Sunday, August 25, 2019

JELAJAH ALAM DESA PUNTEN



Pada kesempatan kali ini, saya bersama komunitas CAD Cycling Community berpartisipasi pada event “Jelajah Alam Desa PUNTEN” yang diadakan oleh salah satu komunitas gowes di kota wisata BATU. Kami bertujuh Saya, pak Mar, mas Fuad, kang Parlan, mas Insan, pakde Eddy, dan pak Bahar adalah Brigade 53, yang jika di-rata2 usia kami bertujuh adalah 53 tahun, dari yang termuda 41 tahun dan yang paling senior 64 tahun. Meskipun kelompok old Crack (above FIFTY), semangat untuk main Offroad masih cukup tinggi.

Sabtu malam, sekitar jam 21.00 kami loading sepeda ke pickup milik mas Insan, dengan harapan besuk paginya bisa lebih santai untuk persiapan berangkat. Pada keesokan harinya, Minggu 25 Agustus 2019 kami berangkat jam 05.30 tepat sesuai rencana. Karena pickup tidak cukup dimuati 7 orang, terpaksa kami menggunakan 2 mobil. Sampai dilokasi Balai Desa Punten kami disambut panitia untuk mengarahkan parkir mobil, suasana sudah cukup ramai para peserta karena jam sudah menunjukkan pukul 06.30 sesuai dengan rencana waktu pemberangkatan. Dan akhirnya pada pukul 07.08 peserta gowes Jelajah Alam Desa Punten diberangkatkan.

Rute kami adalah, start dari Balai Desa Punten Jl. Raya Punten No.19A, kemudian dilanjut masuk gang Buto Jl. Purwosenjoto menuju Gunung Pucung, sepanjang kurang lebih 4 km kami melalui jalan makadam menanjak cukup tajam dimana banyak beserta gowes yang berkali-kali harus berhenti beristirahat karena kejamnya tanjakan PUCUNG, termasuk rekan kami pak Bahar yang sudah terbatuk-batuk karena kekurangan oksigen meskipun jantungnya sudah berusaha memompa dengan kecepatan 180 bpm. Singkat cerita sampailah saya dan pak Bahar di pos#1 pintu masuk hutan gunung Pucung yang ditandai adanya saung tempat istirahat para penyadap getah pinus, sementara rekan2 lainnya sudah mendahului kami berdua. Pada etape kedua ini, sebagian besar adalah jalan tanah didalam hutan gunung Pucung, diselingi jalan makadam, tanah berdebu, dan sesekali kami jumpai kebun bunga. Kami menapak-kan sepeda sampai puncak Gunung Pucung dan kemudian turun ke arah selatan ke jalan Sumbergondo yang tidak jauh dari lokasi start, namun kemudian dibelokkan kearah barat menyeberang jalan Raya Punten untuk berpindah rute gowes di sebelah barat Jalan Raya Punten. Rute dibagian barat jalan raya ini kebanyakan adalah jalan perkampungan. Kami masuk ke sisi barat lewat gang kecil yang berjarak kira2 400m di utara Jl. Melati, kemudian melalui jalan perkampungan sebentar untuk dibelokkan kearah perkebunan jeruk, seterusnya potong jalan masuk pekarangan pribadi yang ilalangnya baru saja di pampras khusus untuk event ini, yang asyik ada masuk galengan sempit sekali dan pinggiran kali yang juga sempit, setelah itu ketemu jalan Anjasmoro lanjut masuk jalan Melati kemudian belok kearah selatan sampai di belakang Hotel Purnama. Dan akhirnya sekitar jam 10.21, alhamdulillah saya dan pak Bahar sampai di lokasi finish balai Desa Punten, sementara kelima rekan kami yang lain sudah duduk-duduk bersantai menikmati alunan musik dangdut dari panggung yang berdiri di lapangan sebelah barat balai desa. Total rute yang kami lalui kurang lebih sepanjang 15 Km, maximum ketinggian lebih dari 1.300 dpl, dengan komposisi track adalah 64% tanjakan, 13% track turun dan sisanya flat.

Secara keseluruhan penyelengaraan event ini di-manage dengan baik, dari aspek pemilihan rute sangat baik dengan segala variasinya, petugas penunjuk jalan dengan disiplin mengarahkan peserta gowes sampai peserta terakhir, pengaturan lokasi parkir sangat baik sehingga tidak merepotkan peserta, penyelenggara tidak mengambil keuntungan finansial dari event ini dan sepertinya murni untuk memanjakan pecinta sepeda gunung, juga untuk mengenalkan potensi wisata desa Punten. Kami sampaikan terima kasih dan Bravo untuk seluruh panitia Jelajah Alam Desa Punten, ditunggu event berikutnya dan tentunya dengan track yang lebih mempesona baik dari sisi beauty view maupun tantangan offroad.

Demikian sobat gowes, dan tak lupa salam 2rodaMTB.



Tuesday, July 23, 2019

GOWES SENBARA9

Kegiatan gowes saya kali ini tidak berkolaborasi dengan rekan komunitas biker08, kami berpartisipasi pada event offroad FUN bike SENBARA (Sepeda Lintas Wisata Blitar Raya), yang pada edisi ke-9 tahun 2019 bertajuk GILAS (Gowes Lintas Alas Blitar Selatan). Saya bersama tetangga sekitar tempat tinggal yang pada awalnya berlima akan mengikuti kegiatan funbike tersebut, namun sayang satu orang membatalkan keikutsertaan pada hari keberangkatan, beruntung ada satu rekan anggota komunitas biker08 yang menggantikannya.

Event Senbara#9 dihelat pada Minggu 21 Juli 2019, dengan lokasi start-finish di Terminal Patria kota Blitar, dengan waktu start jam 06.00. Karena kami domisili di Malang, maka kami berangkat dari Malang pada hari Sabtu tanggal 20 Juli 2019 dan menginap di rumah sepupu di Desa Gandusari kec. Talun, yang letaknya cukup jauh, yaitu kurang lebih 15 km dari lokasi event. Kami tiba kira2 jam 20.00, dan karena waktu makan sudah lewat terlampau panjang dan rasa lapar juga sudah sampai ubun2, kamipun langsung santap olahan menthok pedas yang memang sudah dipersiapkan untuk kami. Setelah puas bersantap dan hilang rasa lapar, kamipun ngobrol bersama tuan rumah sambil menikmati suasana desa di malam hari, akhirnya jam 23.00 kami bubar untuk menghimpun tenaga buat keesokan hari.

