Saturday, February 22, 2020

BRAKSENG MTB OFFROAD

Masih daerah seputaran Batu, juga masih di Kecamatan Bumiaji yang kami explore, kali ini BRAKSENG yang menjadi target kami untuk dijelajahi. Brakseng terletak di desa Sumber Brantas, pintu masuknya dari jalan utama jalur Batu – Pacet kurang lebih berjarak 2 Km dari Cangar Hot Spring, jika dari Batu adalah sebelum Area Wisata Sumber Air Panas Cangar. Brakseng adalah areal pertanian yang berada pada ketinggian kurang lebih 1.850 mdpl, berjarak kurang lebih 35 Km dari Malang. Seperti areal pertanian pada umumnya, hamparan hijau tanaman sayur mayur yang di Brakseng didominasi oleh wortel dan kentang, tertata rapi berlajur-lajur, di hamparan yang sangat luas dengan kontur naik turun yang terpisah oleh petak-petak, sangat elok dipandang mata, belum lagi ditambah bonus pepohonan cemara yang berjajar disepanjang jalan dan background Gunung Arjuno disebelah timur, wooo semakin menambah eksotis panoramanya, “Tourism Worth Selling of Batu”. Keindahan Brakseng memang tak terlukiskan dengan kata, tapi saya masih penasaran dengan asal kata BRAK-SENG, sudah googling namun tetap tidak menemukan asal kata nama BRAKSENG, dan kalau saya reka-reka sendiri, mungkin berasal dari banyaknya saung di tengah kebun untuk berteduh dan beristirahat para petani yang terbuat dari Seng gelombang, dari situlah mungkin munculnya nama“BRAK-SENG”.
 
Blakrak-an kali ini untuk mencari jalur MTB off-road dari Brakseng – Pura Luhur Giri Arjuna – G. Pucung – Bukit Jengkoang – OutBound Dusun Sahabat Alam di Karangploso. Explorasi dimulai dari Gapura masuk Brakseng pada 22 Pebruari 2020, pukul 08.20, belum genap 500 meter gowes, kami berlima sudah dipaksa harus menaklukkan tanjakan langit sepanjang 700 meter, sebelum mendapati pemandangan indah, alih-alih menaklukkan malahan kita yang ditaklukkan oleh slope gila jalan paving, tak ayal berempat kami kompak menuntun sepeda, sementara satu orang pak Dempal berhasil sampai diatas tanpa menjejakkan kaki di tanah. Dan dari sinilah dimulainya “Recreation Cycling”, sepanjang 2 km gowes kita disuguhi landscape yang sangat mempesona.

Setelah kami jumpai perkampungan di sekitar jalan klena, kami belok kiri kearah timur, mencari jalur off-road menuju Pura Luhur Giri Arjuna. Sepanjang kurang lebih 2 km jalan setapak yang kami lalui masih sangat nyaman untuk gowes, disebelah kanan kami nampak perumahan di kota Batu seperti noktah-noktah yang berserakan. Selanjutnya kami mencoba mengambil alternatif jalur terpendek menurut perkiraan kami, namun malang tak dapat ditolak, jalur sepanjang 1.5 Km yang kami pilih ternyata sudah jarang dilalui orang, semak belukar bertangkung kiri-kanan yang memaksa kami harus membukanya agar bisa dilalui. Sepanjang jalur ini kami menyisir tepian jurang yang lumayan dalam, dan terpaksa harus menuntun sepeda sepanjang rute ini, karena selain semak belukar juga konturnya yang mendaki. Banyak waktu terbuang di jalur ini, dan kami harus membelanjakan hampir 2 jam untuk menempuh jarak yang hanya 1.5 Km. Setelah lolos dari jebakan ngarai sepanjang 1.5 Km tersebut, kami kembali disuguhi oleh pemandangan yang sangat indah, dari puncak bukit kami berdiri, dapat melihat lahan pertanian terhampar luas dibawah kami, dan sejauh mata memandang diantara dua bukit kecil, nampak kota Batu dari kejauhan. Setelah beristirahat sejenak, kami lanjutkan perjalanan menuju Pura Luhur Giri Arjuna. Kami melakukan kesalahan untuk kedua kali, alih-alih ingin potong kompas, malah dihadapkan pada jalan buntu. Ingin putar balik sudah terlalu jauh, maka kami putuskan untuk jalan terus, “the show must go on”, terpaksa kami harus menuruni bukit yang terjal, dengan cara lempar sepeda kebawah kemudian diikuti pengendaranya merosot ke bawah, dan yang begini harus dilakukan lebih dari 5x...ampyuuun dach, dan untungnya tak ada keluhan dari satupun anggota team, semuanya bisa menikmati petualangan ini dengan bahagia. Akhirnya sampailah kami di Pura Luhur Giri Arjuna, suasananya seperti berada di Bali, karena saat itu ada acara sembahyangan agung, bahkan beberapa diantaranya ada yang datang dari Bali.

