan kemudahan download data peta digital, sehingga mudah kita pindahkan ke google maps, sehingga bisa di share ke banyak goweser agar bisa menikmati track yang sudah kami lakukan.


ETAPE#2, diawali dengan loading dari Sedaer menuju ke desa Jajang, melewati desa Pandansari. Start di ketinggian 1.040 dpl di desa Jajang, sekali lagi menyusuri single track menukik. Pada etape ini sebenarnya lebih nyaman dibanding dengan track ETAPE#1, namun disini banyak accident terjadi, diawali dengan rekan Mayur yang melaju kencang pada track turunan berpasir, yang diawalnya dapat dilalui dengan mulus, namun menjelang berhenti setelah melakukan dropped kecil, sepeda terbalik karena pengereman, sampai2 sadel sepeda terbang menjauh dari lokasi jatuhnya rider, Alkhamdulillah hanya cedera kecil di engkel. Kemudian saat melalui single track di pinggir kali kecil, 3 orang terperosok ke sungai, bahkan ada yang sampai 2x di tempat yang berdekatan….nasib.

Pada rute ini kami banyak berpapasan dengan truck pasir, karena area gowes berada disekitar daerah penambangan pasir. Ada juga moment riding menyeberang sungai yg cukup lebar, sayang disini sungainya keruh tidak seperti sungai-sungai yang berada dialiran Das Brantas pada rute Cangar-CobanTalun, dimana airnya sangat bening karena berasal dari sumber yang tidak jauh lokasinya. Setelah menempung jarak hampir 20km, tepat saat berkumandang adzan Dhuhur sampailah kami di titik finish masjid Tiban Turen. Saya walaupun Original Arema, baru sekalinya ini visit masjid Tiban, bangunannya sangat megah penuh dengan ukiran gipsum yang tentunya memerlukan ketelatenan yang sangat tinggi dalam proses pembangunan dan pengecatan. Setelah berkeliling didalam komplek masjid, kami beristirahat sejenak sambil menunggu rekan2 yang upload sepeda ke pickup yang akan membawa kami ke lokasi start etape berikutnya di dusun Sarirejo.

Kami dibawa pickup menuju titik start ETAPE#3, kearah desa Sumber Putih – Desa Tambak Rejo untuk menuju dusun Sarirejo. Ditengah perjalanan, kami mampir ISHOMA di pasar Bringin untuk makan siang dan sekaligus sholat Dhuhur. Setelah hampir satu jam perjalanan loading, sampailah kami dititik start, gowes dimulai dengan memunggungi gunung Semeru, tidak jauh dari titik start kami berhenti sejenak untuk menyapa puncak Semeru, namun karena cuaca agak mendung, kami tidak bisa menyaksikan senyum dari puncak Semeru, yang konon sangat indah dilihat dari sisi ini.

Track pada ETAPE#3 ini sangat memanjakan kami, menuruni single track yang diselang seling kebun dan hutan pinus, dengan hampir tanpa tanjakan, sehingga kami bisa melaju cukup kencang dengan kecepatan 27 km/h, namun sekali lagi beberapa kali berhenti untuk regrouping karena 29er cukup sulit dikendalikan saat enduro. Yang pasti track penutup ini pas banget, untuk dapat memuaskan kami dengan jalur turunan yang cukup panjang kurang lebih 8km dengan tanah padat anti slip meski dengan ban standar MTB. Akhirnya kami semua finish di lokasi wisata Winong dekat BoonPring.

Alhamdulillah, kegiatan gowes kali ini berjalan dengan lancar, cuaca baik tanpa diganggu guyuran hujan, semua selamat sampai garis finish, dan saya sampai rumah sekitar waktu magrib. Sekian sobat cerita gowes kali ini, semoga share ini bisa menjadi referensi sobat gowes yang ingin melakukan hal yang sama.

Akhirnya salam 2rodaMTB…

Saturday, March 16, 2019

LERENG PANDERMAN : Jelajah track off road menuju Coban Tengah


Gowes kali ini adalah gowes remedy dari yang sudah kami lakukan pada November 2017 lalu. Saat itu tracking kita kebablasan karena keenakan speed di turunan coban rondo, sehingga gak sempat lihat belokan arah Coban Tengah, tahu2 sudah sampai Coban Rondo. Nah kali ini saya coba sekali lagi dengan rute yang sama, start dari Perumahan Panderman Hills, juga dengan partner yang sama mas David, menyisir lereng Panderman sebelah utara.

Berangkat dari Kantor Telkom Batu, Sabtu 16 Maret 2019, jam 06.45. Siksaan awal adalah mendaki jalanan perumahan Panderman Hills yang lumayan extreme, disini saya sempat terhenti 2x, bukan karena faktor kaki atau nafas, tapi karena alarm Heart Rate menunjuk angka 170 bpm, jangan sampai maunya do training tapi malah colapse. Keluar perumahan Panderman Hills, mulailah track offroad pertama, sepanjang kira-kira 2.7 km adalah single track yang teramat licin dikarenakan turun hujan semalam, ditambah banyak rel bekas roda motor ataupun jalan air. Mungkin seperempat bagiannya saya lalui dengan menuntun sepeda, karena tidak memungkinkan untuk mengendarai sepeda pada kondisi track seperti itu.