Jam 05.30 kami berangkat menuju kantor Telkom Blitar untuk parkir kendaraan, selanjutnya sepeda kami gowes menuju lokasi start yang berjarak kurang lebih 3 km, tiba dilokasi start jam 6.30 kami dapati sebagian peserta masih melakukan senam bersama. Kira2 jam 07.00 dilakukan pemberangkatan, estimasi saya jumlah peserta tidak lebih dari 500 goweser. Kami menyusur jalan Kenari kearah selatan, kemudian masuk jalan kecil pertanian menuju jembatan Trisula Blitar, selanjutnya kami menuju Gunung Betet melalui jalan kampung, pinggiran sawah, juga menyusuri sungai, sampai disini jalan relatif datar dengan pemandangan yang lumayan menghibur. Etape menuju pos pertama ditengah hutan jati sebelum puncak Gunung betet, beberapa bagian naik dan turun cukup terjal, dan mendekati puncak Gunung Betet slope-nya sangat tajam, sehingga semua peserta tiada terkecuali akhirnya menggandeng tunggangannya masing-masing berjalan menuju puncak. Perlu diketahui juga bahwa sebagain besar jalan ditengah hutan jati adalah single track, sehingga seringkali ada antrian panjang jika melalui medan yang agak extreeme. Hutan jati dimusim kemarau akan terlihat sangat gersang karena daunnya digugurkan untuk melakukan hibernasi. Saat menuruni Gunung Betet, terdapat jalan menurun extreeme diselingi bebatuan, yang sebetulnya bisa untuk uji nyali bagi yang senang mengambil resiko, namun karena level biking peserta tidak sama, akhirnya kesempatan itupun sirna disebabkan antrian orang menggandeng sepeda sangat panjang. Rute selanjutnya adalah menuju Bendungan Serut/ PLTA Lodoyo, pada tahap ini terdapat jalan setapak menyusur sungai sepanjang kira-kira 1.500 m, saya tidak tahu apa nama sungai tersebut, namun jika dirunut sungai ini berakhir di bendungan Karangkates. Dari Bendungan Serut menuju lokasi finish melalui jalan aspal kampung dan jalan kotamadya yang kondisinya mulus dan datar, hanya panas yang cukup mengganggu disisa-sisa tenaga yang masih ada. Dan akhirnya sampailah kami dilokasi finish sebelum jam 11.00.
  
Dari record amazfit saya, ringkasan rute gowes adalah sebagai berikut, Total jarak tempuh 25.5 Km, Durasi waktu gowes start-finish sepanjang 2 jam 52 menit, komposisi slope seluruh track gowes berdasarkan riding period adalah uphill=21%, flat=70%, downhill=9%. Dan menurut saya pribadi penyelenggaraan event ini relatif bagus, dari skala 10 saya bisa beri angka 8.5. Beberapa hal berikut sebagai alasannya, 1. Track yang lumayan menantang namun masih bisa diatasi goweser pemula, 2. Durasi dan Jarak gowes yang pas sehingga selesai sebelum waktu sholat Dhuhur, 3. Rambu petunjuk rute jelas, 4. penempatan pos istirahat yang tepat, 5. Setiap persimpangan jalan ada pengatur lalu lintas, sehingga goweser aman dari terjadinya kecelakaan, 6. Biaya relatif murah (dapat jersey bagus + snack pagi dan makan siang). Salut buat penyelenggara yang bisa mengadakan event ini sampai sembilan kali.


Demikian sobat gowes sharing kali ini dan semoga bermanfaat, dan akhirnya 
salam 2rodaMTB

Monday, July 8, 2019

TW BIKE PARK : TUTUR WELANG


Kali ini ijinkan saya berbagi cerita tentang track gowes Tutur Welang atau yang lebih dikenal dengan sebutan “TW”, track ini sudah sangat terkenal bagi kaum goweser, tidak hanya untuk komunitas Jawa Timur saja, namun ketenarannya sudah melampaui garis batas pantai pulau Jawa (alias orang luar pulau pun banyak berdatangan kesini). Karena sudah sangat terkenal, sahabat gowes tidak akan kesulitan menemukan info tentang track ini, ketik Gowes Tutur Welang, maka akan banyak sumber info yang bermunculan.

Nah, info kali ini adalah dari perspektif saya yang tentunya punya cara pandang yang berbeda dengan “informan” lainnya, karena beda pengalaman dan beda wawasan akan memberikan nuansa yang berbeda. TW Bike Park sebutan kerennya, terletak di kecamatan Tutur kabupaten pasuruan, namun lokasi finishnya berada di kecamatan Purwodadi, tepatnya di desa Semut Dukuh Welang. Track gowes ini berada di habitat hutan pinus, dengan panjang track kurang lebih 14 Km, yang hampir seluruhnya single track, contour track 50 % lebih adalah decline, selebihnya flat, sedangkan tanjakan tidak lebih dari 15%, itupun tanjakan ringan dan pendek-pendek. Bike Park ini kondisinya cukup baik, karena selain dirawat, motor trail tidak diijinkan masuk kawasan ini. Ditengah rute, ada tempat istirahat yang cukup nyaman, kita bisa duduk2 minum kopi atau makan indomie rebus di bangku2 yang sudah disediakan. Kurang lebih ¼ bagian dari rute gowes ini menawarkan banyak rute alternatif, ada yang turunan flat, ada yang banyak drop-off point yang cukup dalam, ada yang melalui tebing, dan kalau kita gowes 2 atau 3 trip maka bisa gonta-ganti rute pilihan tersebut. Salah satu yang asyik lagi adalah banyaknya bahu jalan yang miring hampir tegak, anak gowes biasa menyebutnya “BEREM”, sehingga saat melintas berem, seperti tontonan tong setan (yang tahu istilah tong setan berarti sudah tuwir, paling tidak umur 40-an...he33x). Untuk goweser pemula, jangan khawatir dengan banyaknya drop-off, karena disampingnya disediakan jalur jika tidak ingin drop atau jump. Rute diawali dengan jalan makadam kampung dilanjut jalan paving halus sampai masuk hutan pinus, didalam hutan pinus ini banyak alternatif jalan yang bisa diambil, jangan khawatir salah, semua alternatif jalan bertemu dititik yang sama yaitu tempat istirahat, kemudian dilanjut dengan track meliuk-liuk diantara pepohonan pinus dengan banyak akar melintang dan batu2 berserakan yang jika tidak waspada dapat menyebabkan kita terjungkal. Oh ya, jangan lupa membayar retribusi di tempat istirahat sebesar 15rb rupiah per sepeda. Overall, track ini sangat memanjakan goweser sejati yang menyukai tantangan.