Etape berikutnya adalah menuju Gunung Pucung – Bukit Jengkoang. Masih jalan off-road yang kami lalui, di tengah2 areal pertanian sayur, kami terus turun ke selatan, sampai di asphalt Jl. Raya Sumbergondo, belok kiri ambil jalan off-road lagi, ketemu jembatan bambu di tengah2 hutan bambu petung, kemudian dilanjut gowes menanjak sampai ketemu jalan makadam. Menurut referensi google map, jalur yang kami pilih ini sudah benar, namun karena waktu sudah menunjukkan pukul 16.05, maka saya putuskan untuk tidak mengambil arah ke Gunung Pucung, melainkan arah pulang via bukit Teletubbies. Dan sampai di depan pagar rumah (Kelurahan Tulusrejo Malang), kumandang Tarhim dari masjid dekat rumah sudah terdengar dengan nyaring.

Gowes blakrak-an kali ini boleh dikata gagal, dalam hal target menemukan Rute Gowes, tapi tidak untuk urusan refreshing. Insyaa Allah upaya menemukan rute tersebut akan kami ulangi suatu saat nanti. Sampai Karangploso, total jarak tempuh yang kami lakukan 34 Km, elevasi tertinggi adalah 1.896 mdpl di puncak Brakseng, tingkat kelelahan cukup tinggi, mengingat dari record data Amazfit saya everage heart rate terukur 124 bpm dan total kalory burned 4.658. Demikian sobat gowes sharing dari pakWe kali ini, semoga dapat menambah wawasan tentang gowes dari sudut pandang yang sebelumnya belum pernah terbayangkan. Jika tertarik untuk mengetahui lebih detail jangan segan kontak saya. Terima kasih sahabat blakrak-an yang menemani saya kali  ini, mas Boiy, pak Dempal, pak Hariyadi, mas Insan, jangan kapok, kita masih akan lanjut edisi blakrak-an berikutnya.

Akhirnya Salam 2rodaMTB.

Saturday, February 8, 2020

BROMO CELENG ROUTE


Berangkat dari suka browsing cerita gowes, mencari referensi untuk kegiatan sabtu-minggu dengan temen2  blakrakan, saya tertarik dengan rute Bromo New Celeng. Sebetulnya temen2 komunitas sudah ada yang pernah men-jajal rute tersebut dengan bantuan marshall, namun belum ada kecocokan waktu untuk meng-guide saya mencicipi rute tersebut. Lama terpendam belum dapat direalisasikan, dan keinginginan untuk menikmatinya masih terus terngiang, sampai pada suatu saat buka2 Youtube menemukan video-nya mas Yuniar Setiawan & mas Setyo Permono,....”wunderbar, Deutsche gesacht” bagus banget cara ambil gambarnya, jempol tiga untuk mas berdua.

Selama akses ke titik start tidak terlalu sulit, saya sudah biasa explore track gowes baru tanpa bantuan marshall, dan sudah saya lakukan berkali2, di Cangar, Lembah Seribu, Panderman-Coban Tengah, Lembusura Kelud, dll. Kali ini dengan ditemani sahabat “blakrak-an” mas Boiy, ditambah Pak Hari n P. Anang dari komunitas gowes Orong-Orong kami bersepakat untuk menjajal rute new Celeng pada Sabtu 8 Februari 2020. Oh yaa, tambah satu lagi mas Insan tetangga rumah, anak muda yang juga hobi blakrakan. Sedikit tips, untuk explore rute baru sebaiknya dilakukan dengan sedikit anggota yang cadangan nafas dan otot-nya seimbang agar tidak boros waktu, dan yang penting semua harus yang dapat menikmati “susahnya” perjalanan gowes, baik itu karena rintangan track, kesasar dan harus balik, maupun tanjakan tajam yang berpotensi memadamkan asa, he3x...intinya harus bisa happy dalam kondisi apapun.