Selesai dengan 2.7 km, dan setelah melewati perkampungan, sampailah di jalan akses menuju lokasi parkir bagi para pecinta alam yg ingin berkemah di Puncak Panderman. Saya potong jalan, menuju offroad etape dua. Masih single track dengan kondisi tanah licin, pada tahap ini banyak sekali persimpangan jalan yang susah untuk diingat meskipun sudah pernah saya lalui sebelumnya, disini GPS cukup membantu untuk menentukan pilihan arah yang akan diambil, namun sialnya banyak jalan setapak yang dibuat khusus menuju lokasi pertanian, dan jika kita terperangkap di jalur ini maka apes-lah kita, dan saya terperangkap 2x dijalur tersebut…alaa mak. Setelah menempuh jarak sekitar 6 km, sampailah saya di gerbang masuk Coban Tengah yang  kondisinya sangat memprihatinkan karena tidak terawat, oh ya…pada tahap ini terdapat track mengelilingi jurang yang cukup panjang, yang hampir sama dengan track lembah seribu. Dari sini tak nampak air terjun-nya, sudah kepalang tanggung dan kami tidak ingin melewatkan untuk menyaksikan penampakan Coban Tengah, maka sepeda kami sembunyikan di semak-semak, dan kami susuri sungai sepanjang kurang lebih 650 meter, maka sampailah saya di lokasi air terjun alias coban. Air Terjun Coban Tengah tidak terlalu besar debit airnya, namun ditumpahkan dari jarak yang cukup tinggi. Di sekitar lokasi air terjun terdapat TOILET yang kondisinya memprihatinkan, mungkin dulunya banyak pengunjung, namun karena kondisi medan yang sulit untuk menjangkaunya, sehingga tidak lagi banyak yang meminatinya, namun masih ada saja yang kesana meskipun tidak banyak, hal ini dapat dilihat dari adanya pemampasan segar ranting2 sepanjang jalan setapak menuju ke sana. Bagi peminat Coban Tengah yang tidak mau report, dapat menjangkaunya melalui akses jalan menuju Coban Rondo,  disini terdapat petunjuk arah yang mudah diikuti.

Mendung tebal mulai menyelimuti langit diatas Coban Tengah, dan saya pun segera berkemas untuk meninggalkan lokasi menuju titik finish di Kantor Telkom Batu melewati jalur utama. Ada hal menarik dari catatan Amazfit saya, saat berpacu di jalan aspal dari Patung Sapi  Pujon menuju titik finish, dengan kecepatan maximum 49 km/jam, ternyata Heart Rate saya mencapai angka tertinggi 190 bpm. Ternyata degup jantung tercepat tidak terjadi pada saat kita mengerahkan seluruh tenaga saat melahap tanjakan extreme, namun malah terjadi saat melaju pada decline track dengan kecepatan tinggi, seperti yang pernah saya baca bahwa olahragawan dengan degup jantung tercepat adalah pembalap MOTO GP.  

Ringkasan Gowes kali ini adalah, total jarak tempuh adalah 29.69 km; min/max altitude 885 dpl/ 1.561 dpl; slope sepanjang rute gowes : uphill = 65%, flat = 19%, downhill = 16% ; waktu tempuh 6 jam 24 menit, catatan waktu ini sudah termasuk tracking menyusur sungai menuju Air terjun dan istirahat di lokasi air terjun. Oh ya, bagi yang tidak senang bike hiking dan prefer enduro, maka rute bisa dibalik, dari coban rondo menuju panderman hills.

Demikian "story telling" (he3x...kayak lomba anak SMP) yang bisa kita bagi pada sobat gowes kali ini, semoga bisa menjadi referensi bagi yang tertarik untuk visiting Coban Tengah dan bike hiking tuk explore lereng Panderman, dan akhirnya Salam 2rodaMTB.


Thursday, February 28, 2019

Boon PRING : Gowes Wisata

Jumpa kembali sobat gowes, kali ini saya akan sharing pengalaman gowes ke Tempat Wisata BoonPring di Kecamatan Turen Kabupaten Malang, pada Sabtu 17 Pebruari 2019. Kebetulan salah seorang anggota biker08 ada yang punya hajat “SYUKURAN” atas terkabul do’a-nya, yaitu do’a….ah kenapa bahas isi do’a orang….kepo, ha33x…..

Sesuai undangan tasyakuran, perjalanan menuju lokasi tasyakuran yakni di BoonPring, dimulai dari kantor Telkom Kepanjen sebagai lokasi start,  six and a half as stated on “ULEM2”, tapi seperti yang sudah2, start molor sampai jam 07.45. Dalam bayangan saya, gowes kali ini akan berlomba dengan motor, mobil dan truck, ditambah “bonus” gas CO yang melimpah. Namun ternyata sang marshal mbah OT, ssudah menyiapkan rute bersahabat, from kampoong to kampoong, sehingga tidak banyak bersaing dengan kendaraan bermotor dan tentunya bonus CO juga sangat minimal. Sepanjang perjalanan adalah track aspal kampung yang cukup bagus dan jalannya landai2 saja, artinya gak ada slope yg berarti, sampai pada km 18nd,  ada tanjakan sepanjang 200 meter yang cukup extreem, yang membuat banyak anggota biker08 tumbang, namun alhamdulillah bahwa anggota kami yang paling berat (105kg), masih bertahan karena telah mengaplikasikan resep mujarap Kakek the mekanik, yaitu sprocket 42t. Perjalanan masih dilanjut dengan track jalan desa beraspal mulus yang di kiri-kanannya terbentang sawah sejauh mata memandang.

Sampai km 21st, mulailah masuk pada rute off-road, namun sayangnya karena termakan tanjakan pada km 18nd,  jadilah kami menjadi 2 groupping, dan celaka-nya marshal grup depan dan grup belakang, punya “vocab” rute yang berbeda, maka terpisahlah kami di titik ini. Beruntung saya ikut marshall mbah OT, melewati rute pendek yang berakhir tepat disamping POS LOKET masuk wisata BoonPring. Sedangkan grup belakang yang dipimpin marshall Inos SINCHAN, mengambil rute yang lumayan jauh memutar.