Bagi yang ingin parking mobil penumpang, bisa langsung masuk halaman Warung Renes (warungnya para biker) di lokasi finish. Warung ini menyediakan berbagai masakan rumahan yang cocok di lidah saya. Apabila  gowes dilakukan saat musim penghujan, maka kita dapat membersihkan diri di KM yang tersedia cukup banyak di lokasi finish, sekaligus tersedia jasa cuci sepeda bagi yang tidak mau repot bersih2 sepeda sesampainya di rumah. Berikut beberapa hal teknis tekait sepeda dan teknik bersepeda yang perlu diperhatikan :

1. Karena TW Bike Track mempunyai tingkat kesulitan yang cukup tinggi, maka jangan lupa mengenakan perlengkapan sepeda yang memenuhi syarat, a.l. Helm, Decker siku dan lutut, Sepatu yang tidak licin (tidak mudah lepas dari pedal sepeda), dan bagi yang mata minus (trachoma) agar menambahkan kacamata minus clip-on pada kacamata gowesnya, oh ya....gunakan kacamata gowes clear, karena didalam hutan agak gelap karena sinar matahari terhalang dedaunan.
2. Sebaiknya tidak menggunakan sepeda jenis HardTail/HT (tanpa rear shock), karena tidak stabil dan sangat berbahaya saat dipacu pada turunan dengan kontur yang tidak rata, dan bagi yg sudah berumur apabila maksain pakai MTB HT dijamin pijat seminggu tidak akan mampu menghilangkan rasa pegal di badan.
3. Disamping rearshock, pastikan Fork harus dalam kondisi baik, dan jangan lupa mengatur knob CTD/climb-trail-descent (yg ini di fork-fox saya, merk lain punya istilah sendiri) untuk menyesuaikan kondisi track, jangan sampai posisi knob di climb sepeda sudah terlanjur meluncur deras di track bergelombang,  bisa menyebabkan jatuh, atau paling tidak lengan akan terasa sakit.
4. Karena sebagian besar track ini adalah decline, maka hati2 menekan tuas rem, jangan ditekan terus menerus untuk memperlambat laju sepeda, hal ini bisa menimbulkan panas berlebih yang terus menerus pada rotor, yang mengakibatkan seal pada kaliper bocor. Menurut hemat saya, sebaiknya tuas rem ditekan stop and go untuk memberikan waktu rotor mengalami pendinginan oleh udara. Saya merekomendasikan kampas rem yang terbuat dari bahan resin untuk jenis track TW ini.
5. Jangan menggunakan ban sepeda yang tidak di design untuk track off-road, lebih2 saat musim penghujan. Tekanan angin pada ban agar tidak terlalu keras sehingga bisa mendapat grip yang cukup, namun jangan terlalu gembos, karena mudah pecah jika terkena batu tajam.
6. Karena single track maka grup sebaiknya dipisahkan berdasarkan skill-nya, jangan sampai yang ingin memacu adrenalin berada dibelakang pemula, selain tidak menjadikan puas juga bikin rasa DONGKOL, ha3x...
7. Saat melakukan dropped, kecepatan sepeda harus cukup, jangan mengerem sebelum drop jika tidak ingin terjungkal jika drop-off nya cukup dalam. Dan bagi yang tidak berani melakukan drop, agar melewati jalur disampingnya yang sudah disediakan.
8. Hati-hati juga saat melakukan jumping, ada jump point yang letaknya berurutan dengan jarak yang cukup dekat, atau didepan jump point ada pohon yang mengharuskan kita seketika menghindar.
9. Extra hati2 dengan akar dan batu yang berserakan, seringkali hal ini menyebabkan roda depan tergelincir, lebih2 saat musim hujan.
10.Aktifitas gowes bagi para amatir, selain olah raga adalah lebih untuk rekreasi, sehingga jangan sampai hal2 yang tidak diinginkan menyebabkan kesenangan berubah menjadi musibah, untuk itu kita harus bijaksana menyesuaikan level aktifitas gowes yang kita lakukan dengan skill dan umur (terkait speed, jump, drop)

Minggu 7 Juli 2019, Bertujuh : Pace-kang Besut-David-P.Anang-P.Hari-Alam-Saya sendiri pakWe dikawal driver kami mas Huri, berangkat dari malang sekitar jam 07.00 menuju lokasi finish di dusun Welang untuk memarkir mobil station kami, dan selanjutnya sepeda dan goweser diangkut pickup menuju titik start yang terletak sekitar 100 meter dari tugu pertigaan jalan raya Tutur-Nongkojajar & Tutur-Puntir. Kira2 jam 09.00 mulailah kami menjejak pedal sepeda, karena jalan sudah banyak yang dipaving, agak sedikit membingungkan kami, karena terakhir ke TW sudah sekitar setahun yang lalu, atau tepatnya bulan Maret 2018. Perjalanan gowes relatif lancar sampai di lokasi rest area, disini terdapat jump point yang menarik rekan2 gowes untuk mencoba termasuk rombongan kami, namun sayangnya salah satu rekan kami Alam tidak bisa menguasai stang sepeda saat terbang, sehingga posisi jatuhnya tidak bagus dan mengakibatkan rider-nya terjungkal, lumayan membuat kami-kami bisa terhibur (karena moto goweser adalah “tertawa diatas penderitaan kawan sendiri”). Rupanya celaka kecil tersebut membuat rekan kami Alam trauma untuk mencoba trip kedua, dan akhirnya dia memilih menunggu di warung Renes. Entah berapa piring nasi rawon yang dihabiskan disana, ha33x.

Karena gowes kali ini fokus di TW Bike Track, maka satu trip tidak cukup, kami ulangi sekali lagi untuk trip kedua. Sekali lagi pada Jump Point yang sama, hanya bergeser sekitar satu meter saja, pak Anang terjungkal juga saat mencoba beraksi layaknya goweser Pro. Dan moto kami sekali lagi berlaku “tertawa diatas penderitaan kawan sendiri”. Usut punya usut, ternyata rekan kita pak Anang dan pak Hari adalah 2 saudara kembar beda bapak beda ibu, kemana-mana selalu bersama, dan beli sepedah pun barengan di toko yang sama, bahkan merk dan type-nya pun juga sama. Nah saat jatuh, Alam mengendarai sepeda p. Hari, dan rupanya pak Anang jatuh bukan karena skill-nya tidak mumpuni, tapi karena sepedanya yang iri pingin jatuh seperti saudaranya yang dikendarai Alam, he33x.

Demikian sobat gowes yang bisa kami bagi, semoga dapat memberikan sedikit informasi yang berbeda, dari yang sudah banyak tersaji di blogs sahabat gowes.

Salam 2RodaMTB




Saturday, June 22, 2019

GUNUNG KATU : Gowes Wisata


22 Juni 2019, sekitar setengah bulan pasca lebaran, kaki dah gatal pingin gowes lagi, sudah sebulan lebih kaki ini nggak ngayuh pedal sepeda. Pagi ini, berangkat dari rumah jam 5.20 menuju rumah rekan Riaman, kami dah janjian gowes ke Gunung Katu, yang jika dipandang dari lantai 4 gedung kantor Telkom Blimbing bak perahu terbalik.

Sampai di rumah rekan Riaman, Klayatan Gg.2, kami ngopi2 dulu sambil menghabiskan sebatang cigarrete, dilanjut gowes menuju Gunung Katu. Jalan yang kami lalui sebagian besar adalah jalan desa beraspal sepanjang 9 km, setelah mendekati lokasi wisata Gunung katu barulah kami jumpai jalan tanah sepanjang kira-kira 2 km, yang sebagian sudah beralaskan paving, yang terlihat belum lama dibangun.