Kami berangkat pagi2 dari malang, pukul 07.00 sudah sampai Jemplang. Perlu diketahui bahwa pada saat ini bertepatan dengan kebijakan dari Balai Besar TNBTS untuk memberlakukan Car Free Month selama satu bulan penuh 24 Januari s.d 24 Februari 2020, hal ini ditujukan untuk menghormati kearifan lokal masyarakat Tengger, disamping itu juga memberikan waktu bagi kawasan Bromo untuk memulihkan ekosistem yang ada dari paparan gas karbon monoksida. Semua akses masuk kawasan Bromo diportal sehingga tidak memungkinkan kendaraan bermotor untuk memasuki kawasan tersebut, kalaupun ada wisatawan yang memaksa masuk harus berjalan kaki atau memanfaatkan jasa angkutan kuda. Dapat dibayangkan betapa sepinya kondisi Bromo saat itu, tidak seperti biasanya hiruk pikuk lalu lalang kendaraan Toyota HardTop yang mengangkut wisatawan, yang menurut catatan statistik BB-TNBTS sepanjang tahun 2019 kunjungan wisatawan dalam dan luar negri mencapai 690 ribu.

Bromo serasa milik kami berlima, setelah menikmati kopi panas dan pisang goreng “dingin” di Warung Jemplang, pukul 08.00 kami gowes sepeda beriringan. Karena belum pernah melalui rute Celeng ini, dan hanya mengira2 saja, maka saat melewati jalan pintas rute Celeng, kami tidak yakin bahwa belokan tersebut adalah akses masuknya, setelah 100 meter gowes barulah kami menyadari bahwa tidak akan ditemui lagi jalan pintas kebawah di depan. Akhirnya kami balik dan masuk jalan pintas tersebut, dan setelah kami temui beberapa point of view yang sama dengan yang ada di youtube barulah kami yakin benar adanya. Hampir sepanjang rute ini adalah single track, ditengah hamparan semak menghijau yang sangat indah, di tengah rute ada ngarai yang cukup panjang dimana kita gowes dipinggirnya, yang nampak semakin mempesona bagi siapapun yang melihatnya. Kami juga menjumpai penggalan jalan yang longsor, sehingga dengan terpaksa harus menyusur sungai kering kurang lebih 50an meter. Rute Celeng ini berada di arah barat daya gunung bromo, sehingga kita hanya bisa menikmati badan gunung Bromo bagian barat, jangan harap menikmati lautan pasir pada rute ini, karena kita berada pada sisi yang berseberangan, dengan gunung Bromo berada ditengahnya. Akhirnya kami sampai di padang Teletubbies, sungguh memprihatinkan, kondisinya sangat gersang, tidak kami jumpai sehelaipun rumput teletubbies yang melambai2 kala tertiup angin, yang menjadi favorite wisatawan untuk melakukan selfie, meskipun musim penghujan menumpahkan air langit hampir setiap hari.

Karena pickup kami tidak bisa turun, maka berlima, kami kayuh pedal sepeda dengan sekuat tenaga, menaklukkan “crazy slope” Teletubbies-Jemplang sepanjang 3.6 km dengan elevation gain 275m (hitung sendiri sudutnya pakai ASIN...he3x). Mas Boiy dengan tega dan kejamnya meninggalkan kami berempat, dan menyoraki kami dari atas menjelang kami sampai. Overall, kami menempuh jarak 11.66Km, dan rute new Celeng sendiri kurang lebih sekitar 6Km, tidak panjang memang, namun panjang banget nempelnya di memori kenangan kami dan dipastikan tak segan untuk mencobanya kembali. Demikian uraian gaya bahasa pakWe, jika tak puas dengan penuturannya, silahkan simak cerita bergambar pada tautan youtube dibawah.

Akhirnya salam 2rodaMTB.


Sunday, January 19, 2020

GOWES WISATA AGRO DESA BUMIAJI BATU

Explorasi rute gowes di area BATU, tidak pernah ada habisnya. Kalau biasanya yang ditampilkan terkait icon object wisata, ataupun rute tantangan offroader, maka kali ini saya akan tawarkan sesuatu yang berbeda. Gowes offroad kali ini penulis lakukan di area pertanian desa Bumiaji. Sudah sangat dipahami bahwa desa Bumiaji adalah salah satu sentra penghasil sayur mayur di wilayah kota Batu, asumsinya disana terhampar lahan pertanian yang sangat luas, dan sebagai akibatnya apabila saat musim tanam masih berlangsung dapat dipastikan hamparan ladang sayur mayur yang menghijau akan sangat indah untuk dinikmati mata, belum lagi background Gunung Arjuna disebelah utara dan Gunung Kawi dengan anak2nya Gunung Putri dan Gunung Panderman di arah disebelah barat daya semakin menambah exotic nuansa alamnya.