Total jarak tempuh yang kami jalani adalah kurang lebih 26 km, namun grup-2 tentunya menempuh jarak yang lebih jauh karena mengambil jalur memutar, mungkin lebih panjang sekitar 2 km. Nah sesampainya di lokasi, sudah disambut menu rumahan kare ayam, sambel terong-pete, urap2, tempe bacem, sambal teri, dan yang paling yummiii adalah es kopyor. Tak ayal, regu pertama datang terlebih dahulu karena menempuh jarak yang lebih pendek, maka jadilah kita mengawali cicip menu, ……..wooww lezat sekale masBro. Makan disaung di bawah rindang pohon dengan pemandangan sendang (danau kecil) dibawah kita, inilah yang disebut BOONPRING yang artinya kebun Pring (bambu). Menurut saya tempat wisata ini cukup recommended untuk dikunjungi bagi yang berniat mencari kesejukan ditengah suasana kota yang cukup panas. Fasilitas parkir cukup luas, penjual makanan dan jajanan tersedia, suasana asri sendang dikelilingi hutan bambu, dengan becak air, balon air siap di sendang, so bagaimana gaes…tak ada salahnya untuk dikunjungi, sehingga paling tidak membantu menggelindingkan roda ekonomi kecil yang akan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat sekitar.

At the end of story, saya share rute detailnya, yang mungkin bermanfaat bagi sobat gowes yang berminat tengok BOONPRING sambil gowes. The route is : Jalan Sultan Agung - Jalan Mentaraman - Jalan Sultan Hasanudin - Jalan Getek - Jalan Purwantoro - Jalan Botokawarso - Jalan Pahlawan - Jalan Pertahanan - Jalan Sumber Ilmu - Masjid Ar-Rokhman - nyebrang jalan besar Bululawang/Gondanglegi - lurus terus sampai pasar Turen - Jalan Ahmad Yani - Jalan Raya Pamotan - Jalan Kauman Bokor - terus arah utara Ds. Jambangan - offroad BoonPring – BOONPRING.



Demikian rekans, sahabats, brothers & sisters gowes, tak lupa Salam 2rodaMTB.


Sunday, January 6, 2019

LEMBAH SERIBU : Explore Track Gowes




Gowes Lembah Seribu sudah lama ingin saya lakukan, namun belum ketemu rekan yang bisa escorting untuk jelajah track tersebut. Sampai akhirnya sepakat dengan rekan David untuk survey rute tersebut. Berbekal sedikit info dari masBoy yang sebelumnya sudah pernah kesana dan hasil obrolan kecil dengan sobat goweser yang ketemu di Bedengan minggu lalu. Bangun subuh Minggu 6 Januari 2019 lumayan berat, karena Sabtu-nya badan ini habis dihajar Tennis 2 set, kalau tidak karena “kalah janji” dengan rekan David, sebenernya malas untuk gowes, karena otot sekujur tubuh masih terasa pegal (nek wong jawa ngarani njarem, he3x). Janji 5.30 tikum Kantor Telkom Batu, tidak mampu saya tepati, nyampe lokasi sekitar 5.50, padahal sebelum 5.30 David sudah standby di lokasi, “Tut Mir Leid, her David”. Setelah Download sepeda, sekitar jam 6.05 kita berdua berangkat. Eh sebelum berangkat, sebenarnya kami sedikit bingung dengan bagaimana cara mencapai start point paralayang dari kantor Telkom Batu, jika lewat jalur utama Batu-Pujon jaraknya terlalu jauh, namun jika memotong lewat jalan Rajegwesi (gunung klemuk) incline-nya mengerikan. Karena tidak ada pilihan lain yang lebih baik, akhirnya saya putuskan untuk ambil rute pendek jalan Rajegwesi, dengan konskuensi ada acara malu “nuntun Sepeda”.

Kantor Telkom – Alun2 Kota Batu – Panglima Sudirman – Trunojoyo – pintas Arumdalu – Rajegwesi, belok kanan masuk kampung menuju wisata Paralayang Gunung Banyak, kita ikuti saja jalur ini sampai mentok, belok kanan ketemu berjajar warung2 makan, belokan kiri pertama (jalan beton/ cor semen) masuk. Kita ikuti saja jalan ini dengan patokan arah “North Destination”. Dari jalan cor semen ini, sepanjang kurang lebih 3 Km akan kita jumpai kampung yang cukup ramai di selang-seling ladang/ kebun, jalannya aspal yang relatif baik, sampai ketemu jalan makadam kurang lebih sepanjang 300m, sampailah kami di titik start lembah seribu, di ketinggian 1.287 mdpl. Istirahat sejenak, snack fit bar untuk menambah tenaga yang sudah terkuras melahap elevation gain hampir 500 m sejak dari kantor Telkom Batu, minum air sari kelapa, ditemani sebatang cigarret mild, sambil ngobrol dengan bapak-bapak yang sedang menambal pipa paralon air yang bocor, tak lupa sessi foto.



Selepas penat, kami lanjutkan etape berikutnya, yaitu menyisir jalur lembah seribu. Sambil gowes sepanjang lereng yang disebelah kanan kami terhampar jurang/lembah yang tiada putus, saya berfikir, “apakah karena lembahnya terbentang sepanjang jalur gowes ini yang menyebabkan disebut lembah seribu”, mungkin seribu adalah istilah yang pas untuk menggambarkan panjang lembah yang tiada putus, bukan sejuta; seperti halnya jutawan untuk menggambarkan orang tajir, bukan milyar-wan, ha33x. Track yang kita lalui masih menanjak sepanjang kurang lebih 3 km, slope-nya lumayan menantang, sampailah kami dipuncak ketinggian sekitar 1.500 mdpl. Sepanjang jalur ini, banyak simpangan-simpangan yang kadang membuat ragu dalam memilih. Namun jika kita buka google map (signal T-sel available sepanjang jalur gowes), maka akan mudah untuk memilih, dengan point of reference adalah Coban Talun dan Taman rekreasi Selecta.