Sesampainya di lokasi wisata, nampak cukup banyak warung2 yang kurang terawat, mungkin dikarenakan kunjungan wisata yang tidak sebanyak saat dibuka dulu, sehingga para pedagang sudah tidak lagi berminat berjualan disana. Beginilah nasib kebanyakan obyek wisata yang hanya seumur jagung saja, karena ketidak mampuan dalam pengelolaannya. Suasana pepohonan yang asri membuat sangat nyaman bagi kami untuk melepas lelah setelah bike hiking sepanjang kurang lebih 11 km. Tak berapa lama, ada rombongan gowes sebanyak 4 orang menghampiri kami, salah satunya mas Eki, orangnya agak gendut, namun meskipun begitu rupanya termasuk maniak gowes. Sejurus kemudian ada rombongan gowes lagi yang datang, terdiri dari 3 orang cowok dan 2 orang cewek, yang salah satunya bernama mbak Tanti. Kami saling berkenalan, dan ngobrol-ngobrol kecil, dan tak lupa foto bersama.

Setelah cukup beristirahat, kamipun melanjutkan gowes untuk mencapai puncak Gunung Katu, dimana terdapat petilasan Singasari dan Majapahit. Agar dapat gowes sampai puncak, kami mengambil jalan melingkar, dimana slope-nya tidak terlalu extreme. Dan akhirnya sampailah kami di puncak Gunung Katu, pertama kali yang kami tuju adalah petilasan berupa makam, kondisinya sepertinya kurang terawat, tidak ada bau kemenyan seperti kebayakan situs-situs yang dikeramatkan. Makam tersebut terletak tepat di puncak Gunung Katu. Dari sana kita bisa menyaksikan kota malang dari posisi yang sangat baik, namun sayangnya terhalang oleh kabut tipis sehingga tidak nampak jelas. Dibawah makam, terdapat lokasi yang cukup lapang untuk beristirahat pengunjung dan juga terdapat wahana untuk berfoto. Sementara disisi sebelah barat bukit terdapat wahana “jembatan menuju langit”, jembatan terbuat dari bambu yang menjorok ke lembah cukup jauh, apabila kita berdiri diujungnya nampak seolah-olah seperti berdiri di awang-awang, namun sayangnya banyak ruas bambunya yang sudah rusak, sehingga dapat membahayakan pengunjung yang berada diatasnya.

Setelah puas kami berfoto, maka kami balik melalui jalur menuju wagir. Saat turun dari puncak saya cukup menikmati turunan yang cukup men-chalenge nyali kami, dan apabila diteruskan pada jalur yang sama saat berangkat, maka track turunan yang dinikmati bisa lebih panjang lagi. Pada jalur balik via Wagir semuanya melalui jalan aspal mulus, terdapat 2 tanjakan cukup tajam yang sangat menguras tenaga kami, padahal untuk sampai rumah masih harus menempuh 10 km lagi. Singkat cerita dengan sisa-sisa tenaga, saya sendirian mengaspal diterik matahari pk. 12.00 dari Wagir menuju rumah, sementara rekan Riaman berbelok kearah klayatan.

Resume gowes kami adalah, Jarak tempuh 42 km, dengan total waktu hampir 6 jam (termasuk istirahat dilokasi wisata), Puncak tertinggi 740 m dpl, komposisi track Uphill : Flat : Downhill = 37% : 45% : 18%. Untuk mencapai Gunung Katu, menurut saya lebih baik menggunakan sepeda type HardTail dari pada pakai AM, pada gowes kali ini saya menggunakan sepeda AM, dan saya rasakan cukup berat untuk bike hiking, dan jangan lupa menyiapkan air minum yang cukup, karena saya tidak jumpai satupun warung yang buka. Demikian yang bisa kami share kali ini, semoga dapat menjadi referensi bagi sahabat gowes yang ingin menikati puncak Gunung Katu.

Akhirnya salam 2RodaMTB.



Tuesday, April 9, 2019

EXPLORE KAKI SEMERU


Rencana yang sudah lama didiskusikan kawan2 biker08 untuk jelajah Malang bagian selatan, baru kali ini dapat diwujudkan. Sabtu 06 April 2019, seperti biasa kami kumpul di kantor Telkom Sawojajar, dari rencana 7 orang bengkak menjadi 12 orang terlibat pada jelajah offroad seputar kecamatan WAJAK (Tumpang-Poncokusumo-Wajak-Turen) kali ini. Kebetulan cuaca hari ini cerah sekali, kami berangkat menuju titik start ETAPE#1 di Rest Area Gubug Klakah Kecamatan Tumpang sekitar jam 6.30.

Track offroad dimulai dari sebrang rest area Gubug Klakah, turun ke barat daya arah jam 8. Track awal sangat menyenangkan, dengan landasan paving cukup rapi dengan lebar jalan yang cukup, ditambah decline yang lumayan panjang yang diselingi tanjakan2 kecil, di kanan kiri kami adalah kebun apel dan jeruk. Kami meluncur cukup deras di jalur ini, hampir 40 km/jam, hal ini tentunya sangat menggairahkan bagi umumnya gowesser. Disisi timur nampak Mahameru berdiri kokoh, yang terlihat sangat jelas dari tempat kami pedalling, persis disisi kiri kami terbentang jurang yang cukup panjang dan sangat dalam. Setelah menikmati little enduro, kami masuk ke jalan setapak pematang kebun yang posisinya cukup tinggi relatif terhadap tanah kebun, sehingga kalau tidak awas bisa jatuh lumayan dalam, dan cukup banyak turunan curam. Karena member gowes cukup banyak maka kami lebih sering melakukan regrouping karena ada yang tercecer di belakang. Spesifikasi sepeda dan Jenis Ban sangat membantu di track dengan tingkat kesulitan cukup tinggi, sedang faktor manusia adalah skill dan keberanian individu yang paling menentukan kelancaran gowes, kenapa ini saya bahas karena ada anggota baru yg pakai HT 29er, sehingga untuk track decline agak kesulitan, ditambah masih newbie pada track offroad. Lepas dari track pematang kebun tersebut kami disambut hutan pinus yang ditengahnya terbujur single track tanah yang cukup padat, sehingga mendorong kami melakukan enduro kecil lagi sampai di kawasan wisata Ledok Amprong. Dari sini kami menyusuri jalan setapak sepanjang lereng2 yang ditanami Abasia, dimana dikiri kami cukup curam, sehingga kami harus extra hati2. Di kira2 seperlima akhir etape, kami jumpa dengan sungai yang airnya sangat jernih dengan sawah yang hampir menguning disekitarnya. Disini bukan sepenuhnya gowes, tapi ada bagian contest memanggul sepeda, dan ETAPE awal kami ini berakhir di lokasi wisata Sedaer River Tubing.

Total panjang track kurang lebih 7.6 km, menurut catatan Amazfit. Sekalian info utilitas Amazfit (bukan mo promo lho), karena ini pengalaman penulis pertama pakai Amazfit, yang sebelumnya mengandalkan Samsung S-Health, yang paling saya suka adalah record Heart Rate yang mampu mencatat secara detail kerja jantung kita sepanjang gowes (tanpa perlu additional peripheral), ditambah alert saat bpm mencapai maximal kekuatan jantung kita, history beatrate jantung kita di resume menjadi 5 segment mulai dari light sampai extreeme, kemudian ada juga resume slope dalam 3 area : decline, flat dan incline, selebihnya fungsi smart watch standar, seperti alert aplikasi sosmed, telepon, dan pemutar musik digabungkan dengan standar fungsi gps, oh ya…satu lagi yang paling saya suka dari Amazfit adalah sensitifitas connect satelit dan kemudahan download data peta digital, sehingga mudah kita pindahkan ke google maps, sehingga bisa di share ke banyak goweser agar bisa menikmati track yang sudah kami lakukan.


ETAPE#2, diawali dengan loading dari Sedaer menuju ke desa Jajang, melewati desa Pandansari. Start di ketinggian 1.040 dpl di desa Jajang, sekali lagi menyusuri single track menukik. Pada etape ini sebenarnya lebih nyaman dibanding dengan track ETAPE#1, namun disini banyak accident terjadi, diawali dengan rekan Mayur yang melaju kencang pada track turunan berpasir, yang diawalnya dapat dilalui dengan mulus, namun menjelang berhenti setelah melakukan dropped kecil, sepeda terbalik karena pengereman, sampai2 sadel sepeda terbang menjauh dari lokasi jatuhnya rider, Alkhamdulillah hanya cedera kecil di engkel. Kemudian saat melalui single track di pinggir kali kecil, 3 orang terperosok ke sungai, bahkan ada yang sampai 2x di tempat yang berdekatan….nasib.

Pada rute ini kami banyak berpapasan dengan truck pasir, karena area gowes berada disekitar daerah penambangan pasir. Ada juga moment riding menyeberang sungai yg cukup lebar, sayang disini sungainya keruh tidak seperti sungai-sungai yang berada dialiran Das Brantas pada rute Cangar-CobanTalun, dimana airnya sangat bening karena berasal dari sumber yang tidak jauh lokasinya. Setelah menempung jarak hampir 20km, tepat saat berkumandang adzan Dhuhur sampailah kami di titik finish masjid Tiban Turen. Saya walaupun Original Arema, baru sekalinya ini visit masjid Tiban, bangunannya sangat megah penuh dengan ukiran gipsum yang tentunya memerlukan ketelatenan yang sangat tinggi dalam proses pembangunan dan pengecatan. Setelah berkeliling didalam komplek masjid, kami beristirahat sejenak sambil menunggu rekan2 yang upload sepeda ke pickup yang akan membawa kami ke lokasi start etape berikutnya di dusun Sarirejo.

Kami dibawa pickup menuju titik start ETAPE#3, kearah desa Sumber Putih – Desa Tambak Rejo untuk menuju dusun Sarirejo. Ditengah perjalanan, kami mampir ISHOMA di pasar Bringin untuk makan siang dan sekaligus sholat Dhuhur. Setelah hampir satu jam perjalanan loading, sampailah kami dititik start, gowes dimulai dengan memunggungi gunung Semeru, tidak jauh dari titik start kami berhenti sejenak untuk menyapa puncak Semeru, namun karena cuaca agak mendung, kami tidak bisa menyaksikan senyum dari puncak Semeru, yang konon sangat indah dilihat dari sisi ini.

Track pada ETAPE#3 ini sangat memanjakan kami, menuruni single track yang diselang seling kebun dan hutan pinus, dengan hampir tanpa tanjakan, sehingga kami bisa melaju cukup kencang dengan kecepatan 27 km/h, namun sekali lagi beberapa kali berhenti untuk regrouping karena 29er cukup sulit dikendalikan saat enduro. Yang pasti track penutup ini pas banget, untuk dapat memuaskan kami dengan jalur turunan yang cukup panjang kurang lebih 8km dengan tanah padat anti slip meski dengan ban standar MTB. Akhirnya kami semua finish di lokasi wisata Winong dekat BoonPring.

Alhamdulillah, kegiatan gowes kali ini berjalan dengan lancar, cuaca baik tanpa diganggu guyuran hujan, semua selamat sampai garis finish, dan saya sampai rumah sekitar waktu magrib. Sekian sobat cerita gowes kali ini, semoga share ini bisa menjadi referensi sobat gowes yang ingin melakukan hal yang sama.

Akhirnya salam 2rodaMTB…

Saturday, March 16, 2019

LERENG PANDERMAN : Jelajah track off road menuju Coban Tengah


Gowes kali ini adalah gowes remedy dari yang sudah kami lakukan pada November 2017 lalu. Saat itu tracking kita kebablasan karena keenakan speed di turunan coban rondo, sehingga gak sempat lihat belokan arah Coban Tengah, tahu2 sudah sampai Coban Rondo. Nah kali ini saya coba sekali lagi dengan rute yang sama, start dari Perumahan Panderman Hills, juga dengan partner yang sama mas David, menyisir lereng Panderman sebelah utara.

Berangkat dari Kantor Telkom Batu, Sabtu 16 Maret 2019, jam 06.45. Siksaan awal adalah mendaki jalanan perumahan Panderman Hills yang lumayan extreme, disini saya sempat terhenti 2x, bukan karena faktor kaki atau nafas, tapi karena alarm Heart Rate menunjuk angka 170 bpm, jangan sampai maunya do training tapi malah colapse. Keluar perumahan Panderman Hills, mulailah track offroad pertama, sepanjang kira-kira 2.7 km adalah single track yang teramat licin dikarenakan turun hujan semalam, ditambah banyak rel bekas roda motor ataupun jalan air. Mungkin seperempat bagiannya saya lalui dengan menuntun sepeda, karena tidak memungkinkan untuk mengendarai sepeda pada kondisi track seperti itu.