Start from the peak, track tersisa adalah turunan sepanjang kurang lebih 5 km, yang sangat memanjakan “raja turunan”. Berpacu dalam ketegangan bercampur kenikmatan, maka meluncurlah kami berdua di decline track ini dengan David mendahului saya, kecepatan maximal saya di 45 kmph, jalur ini berakhir di kawasan Wisata Bukit Kungkuk. Puas rasanya, setelah berhasil menyelesaikan explore rute lembah seribu, disamping rute sudah terecord, juga karena sepanjang rute suasana hijau hutan sangat menyejukkan. Pesan kami kepada para goweser untuk jangan takut explore rute2 yang belum dikenal, dengan mempelajari global map diawal, dan memperhatikan beberapa point of reference yang dirasa cukup membantu, Insyaa Allah gak akan tersesat. Dan jangan lupa bekal minum yang cukup, snack, kunci portable, ban dalam cadangan, HP (untuk jaga2, download map offline, apabila dijalur gowes gak nemu signal selular). Perlu kami infokan juga, bahwa track Lembah Seribu ini tanahnya cukup licin saat kondisi basah, so apabila habis turun hujan sehari sebelumnya, agar lebih hati2 dan tidak memaksakan enduro kecepatan tinggi.


Ok masBro n mBakSis, sampai disini acara berbagi info gowes, kami juga masih penasaran untuk menyelesaikan track lembah seribu yang berakhir di Coban Talun, tunggu tanggal mainnya.



Salam 2rodaMTB




Monday, December 17, 2018

Wana Wisata Hutan Jati Blora




Kali ini Biker08 punya gawe Gowes Wanawisata Blora, sebagai penutup kegiatan Touring Luar Kota 2018. Track yang dibidik adalah Hutan Jati di kawasan kabupaten Blora. Bukan tanpa alasan kenapa memilih daerah tersebut, karena ada anggota kami yang berasal dari sana, dan kebetulan kedua orang tuanya masih sugeng (sehat) dan tinggal disana, sehingga akomodasi penginapan dan makan adalah “free of Charge alias No Pay”, he33x…jurus hemat ala biker08. Thanks a lot P. Besut, for your hospitality, jangan kapok ngundang lagi.

Sabtu pagi 15 Desember 2018, satu kendaraan Long Elf dengan kapasitas 16 penumpang dan 1 truck DMax owned by p.Ugeng salah satu anggota kami, siap dengan 15 Bikes loaded. Kira2 jam 7.30 waktu tikum (Kantor Telkom Sawojajar) berangkat menuju Blora. Sepanjang perjalanan, yang namanya GUGOSAE (guyon gojlok2an Sampe Elek) tidak pernah berhenti, periode diam meski sekejap-pun tak mendapat kesempatan sepanjang perjalanan, namun sayangnya “korban” gugosae adalah tuan rumah, sampai2 p. Besut kehabisan kata2 double cover dan diam adalah senjata pamungkasnya. Singkat cerita, sampailah kami di tempat tujuan, di desa Punggur yang berjarak 2 km dari alun2 kota Blora. Setelah sejenak bersilaturahmi dengan bapak-ibunya p.Besut, dan tanpa downloading bikes terlebih dahulu, kami langsung balik ke pusat kota Blora untuk mengabadikan gambar kami dengan latar ikon kota Blora dan tentunya wisata kuliner khas Blora, Sate Blora, Soto Klethuk, Enthung Jati, khususon Sate Kambing-nya luuueeezaaat masbro, kalau penasaran boleh dicoba sendiri.

Keesokan harinya, kami dijamu sarapan pagi pecel pincuk godhong jati, yang bagi orang kota menjadi barang langka, aroma daun jati merebak saat di tumpahkan nasi putih panas diatasnya, semakin merangsang selera makan. Kira2 jam 07.00 kami berangkat menuju tikum ex stasiun kota Blora yang sekarang dialih fungsikan menjadi terminal Ngopi, untuk bertemu dengan komunitas gowes Blora. Kami menyusur jalan Jendral Sudirman yang merupakan akses utama masuk kota Blora dari arah timur, selanjutnya berbelok memasuki jalan Veteran  untuk kemudian memasuki track off-road. Interval pertama yang kami tuju adalah embung Plered yang terletak di dukuh Betet – desa Purworejo – kec. Blora Kota. Embung Plered ini dibangun pemerintah kabupaten Blora dengan tujuan untuk menggalakkan wisata di daerah tersebut, disamping fungsi utama sebagai penampung air dan irigasi pertanian. Namun sayang, niat baik pemerintah daerah untuk meningkatkan perekonomian masyarakat desa, dengan telah ditebarkannya ribuan bibit ikan, kemudian rencana penanaman pohon buah disekitarnya dan pengembangan wisata kuliner, sepertinya hanya sebatas angan-angan, karena sejak diisi air pada awal Januari 2018 sampai dengan kunjungan kami, nampak kurang terawat dan terkesan terbengkalai. Menurut data statistik, embung tersebut dibangun diareal seluas 5 hektare, memiliki  daya tampung air sebanyak 210.870 meter kubik, dan mampu mengairi lahan pertanian seluas 125 hektare, adapun nilai kontrak pembangunannya sebesar 14M rupiah.

Etape selanjutnya menuju Oil Drilling di desa Semanggi. Yang menarik adalah sumur2 minyak yang ada disana adalah sumur kuno peninggalan zaman kolonial Belanda. Sumur minyak tersebut dikenal dengan sebutan “SUMUR ANGGUK” karena mesin pompanya berbentuk seperti kepala yang mengangguk-angguk. Sepanjang jalan menuju kesana didominasi oleh jalan makadam batu putih dengan kontur naik turun yang lumayan menyiksa paha dan mendorong degup jantung sampai level 150 bpm, ditambah sengatan terik matahari yang serasa memanggang kulit kami. Dikanan kiri dipenuhi hutan jati yang mulai semi daunnya, namun sayang nampaknya banyak hama ulat yang menggerogotinya. Ditengah perjalanan kami beristirahat di warung kopi dukuh setempat untuk menikmati kopi santan kas desa tersebut. Yang membuat kami takjub adalah hampir semua rumah disetiap desa yang kami lalui tersusun dari kayu jati tua. Kerangka atap, dinding, lantai, perabotan rumah tangga semuanya terbuat dari kayu jati kualitas A, dan jika di kota, saya rasa hanya orang kaya saja yang mampu melakukannya. Sekitar jam 11.30 sampailah kami di salah satu sumur angguk di desa Semanggi Kec. Jepon. Acara tebar pesona didepan Digital Phone Camera dimulai, tentunya dengan latar Sumur angguk yang legendaris. Setelah puas berfoto kami bongkar kiriman rangsum menu tradisional : nasi jagung, urap-urap, sambel teri, oseng-oseng enthung jati, telur dadar, tempe ndesa dan tak ketinggalan kerupuk. Selain sumur tua peninggalan Belanda, Pertamina terus mencari sumur2 baru di kawasan ini, salah satunya adalah sumur Banyuasin yang pengeborannya dimulai pada 7 Nopember 2018, dengan kedalaman 2.036 meter, sumur ini diharapkan dapat menghasilkan 150 barel minyak per hari.

Tujuan selanjutnya adalah Jurang Jero, masih tetap track offroad. Untung tak dapat diraih-malang tak dapat ditolak, roda belakang sepeda dedengkot biker08 “PACE” mencium duri, bangga tak dapat digapai – malu tak mampu ditolak, akhirnya Pace bersama sepedanya dengan sangat terpaksa berada diatas Truck DMax yang sedari start mengawal kami. Benar adanya bahwa Tuhan maha pengasih dan penyayang, do’a Pace terjawab,  tidak berapa lama jatuh korban, lik Mentrik alias lik Tris mengalami kram yang cukup parah sehingga tak mampu melanjutkan gowes, jadilah Pace mengendarai sepeda lik Mentrik, maka selamatlah kredibilitas Pace sebagai maskotnya biker08. Lepas dari Jurang Jero, kami melibas aspal mulus jalan raya Randublatung-Blora sampai di titik finish desa Punggur.

Perjalanan kami kali ini menempuh jarak kurang lebih 45 Km dengan waktu tempuh sekitar 7 jam. Alhamdulilah semua berjalan dengan lancar, seluruh anggota sampai titik finish dengan selamat. Bahwa “Setiap Track Yang Berbeda Menawarkan Experience Yang Berbeda” adalah moto kami, maka dimanapun kami gowes dan di track apapun selalu kebahagiaan yang kami bawa pulang sebagai buah tangan, tak ada kata kecewa atau menyesal. Setelah up-loading sepeda dan bersih2 badan, kami berangkat pulang ke Malang sekitar jam 17.20. Demikian yang bisa kami bagi kepada sahabat gowes kali ini, semoga kami masih diberi umur panjang untuk dapat membagi pengalaman gowes berikutnya.

Salam 2rodaMTB

Friday, December 7, 2018

Bromo Classic


Bromo…emang gak ada matinya…

Sudah sekian kali gowes ke Bromo, tapi gak pernah bosan, selalu saja menemukan kenikmatan baru saat jelajah meskipun rutenya sama, karena setiap waktu yang berbeda, alam selalu menawarkan sesuatu yang berbeda pula. Sehingga agak aneh jika ada orang yang tidak mau gowes ke Bromo, karena argument berikut “aku sudah khatam, karena masa sekolahku dulu sudah berpuluh-puluh kali ke Bromo”, seperti kata rekan kami mbah Di.

Pada gowes kali ini kami mengambil rute standar “Bromo Classic” atau sering disebut rute thawaf, karena rutenya mengelilingi Gunung Bromo, dimulai dari Jemlang dan diakhiri di bukit Teletubies, sedangkan dari Teletubies ke Jemplang diangkut truck (sudah agak bosan sorobike…ha33x). Dipilihnya rute classic bukan tanpa alasan, karena ini acara special mengantar rekan kami mbah No yang belum pernah sekalipun gowes track Bromo, selain itu menyambut awal hujan yang sudah rutin mengguyur pasir Bromo, dan untuk menyaksikan hijaunya savana disekeliling lautan pasir.

Saya berangkat dari rumah jam 5.15 menuju kantor Telkom Sawojajar sebagai tikum yang sudah disepakati, diiringi rintik hujan yang tak bosan turun sejak malam hari. Sesampainya di tikum ternyata Pace n David sudah standby mendahului kami. Sayang ada satu rekan  kami mBah Soet yang mendadak tidak bisa turut serta karena sakit (tapi mungkin yang benar adalah karena tidak mendapat SIG alias Surat Ijin Gowes dari kanjeng Mami…wkwkwk). Akhirnya, sekitar pukul 07.00, setelah kelima anggota lengkap dan sepeda sudah rapi diatas Truck-DMax, kamipun berangkat menuju Jemplang dengan diiringi hujan yang lumayan deras.