Selesai dengan 2.7 km, dan setelah melewati perkampungan, sampailah di jalan akses menuju lokasi parkir bagi para pecinta alam yg ingin berkemah di Puncak Panderman. Saya potong jalan, menuju offroad etape dua. Masih single track dengan kondisi tanah licin, pada tahap ini banyak sekali persimpangan jalan yang susah untuk diingat meskipun sudah pernah saya lalui sebelumnya, disini GPS cukup membantu untuk menentukan pilihan arah yang akan diambil, namun sialnya banyak jalan setapak yang dibuat khusus menuju lokasi pertanian, dan jika kita terperangkap di jalur ini maka apes-lah kita, dan saya terperangkap 2x dijalur tersebut…alaa mak. Setelah menempuh jarak sekitar 6 km, sampailah saya di gerbang masuk Coban Tengah yang  kondisinya sangat memprihatinkan karena tidak terawat, oh ya…pada tahap ini terdapat track mengelilingi jurang yang cukup panjang, yang hampir sama dengan track lembah seribu. Dari sini tak nampak air terjun-nya, sudah kepalang tanggung dan kami tidak ingin melewatkan untuk menyaksikan penampakan Coban Tengah, maka sepeda kami sembunyikan di semak-semak, dan kami susuri sungai sepanjang kurang lebih 650 meter, maka sampailah saya di lokasi air terjun alias coban. Air Terjun Coban Tengah tidak terlalu besar debit airnya, namun ditumpahkan dari jarak yang cukup tinggi. Di sekitar lokasi air terjun terdapat TOILET yang kondisinya memprihatinkan, mungkin dulunya banyak pengunjung, namun karena kondisi medan yang sulit untuk menjangkaunya, sehingga tidak lagi banyak yang meminatinya, namun masih ada saja yang kesana meskipun tidak banyak, hal ini dapat dilihat dari adanya pemampasan segar ranting2 sepanjang jalan setapak menuju ke sana. Bagi peminat Coban Tengah yang tidak mau report, dapat menjangkaunya melalui akses jalan menuju Coban Rondo,  disini terdapat petunjuk arah yang mudah diikuti.

Mendung tebal mulai menyelimuti langit diatas Coban Tengah, dan saya pun segera berkemas untuk meninggalkan lokasi menuju titik finish di Kantor Telkom Batu melewati jalur utama. Ada hal menarik dari catatan Amazfit saya, saat berpacu di jalan aspal dari Patung Sapi  Pujon menuju titik finish, dengan kecepatan maximum 49 km/jam, ternyata Heart Rate saya mencapai angka tertinggi 190 bpm. Ternyata degup jantung tercepat tidak terjadi pada saat kita mengerahkan seluruh tenaga saat melahap tanjakan extreme, namun malah terjadi saat melaju pada decline track dengan kecepatan tinggi, seperti yang pernah saya baca bahwa olahragawan dengan degup jantung tercepat adalah pembalap MOTO GP.  

Ringkasan Gowes kali ini adalah, total jarak tempuh adalah 29.69 km; min/max altitude 885 dpl/ 1.561 dpl; slope sepanjang rute gowes : uphill = 65%, flat = 19%, downhill = 16% ; waktu tempuh 6 jam 24 menit, catatan waktu ini sudah termasuk tracking menyusur sungai menuju Air terjun dan istirahat di lokasi air terjun. Oh ya, bagi yang tidak senang bike hiking dan prefer enduro, maka rute bisa dibalik, dari coban rondo menuju panderman hills.

Demikian "story telling" (he3x...kayak lomba anak SMP) yang bisa kita bagi pada sobat gowes kali ini, semoga bisa menjadi referensi bagi yang tertarik untuk visiting Coban Tengah dan bike hiking tuk explore lereng Panderman, dan akhirnya Salam 2rodaMTB.


Thursday, February 28, 2019

Boon PRING : Gowes Wisata

Jumpa kembali sobat gowes, kali ini saya akan sharing pengalaman gowes ke Tempat Wisata BoonPring di Kecamatan Turen Kabupaten Malang, pada Sabtu 17 Pebruari 2019. Kebetulan salah seorang anggota biker08 ada yang punya hajat “SYUKURAN” atas terkabul do’a-nya, yaitu do’a….ah kenapa bahas isi do’a orang….kepo, ha33x…..

Sesuai undangan tasyakuran, perjalanan menuju lokasi tasyakuran yakni di BoonPring, dimulai dari kantor Telkom Kepanjen sebagai lokasi start,  six and a half as stated on “ULEM2”, tapi seperti yang sudah2, start molor sampai jam 07.45. Dalam bayangan saya, gowes kali ini akan berlomba dengan motor, mobil dan truck, ditambah “bonus” gas CO yang melimpah. Namun ternyata sang marshal mbah OT, ssudah menyiapkan rute bersahabat, from kampoong to kampoong, sehingga tidak banyak bersaing dengan kendaraan bermotor dan tentunya bonus CO juga sangat minimal. Sepanjang perjalanan adalah track aspal kampung yang cukup bagus dan jalannya landai2 saja, artinya gak ada slope yg berarti, sampai pada km 18nd,  ada tanjakan sepanjang 200 meter yang cukup extreem, yang membuat banyak anggota biker08 tumbang, namun alhamdulillah bahwa anggota kami yang paling berat (105kg), masih bertahan karena telah mengaplikasikan resep mujarap Kakek the mekanik, yaitu sprocket 42t. Perjalanan masih dilanjut dengan track jalan desa beraspal mulus yang di kiri-kanannya terbentang sawah sejauh mata memandang.

Sampai km 21st, mulailah masuk pada rute off-road, namun sayangnya karena termakan tanjakan pada km 18nd,  jadilah kami menjadi 2 groupping, dan celaka-nya marshal grup depan dan grup belakang, punya “vocab” rute yang berbeda, maka terpisahlah kami di titik ini. Beruntung saya ikut marshall mbah OT, melewati rute pendek yang berakhir tepat disamping POS LOKET masuk wisata BoonPring. Sedangkan grup belakang yang dipimpin marshall Inos SINCHAN, mengambil rute yang lumayan jauh memutar.

Total jarak tempuh yang kami jalani adalah kurang lebih 26 km, namun grup-2 tentunya menempuh jarak yang lebih jauh karena mengambil jalur memutar, mungkin lebih panjang sekitar 2 km. Nah sesampainya di lokasi, sudah disambut menu rumahan kare ayam, sambel terong-pete, urap2, tempe bacem, sambal teri, dan yang paling yummiii adalah es kopyor. Tak ayal, regu pertama datang terlebih dahulu karena menempuh jarak yang lebih pendek, maka jadilah kita mengawali cicip menu, ……..wooww lezat sekale masBro. Makan disaung di bawah rindang pohon dengan pemandangan sendang (danau kecil) dibawah kita, inilah yang disebut BOONPRING yang artinya kebun Pring (bambu). Menurut saya tempat wisata ini cukup recommended untuk dikunjungi bagi yang berniat mencari kesejukan ditengah suasana kota yang cukup panas. Fasilitas parkir cukup luas, penjual makanan dan jajanan tersedia, suasana asri sendang dikelilingi hutan bambu, dengan becak air, balon air siap di sendang, so bagaimana gaes…tak ada salahnya untuk dikunjungi, sehingga paling tidak membantu menggelindingkan roda ekonomi kecil yang akan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat sekitar.

At the end of story, saya share rute detailnya, yang mungkin bermanfaat bagi sobat gowes yang berminat tengok BOONPRING sambil gowes. The route is : Jalan Sultan Agung - Jalan Mentaraman - Jalan Sultan Hasanudin - Jalan Getek - Jalan Purwantoro - Jalan Botokawarso - Jalan Pahlawan - Jalan Pertahanan - Jalan Sumber Ilmu - Masjid Ar-Rokhman - nyebrang jalan besar Bululawang/Gondanglegi - lurus terus sampai pasar Turen - Jalan Ahmad Yani - Jalan Raya Pamotan - Jalan Kauman Bokor - terus arah utara Ds. Jambangan - offroad BoonPring – BOONPRING.



Demikian rekans, sahabats, brothers & sisters gowes, tak lupa Salam 2rodaMTB.


Sunday, January 6, 2019

LEMBAH SERIBU : Explore Track Gowes




Gowes Lembah Seribu sudah lama ingin saya lakukan, namun belum ketemu rekan yang bisa escorting untuk jelajah track tersebut. Sampai akhirnya sepakat dengan rekan David untuk survey rute tersebut. Berbekal sedikit info dari masBoy yang sebelumnya sudah pernah kesana dan hasil obrolan kecil dengan sobat goweser yang ketemu di Bedengan minggu lalu. Bangun subuh Minggu 6 Januari 2019 lumayan berat, karena Sabtu-nya badan ini habis dihajar Tennis 2 set, kalau tidak karena “kalah janji” dengan rekan David, sebenernya malas untuk gowes, karena otot sekujur tubuh masih terasa pegal (nek wong jawa ngarani njarem, he3x). Janji 5.30 tikum Kantor Telkom Batu, tidak mampu saya tepati, nyampe lokasi sekitar 5.50, padahal sebelum 5.30 David sudah standby di lokasi, “Tut Mir Leid, her David”. Setelah Download sepeda, sekitar jam 6.05 kita berdua berangkat. Eh sebelum berangkat, sebenarnya kami sedikit bingung dengan bagaimana cara mencapai start point paralayang dari kantor Telkom Batu, jika lewat jalur utama Batu-Pujon jaraknya terlalu jauh, namun jika memotong lewat jalan Rajegwesi (gunung klemuk) incline-nya mengerikan. Karena tidak ada pilihan lain yang lebih baik, akhirnya saya putuskan untuk ambil rute pendek jalan Rajegwesi, dengan konskuensi ada acara malu “nuntun Sepeda”.

Kantor Telkom – Alun2 Kota Batu – Panglima Sudirman – Trunojoyo – pintas Arumdalu – Rajegwesi, belok kanan masuk kampung menuju wisata Paralayang Gunung Banyak, kita ikuti saja jalur ini sampai mentok, belok kanan ketemu berjajar warung2 makan, belokan kiri pertama (jalan beton/ cor semen) masuk. Kita ikuti saja jalan ini dengan patokan arah “North Destination”. Dari jalan cor semen ini, sepanjang kurang lebih 3 Km akan kita jumpai kampung yang cukup ramai di selang-seling ladang/ kebun, jalannya aspal yang relatif baik, sampai ketemu jalan makadam kurang lebih sepanjang 300m, sampailah kami di titik start lembah seribu, di ketinggian 1.287 mdpl. Istirahat sejenak, snack fit bar untuk menambah tenaga yang sudah terkuras melahap elevation gain hampir 500 m sejak dari kantor Telkom Batu, minum air sari kelapa, ditemani sebatang cigarret mild, sambil ngobrol dengan bapak-bapak yang sedang menambal pipa paralon air yang bocor, tak lupa sessi foto.



Selepas penat, kami lanjutkan etape berikutnya, yaitu menyisir jalur lembah seribu. Sambil gowes sepanjang lereng yang disebelah kanan kami terhampar jurang/lembah yang tiada putus, saya berfikir, “apakah karena lembahnya terbentang sepanjang jalur gowes ini yang menyebabkan disebut lembah seribu”, mungkin seribu adalah istilah yang pas untuk menggambarkan panjang lembah yang tiada putus, bukan sejuta; seperti halnya jutawan untuk menggambarkan orang tajir, bukan milyar-wan, ha33x. Track yang kita lalui masih menanjak sepanjang kurang lebih 3 km, slope-nya lumayan menantang, sampailah kami dipuncak ketinggian sekitar 1.500 mdpl. Sepanjang jalur ini, banyak simpangan-simpangan yang kadang membuat ragu dalam memilih. Namun jika kita buka google map (signal T-sel available sepanjang jalur gowes), maka akan mudah untuk memilih, dengan point of reference adalah Coban Talun dan Taman rekreasi Selecta.


Start from the peak, track tersisa adalah turunan sepanjang kurang lebih 5 km, yang sangat memanjakan “raja turunan”. Berpacu dalam ketegangan bercampur kenikmatan, maka meluncurlah kami berdua di decline track ini dengan David mendahului saya, kecepatan maximal saya di 45 kmph, jalur ini berakhir di kawasan Wisata Bukit Kungkuk. Puas rasanya, setelah berhasil menyelesaikan explore rute lembah seribu, disamping rute sudah terecord, juga karena sepanjang rute suasana hijau hutan sangat menyejukkan. Pesan kami kepada para goweser untuk jangan takut explore rute2 yang belum dikenal, dengan mempelajari global map diawal, dan memperhatikan beberapa point of reference yang dirasa cukup membantu, Insyaa Allah gak akan tersesat. Dan jangan lupa bekal minum yang cukup, snack, kunci portable, ban dalam cadangan, HP (untuk jaga2, download map offline, apabila dijalur gowes gak nemu signal selular). Perlu kami infokan juga, bahwa track Lembah Seribu ini tanahnya cukup licin saat kondisi basah, so apabila habis turun hujan sehari sebelumnya, agar lebih hati2 dan tidak memaksakan enduro kecepatan tinggi.


Ok masBro n mBakSis, sampai disini acara berbagi info gowes, kami juga masih penasaran untuk menyelesaikan track lembah seribu yang berakhir di Coban Talun, tunggu tanggal mainnya.



Salam 2rodaMTB




Monday, December 17, 2018

Wana Wisata Hutan Jati Blora




Kali ini Biker08 punya gawe Gowes Wanawisata Blora, sebagai penutup kegiatan Touring Luar Kota 2018. Track yang dibidik adalah Hutan Jati di kawasan kabupaten Blora. Bukan tanpa alasan kenapa memilih daerah tersebut, karena ada anggota kami yang berasal dari sana, dan kebetulan kedua orang tuanya masih sugeng (sehat) dan tinggal disana, sehingga akomodasi penginapan dan makan adalah “free of Charge alias No Pay”, he33x…jurus hemat ala biker08. Thanks a lot P. Besut, for your hospitality, jangan kapok ngundang lagi.