Alhamdulillah, setelah menempuh kurang lebih 1 jam perjalanan, sampailah kami di Jemplang, dan Alhamdulillah sekali lagi karena cuaca cerah dengan sedikit mendung bergelanyut di awang-awang, semakin pas untuk kegiatan gowes. Namun rupanya David dan Pace belum sarapan, dengan terpaksa semangkuk bakso disantap untuk reserve energy sebelum gowes. Sekitar pukul 08.00, pedal sepeda mulai digenjot, untuk membelah track offroad jemplang-widodaren. Sepanjang perjalanan, rimbun hijau dedaunan menyejukkan mata, kondisi track basah namun tidak becek membuat debu sulit untuk terbang mengganggu hidung kami. Sesampainya di New Zemplang, nampak savana yang menghijau menyelimuti lereng-lereng bukit di kawasan pegunungan Tengger. Tak bosannya kami berfoto, meskipun telah berkali2 take action disitu, apalagi mbah No yang baru pertama kalinya melihat indahnya New Zemplang. Setelah puas take photo dan cycling di track bagian atas gunung Bromo, maka saatnya menikmati track lautan pasir. Hujan membuat pasir bromo cukup padat untuk tidak membuatnya ambles saat roda MTB kami menjejaknya. Gowes kami sangat nyaman, dan tidak menguras energy, ditambah suasana mendung membuat kami tidak merasa kepanasan oleh terik matahari, sehingga botol minum tidak sampai kosong isinya. Istirahat sebentar di Pura Bromo, dan kebetulan pintunya dibuka sehingga kami bisa masuk ke dalam area pura, nampak 4 orang sedang membersihkan timbunan pasir di halaman pura yang tebalnya kira-kira 30 cm, pada areal yang cukup luas. Menurut salah seorang pekerja, mereka sudah bekerja 4 hari membersihkan pasir namun belum juga kelar. Perjalanan dilanjut ke Bukit Teletubies melewati kawasan pasir berbisik, namun sayangnya para pasir tidak ada satu butirpun yang berbisik ke telinga kami, mungkin karena padat oleh air hujan, ditambah angin tidak cukup kuat berhembus. Tak berapa lama, sampailah kami di kawasan bukit Teletubies yang sudah nampak menghijau, namun rumput teletubies yang ujungnya bebulu seperti kapas belum nampak terlihat, mungkin masih perlu beberapa minggu guyuran hujan untuk menghadirkannya. Kami tidak bisa berlama-lama cangkruk di warungkopi, karena bertepatan kami datang, para penjaja warung sudah bersiap-siap melipat dagangannya. Kamipun segera upload sepeda kami keatas DMax yang sudah lama menunggu disitu. Gowes kami kali ini sangat singkat, disamping track tidak terlalu berat, kami juga tidak terlalu banyak menghabiskan waktu untuk beristirahat di spot2 foto, dan akhirnya bersamaan terdengarnya adzan sholat Ashar sayapun sudah sampai dirumah.

Demikian sobat 2rodaMTB, cerita yang bisa kami share pada kesempatan ini, mungkin sebagian besar sobat sudah pernah merasakan track classic ini, dan bagi yang belum dan ingin (bukan seperti mbah Di) bisa kontak kami, jika ada waktu luang dengan senang hati kami siap menemani, hitung2 nambah “paseduluran”.

Salam 2rodaMTB

Wednesday, November 21, 2018

Ridho Allah

Ridho Allah...
Selalu menjadi dalih kita, untuk setiap amalan yang kita lakukan...
Namun, apakah kita tahu benar makna mencari ridho Allah...
Allah ridho adalah Allah senang terhadap apa yang kita lakukan...
Sesederhana itu maknanya...

Kita lakukan hal-hal baik, seperti yang dicontohkan nabi kita...
Tak perlu menyalahkan orang lain yang tak sama persis dengan kita...
Jangan berlagak seperti tetangga Rasulullah...
Apalagi seolah-olah asistennya Gusti Allah..
Kita tidak pernah tahu benar, mana yang lebih benar menurut Allah...
Berbuatlah kebajikan sebagaimana yang telah kita pahami...
Jangan pernah meng-kavling sorga untuk kita...
Neraka untuk mereka...
Jangan pernah meng-hak-i pahala untuk kita...
Dosa untuk mereka...
Semua itu hak mutlak Allah...
Dan jangan pernah kita menawar...
Kewajiban kita hanya ikhtiar...
Untuk menyenangkan gusti Allah...

rangkuman mauidhoh hasanah gus Mus

Tuesday, November 20, 2018

Dunia Terbalik

Jika seorang polisi penegak hukum, dihukum...
Jika petugas keamanan, diamankan...
Jika seorang hakim pengadil perkara, diadili...
Jika jaksa penuntut, dituntut...
Jika pemberantas korupsi, melakukan korupsi...
Jika wakil rakyat, namun tidak membela rakyat...
Jika kepala daerah, lebih sibuk memperkaya diri...
Jika seorang pejabat, tidak amanah...

Jika ethics dan moral adalah standar nilai baku untuk semua tata kelola dalam aspek kehidupan...
Maka keadilan dan kemakmuran akan mudah terwujud...
Jika tidak, yang terjadi sebaliknya...
Dunia sepertinya sudah terbalik...

Jika temanmu sedikit, jangan sedih...
Karena orang baik jumlahnya tidak banyak...
Dan jika temanmu banyak, jangan terlalu bangga...
Karena mungkin banyak diantaranya yang tidak baik...
Dunia memang sudah terbalik...

Maka menjadi orang biasa...
Yang mungkin berguna bagi tetangga kiri-kanan saja...
Niscaya lebih  baik dan mulia...

Sunday, November 18, 2018

Gunung Pucung : Survey Track Off Road

Kali ini saya share pengalaman survey track offroad Gunung Pucung. Jumat malam sebelum gowes esoknya, saya coba lihat sekilas di google map, point direction yang akan saya lalui agar waktu gowes gak terlalu banyak lihat maps. Karena mau masuk hutan sendirian di jalur yang belum pernah sekalipun saya lalui, maka Louis Gerneau putih saya Full Loaded, saddle bag belakang berisi ban cadangan dan kunci pas, sedangkan front bag yang terpasang di top tube sesak dengan bekal dan navigasi tools, dan big size bidon 750 ml terisi penuh.


Sabtu pagi sekitar jam 5.20, kayuhan pertama dimulai. Sekitar 20 km pertama kita gowes lewat jalan aspal, via soehat-arhanud-Tawangargo-jalan imam bonjol kota batu-jalan bukit berbunga, saya keluar jalan utama masuk melalui jalan kenanga menuju Gunung Pucung. Tahapan berikut adalah jalan makadam menuju hutan gunung Pucung yang kira2 berjarak 4 km. Dimulai dari ketinggian kurang lebih 700m dpl menuju 1.200m dpl, bisa dibayangkan slope yang diciptakan oleh ketinggian 500m dalam jarak 4.000m, kalau penasaran mo ngitung slope-nya, pakai pythagoras sederhana, he3x. Sepanjang 4 km tersebut, mungkin cuman seperempatnya saja saya temui perkampungan, selebihnya jalan makadam yang dikiri kanannya kebun apel dan jeruk, eh... ada juga beberapa villa, dan lahan bakal bangunan perumahan yang sudah diratakan. Sepanjang 4 km tersebut adalah rute siksaan, sudah mendaki, track nya makadam pula, ampun dah...di akhir track makadam, saya disambut saung tempat istirahat para penyadap getah pinus. Disinilah Gunung Pucung berada, hawa sejuk, angin semilir, membantu memulihkan stamina yang sudah terkuras. Sambil membongkar bekal, dan satu batang cigarette mild, menemani saya menikmati suasana damai.

Cuaca cerah dengan sinar matahari yang bersahabat, tiba2 berubah mendung, nampak seperti hujan ingin turun. Karena tekad sudah bulat, maka survey track saya lanjutkan dengan masuk hutan, sendirian mas bro, tanpa kawan satupun. Setelah gowes kira2 200 meter, keder juga saya, ditengah hutan sendirian gak tahu jalan, saya putuskan balik kucing. Saat balik saya bertemu penyadap getah pinus, setelah ngobrol kecil, saya putuskan lanjut masuk hutan lagi. Walaupun beberapa kali misdirection, saya tetap lanjutkan gowes, dan yang membuat saya berani tetap melanjutkan perjalanan adalah karena bertemu polisi hutan, dia memberikan guidance arah yang membuat saya yakin. Meskipun start dari ketinggian 1.200m dpl, ternyata track offroad didalam hutan ini tidak melulu turun, masih ada tanjakan2 kecil. Setelah keluar hutan, barulah saya temui kebun apel dan jeruk, sepanjang jalan tanah dan makadam. Akhirnya saya keluar di jalan utama karangploso-Batu, tepatnya di sebelah SDN Giripurno 01.

Selesai sudah survey track offroad Gunung Pucung, saya lanjutkan perjalanan pulang melalui jalan utama. Total waktu gowes kali ini sekitar 6 jam 10 menit. Demikian yang bisa saya share, sobat gowes yang mau coba rute ini, bisa loading di Gunung Pucung, sehingga gak perlu capek2 bike hiking. 

Salam 2rodaMTB.



Malang, Saturday, Nov 17, 2018

Tuesday, November 13, 2018

Organization Without a Real Owner tend to be Broken Soon

Manusia pada dasarnya memiliki bibit egois dalam dirinya, yang dalam interaksi sosial dapat mengancam keutuhan kelompoknya dalam skala kecil maupun besar. Seperti teory yang disampaikan The Godfather-nya  Psychoanalyst, Sigmund Freud, bahwa dalam struktur kepribadiannya terdapat 3 unsur, yaitu Id, Superego dan Ego. Id adalah keinginan paling liar yang dimiliki setiap individu, seperti makan, minum, sex, dll, sedangkan Superego adalah norma di luar diri-nya, sementara Ego adalah unsur yang bersifat memutuskan, apakah kita lebih memilih Id atau Superego. Ketika seseorang lebih memilih id-nya tanpa mempertimbangkan superego, maka dia akan menjadi manusia yg menghalalkan segala cara demi memenuhi keinginannya. Frued mengenalkan istilah Idish untuk manusia seperti ini, atau kita lebih mengenalnya sebagai egois.

Saat bapak bangsa kita, yaitu pendiri Negara ini berikrar untuk membentuk NKRI, ego dalam diri beliau-beliau mampu menyeimbangkan antara id dengan superego, sehingga dalam menetapkan tujuan (meraih keinginan dan kebutuhan) selalu mempertimbangkan kepentingan bersama seluruh bangsa Indonesia, bukan sekelompak orang saja atau seorang Soekarno atau seorang Hatta semata. Karenanya bangsa ini dikenal dengan jiwa “Gotong Royong-nya”, hal ini karena adanya keseimbangan Id dan Superego. Dalam perkembangan dunia modern, yang cenderung selalu berkompetisi untuk menjadi yang “TER”, maka keseimbangan antara Id dan Superego mulai bergeser kearah Id dan lebih extreeme lagi bahwa superego sudah tidak tersisa lagi. Hal ini terjadi hampir disemua bangsa di dunia dalam seluruh strata sosial, dengan level yang berbeda, yang cenderung meningkat dari strata primitif/tradisional ke modern.

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara rakyat Indonesia, dahulu secara de facto pemilik negara ini adalah Ir. Soekarno, bung Hatta, orang-orang yang terlibat dalam pendirian NKRI, dan bahkan mungkin seluruh rakyat Indonesia waktu itu yang hatinya tidak rela jika Negara ini hancur, bahkan mereka rela berkorban harta dan nyawa untuk menjaga keutuhan negara ini. Namun di era demokrasi modern saat ini, saya belum menemukan sosok seperti bapak bangsa yang dapat dianggap sebagai pemilik negara ini. Sehingga praktik2 yang berpotensi menuju kehancuran bangsa dan negara ini bisa kita saksikan terjadi silih berganti. Dulu ada kasus impor garam dari India yang digudangkan di pulau Madura, sehingga saat didistribusikan ke pasar, menjadi seolah-olah produk lokal masyarakat Madura, sementara akibatnya stock garam melimpah, harga turun, rakyat lokal menjerit, sayangnya jeritannya sayup-sayup hampir-hampir tidak terdengar. Yang paling uptodate adalah kasus BULOG, sementara Kabulog menyatakan stock beras melimpah, namun impor beras jalan terus, siapa yang dirugikan ?, selalu rakyat kecil yaitu para petani, siapa yang diuntungkan ?, selalu para “******”. Contoh lain dari makin banyaknya kumpulan para Idish adalah saat-saat sekarang, menjelang pilpres 2019, HOAKS beterbangan di seluruh sosmed, saling serang, saling fitnah yang bertujuan sama untuk tampil menjadi pemenang dengan cara apapun. Mungkin tidak secuilpun terbersit pikiran untuk mengalah demi kepentingan bangsa yang lebih besar, yang ada adalah saling sikut antara saudara sedarah, seiman, sesuku,  sebangsa dan setanah air, “jika kau tidak sama denganku, kau adalah musuhku”. Id sudah sedemikian dominan terhadap superego. Kondisi ini berbahaya!!!.