Sabtu pagi 15 Desember 2018, satu kendaraan Long Elf dengan kapasitas 16 penumpang dan 1 truck DMax owned by p.Ugeng salah satu anggota kami, siap dengan 15 Bikes loaded. Kira2 jam 7.30 waktu tikum (Kantor Telkom Sawojajar) berangkat menuju Blora. Sepanjang perjalanan, yang namanya GUGOSAE (guyon gojlok2an Sampe Elek) tidak pernah berhenti, periode diam meski sekejap-pun tak mendapat kesempatan sepanjang perjalanan, namun sayangnya “korban” gugosae adalah tuan rumah, sampai2 p. Besut kehabisan kata2 double cover dan diam adalah senjata pamungkasnya. Singkat cerita, sampailah kami di tempat tujuan, di desa Punggur yang berjarak 2 km dari alun2 kota Blora. Setelah sejenak bersilaturahmi dengan bapak-ibunya p.Besut, dan tanpa downloading bikes terlebih dahulu, kami langsung balik ke pusat kota Blora untuk mengabadikan gambar kami dengan latar ikon kota Blora dan tentunya wisata kuliner khas Blora, Sate Blora, Soto Klethuk, Enthung Jati, khususon Sate Kambing-nya luuueeezaaat masbro, kalau penasaran boleh dicoba sendiri.

Keesokan harinya, kami dijamu sarapan pagi pecel pincuk godhong jati, yang bagi orang kota menjadi barang langka, aroma daun jati merebak saat di tumpahkan nasi putih panas diatasnya, semakin merangsang selera makan. Kira2 jam 07.00 kami berangkat menuju tikum ex stasiun kota Blora yang sekarang dialih fungsikan menjadi terminal Ngopi, untuk bertemu dengan komunitas gowes Blora. Kami menyusur jalan Jendral Sudirman yang merupakan akses utama masuk kota Blora dari arah timur, selanjutnya berbelok memasuki jalan Veteran  untuk kemudian memasuki track off-road. Interval pertama yang kami tuju adalah embung Plered yang terletak di dukuh Betet – desa Purworejo – kec. Blora Kota. Embung Plered ini dibangun pemerintah kabupaten Blora dengan tujuan untuk menggalakkan wisata di daerah tersebut, disamping fungsi utama sebagai penampung air dan irigasi pertanian. Namun sayang, niat baik pemerintah daerah untuk meningkatkan perekonomian masyarakat desa, dengan telah ditebarkannya ribuan bibit ikan, kemudian rencana penanaman pohon buah disekitarnya dan pengembangan wisata kuliner, sepertinya hanya sebatas angan-angan, karena sejak diisi air pada awal Januari 2018 sampai dengan kunjungan kami, nampak kurang terawat dan terkesan terbengkalai. Menurut data statistik, embung tersebut dibangun diareal seluas 5 hektare, memiliki  daya tampung air sebanyak 210.870 meter kubik, dan mampu mengairi lahan pertanian seluas 125 hektare, adapun nilai kontrak pembangunannya sebesar 14M rupiah.

Etape selanjutnya menuju Oil Drilling di desa Semanggi. Yang menarik adalah sumur2 minyak yang ada disana adalah sumur kuno peninggalan zaman kolonial Belanda. Sumur minyak tersebut dikenal dengan sebutan “SUMUR ANGGUK” karena mesin pompanya berbentuk seperti kepala yang mengangguk-angguk. Sepanjang jalan menuju kesana didominasi oleh jalan makadam batu putih dengan kontur naik turun yang lumayan menyiksa paha dan mendorong degup jantung sampai level 150 bpm, ditambah sengatan terik matahari yang serasa memanggang kulit kami. Dikanan kiri dipenuhi hutan jati yang mulai semi daunnya, namun sayang nampaknya banyak hama ulat yang menggerogotinya. Ditengah perjalanan kami beristirahat di warung kopi dukuh setempat untuk menikmati kopi santan kas desa tersebut. Yang membuat kami takjub adalah hampir semua rumah disetiap desa yang kami lalui tersusun dari kayu jati tua. Kerangka atap, dinding, lantai, perabotan rumah tangga semuanya terbuat dari kayu jati kualitas A, dan jika di kota, saya rasa hanya orang kaya saja yang mampu melakukannya. Sekitar jam 11.30 sampailah kami di salah satu sumur angguk di desa Semanggi Kec. Jepon. Acara tebar pesona didepan Digital Phone Camera dimulai, tentunya dengan latar Sumur angguk yang legendaris. Setelah puas berfoto kami bongkar kiriman rangsum menu tradisional : nasi jagung, urap-urap, sambel teri, oseng-oseng enthung jati, telur dadar, tempe ndesa dan tak ketinggalan kerupuk. Selain sumur tua peninggalan Belanda, Pertamina terus mencari sumur2 baru di kawasan ini, salah satunya adalah sumur Banyuasin yang pengeborannya dimulai pada 7 Nopember 2018, dengan kedalaman 2.036 meter, sumur ini diharapkan dapat menghasilkan 150 barel minyak per hari.

Tujuan selanjutnya adalah Jurang Jero, masih tetap track offroad. Untung tak dapat diraih-malang tak dapat ditolak, roda belakang sepeda dedengkot biker08 “PACE” mencium duri, bangga tak dapat digapai – malu tak mampu ditolak, akhirnya Pace bersama sepedanya dengan sangat terpaksa berada diatas Truck DMax yang sedari start mengawal kami. Benar adanya bahwa Tuhan maha pengasih dan penyayang, do’a Pace terjawab,  tidak berapa lama jatuh korban, lik Mentrik alias lik Tris mengalami kram yang cukup parah sehingga tak mampu melanjutkan gowes, jadilah Pace mengendarai sepeda lik Mentrik, maka selamatlah kredibilitas Pace sebagai maskotnya biker08. Lepas dari Jurang Jero, kami melibas aspal mulus jalan raya Randublatung-Blora sampai di titik finish desa Punggur.

Perjalanan kami kali ini menempuh jarak kurang lebih 45 Km dengan waktu tempuh sekitar 7 jam. Alhamdulilah semua berjalan dengan lancar, seluruh anggota sampai titik finish dengan selamat. Bahwa “Setiap Track Yang Berbeda Menawarkan Experience Yang Berbeda” adalah moto kami, maka dimanapun kami gowes dan di track apapun selalu kebahagiaan yang kami bawa pulang sebagai buah tangan, tak ada kata kecewa atau menyesal. Setelah up-loading sepeda dan bersih2 badan, kami berangkat pulang ke Malang sekitar jam 17.20. Demikian yang bisa kami bagi kepada sahabat gowes kali ini, semoga kami masih diberi umur panjang untuk dapat membagi pengalaman gowes berikutnya.

Salam 2rodaMTB

resep donat empuk ala dunkin donut resep kue cubit coklat enak dan sederhana resep donat kentang empuk lembut dan enak resep es krim goreng coklat kriuk mudah dan sederhana resep es krim coklat lembut resep bolu karamel panggang sarang semut