Sekarang kita mencoba melihat scope yang lebih sempit dalam skala korporasi. Sebagai contoh BUMN yang dipimpin oleh seorang direktur, secara keterikatan antara insitusi dan personal (BUMN – Direktur) tidaklah kuat sekali, artinya Apabila perusahaan colapse dia mungkin tidak akan berbuat sesuatu yang sampai mengorbankan seluruh potensi pribadinya, karena mungkin dia dengan mudah mencari pekerjaan lain, dan yang lebih penting masih punya banyak materi. Kondisi kohesivitas yang rendah ini ditambah banyaknya para Idish dalam struktur organisasi, semakin mempercepat kehancuran. Membeli membership golf yang harganya ratusan juta dengan uang perusahaan mungkin jamak terjadi (kecuali ada aturan yang legalkan itu), bahkan mungkin stick golf pribadi-nya juga dibeli dari biaya operasional perusahaan, melakukan perjalanan dinas dengan anggaran perusahaan, namun ticket pesawat dan biaya hotel dibayar oleh dayang2nya dengan menggunakan anggaran entah dari mana, menyisihkan sebagian anggaran operasional setiap bulannya untuk dipakai rekreasi keluar negri bersama unitnya saat akhir tahun, terlalu sering makan siang di resto mahal baik sendiri atau dengan staff dengan memanfaatkan anggaran operasional perusahaan. Kemudian bicara ke skala yang lebih strategic, sangat mungkin terjadi kong kalikong dengan mitra untuk mendapatkan keuntungan pribadi, memanipulasi kinerja perusahaan demi prestasi semu individu/unit yang dampaknya sangat merugikan perusahaan in the long term. Hal-hal demikian sangat mungkin dilakukan karena tidak ada konskuensi material kepada individu, “hancur-hancurlah perusahaan, yang penting diriku sudah dapat banyak”.

Kohesivitas yang tinggi antara pimpinan Institusi  dengan Institusi yang dipimpin akan berdampak pada langgengnya keutuhan Organisasi, hal dapat dibuktikan pada management perusahaan swasta. Pada korporasi swasta, owner adalah pimpinan tertinggi dan mempunyai kekuasaan absolut atas perusahaan. Dalam situasi ini, tak seorangpun dengan leluasa melakukan tindakan-tindakan buruk yang mungkin terjadi pada korporasi BUMN, karena dapat dipastikan owner akan memberikan sangsi dalam skala peringatan sampai pemecatan bahkan diperkarakan hukum. Sehingga semua kegiatan perusahaan seiring selangkah menuju keuntungan dan kelanggengan perusahaan. Owner dengan segala upayanya mengerahkan bahkan mengorbankan seluruh potensinya untuk kemajuan perusahaan. Tidak ada kinerja semu, tidak ada penyelewengan anggaran, dan jika terjadi sangsi berat siap menanti.

Jadi sangat jelas bahwa kohesivitas yang tinggi antara pimpinan dan organisasi yang dipimpinnya akan berpengaruh pada sukses yang sutainable atas organisasi/institusi. kohesivitas yang tinggi itu bisa hadir dengan hadirnya pemilik atau sosok yang berjiwa pemilik.  Saya masih terus bermimpi dan terus bermimpi, suatu saat hadir sosok pemimpin bangsaku yang berjiwa owner, siap mengorbankan segala miliknya untuk kepentingan bangsa dan negara, yang mampu mengatur egonya agar seimbang antara id dan superego, yang mampu menularkan kebaikan kepada seluruh rakyat Indonesia. Dan jika belum mampu menghadirkan prosperity bagi rakyatnya, paling tidak mampu membuat kebijakan publik yang adil, jika mungkin lebih menguntungkan rakyat kecil. Di Indonesia barang apa yang belum ada?, merk apa yang tidak ada?, hampir semua barang yang dibelahan bumi kaya sana ada, disini juga ada. Ponsel Vertue yang harganya tidak masuk akal-pun punya outlet di Jakarta, mobil sport italia yang harganya setara pesawat terbangpun sudah jamak kita saksikan bersliweran di jalanan Indonesia, khususnya Jakarta, barang-barang fashion yang harganya 10x rumah type 45 banyak dipakai dan ditenteng ibu-ibu pejabat dan artis-artis karbitan, “beginilah kalau inginku sudah jauh melebihi butuhku”. Seandainya pemerintah  membuat kebijakan, mobil yang masuk Indonesia adalah merk A dan B saja, impor bahan pangan dilarang jika kebutuhan dalam negri dapat dicukupi oleh petani lokal, barang-barang mewah dikenakan pajak yang sangat mahal, ohhh alangkan indahnya Indonesiaku. Sehingga rakyat tidak didorong menjadi konsumtif, petani terlindungi dari system perdagangan liberal yang kejam, rakyat kecil mendapatkan jaminan sosial yang memadai. Tapi sampai kapan kita berharap…karena nafsu serakah itu secara masive sudah ditularkan oleh para senior ke yunior-nya, atau ide konyol dalam kepala saya segera kita wujudkan, “kita potong leher manusia 25 tahun keatas”, dengan harapan yang tersisa adalah generasi baru yang belum terkontaminasi oleh nafsu keserakahan, Wallahu Alam….

malang, nov 14 2018
resep donat empuk ala dunkin donut resep kue cubit coklat enak dan sederhana resep donat kentang empuk lembut dan enak resep es krim goreng coklat kriuk mudah dan sederhana resep es krim coklat lembut resep bolu karamel panggang sarang semut