Berangkat dari asumsi tersebut, saya melakukan gowes wisata kali ini. Dengan ditemani jago blakrak-an yaitu om Ivan alias mas Boiy dan pak Bambang Dempal, kamipun berangkat menuju target sasaran pada Sabtu 18 Januari 2020, dengan titik start/tikum di Taman Budaya SoeHat. Jam 06.00 tepat sesuai janjian malam sebelumnya kami memulai kayuhan pertama menuju pintu Gerbang Desa Bumiaji di Jalan Raya Pandanrejo yang berjarak kurang lebih 15 Km. Sesampainya di gapura masuk desa Bumiaji, dimulailah etape 2 bike hiking menuju Gunung Pucung yang berjarak kurang lebih 7 km. Meskipun tidak terlalu panjang, etape ini paling menguras stamina, karena slope-nya mengerikan untuk ukuran saya, dan celakanya kawan saya P. Bambang yang setahu saya adalah bukan pe-sepeda ataupun kalau lagi bersepeda bareng2, selalu saja menjadi ekor rombongan alias tertinggal paling buncit, pada kali ini sudah menjelma menjadi bikehiker, tanjakan tajam dilahap dengan entengnya, sayapun tak sanggup mengimbanginya. Dengan sisa-sisa nafas, khususnya saya, akhirnya sampailah kami di saung tempat beristirahat petani penyadap getah karet. Ngopi, rokok, snack adalah bagian dari cerita disini yang menemani kami sambil memandang jauh ke selatan titik-titik perumahan di kota Batu yang bisa dilihat dengan jelas diketinggian, pun demikian athlet paralayang di gunung banyak tak luput dari pengamatan kami dari sini.

Etape berikutnya adalah menjelajah hutan Gunung Pucung untuk menuju areal pertanian Desa Bumiaji. Didalam hutan ini kami memutari jurang yang cukup dalam, menerobos jalan sempit di tengah kebun kopi dan menuruni jalan setapak yang cukup sulit, akibat aliran air saat hujan. Sesampainya di ladang pertanian, nampak hamparan hijau daun yang sangat luas didepan kami, dan seketika rasa lelah luruh sedikit demi sedikit tersaput oleh keindahan alam yang begitu menentramkan hati...Masyaa Allah. Cukup lama kami beristirahat disini untuk mengambil foto dan membuat video amatiran yang hasilnya bisa dilihat pada tautan YOUTUBE dibawah. Jika tak ada batas waktu, mungkin kami tak akan sempat beranjak dari tempat ini, karena pesona pemandangan yang begitu memikat, dan akhirnya terik mataharilah yang memaksa kami bertiga untuk beranjak menuju target sasaran berikutnya.

Dusun sahabat alam adalah target kunjungan kami berikutnya, meskipun di google maps tidak nampak jalan yang menghubungkannya, bahkan terpisah oleh 2 gambar aliran sungai, kami tetap berusaha mencapainya. Dan karena sudah terbiasa blakrak-an, kami tetap yakin bahwa pasti ada jalan setapak yang akan mengantarkan kami ke tujuan. Benar saja, setelah kami menerobos jalan setapak yang sangat sempit, menyusuri pinggiran pagar kebun jeruk, sampailah kami di sisi barat (belakang) Dusun Sahabat Alam. Kami beristirah disini cukup lama sambil nge-teh, sholat, dan ngobrol dengan bapak pembina Pramuka yang sedang mengadakan pelatihan dasar kepramukaan kepada guru2 di wilayah kota Batu. Selesai sudah petualangan gowes Wisata kali ini.

Dan setelah anggota badan kami cukup segar setelah beristirahat, kami lanjutkan perjalanan pulang menuju kota Malang. Demikian sahabat gowes kabar yang bisa saya bagi kali ini, semoga dapat menjadi referensi bagi semua sobat gowes dimanapun berada.

Salam 2rodaMTB 


Sunday, December 29, 2019

TRACK GOWES LEMBUSURA


Kanjeng mami ngajak mudik ke Blitar nengok orang tua sakit.....langsung ke pikir untuk mengulang petualangan gowes ke Patung Lembusura yang pernah saya laukan 3 tahun lalu. Karena anggota gowes dari malang cuman sendirian, maka Stumpjumper26 merah saya lipat di bagasi belakang mobil tua CRV2007 kesayangan (alias gak mampu ganti yang baru, he33x...). Maka berangkatlah kami sekeluarga menuju Blitar pada hari Sabtu 28 Desember 2019.


Patung lembusura ini terletak di perbukitan diatas Gunung Gedang di wilayah Kecamatan Gandusari, dari titik reference Puncak Kelud, Patung Lembusura terletak di arah tenggara. Sedikit cerita yang saya peroleh tentang asal usul Patung Lembusura tersebut adalah sebagai berikut, patung  ini menjadi terkenal karena peristiwa letusan Gunung Kelud pada tanggal 13 Pebruari 2014. Saat terjadi letusan Kelud, muntahan material panas sampai diatas perbukitan diatas gunung Gedang yang berdampak pada terbakarnya seluruh tumbuhan hidup diatas tanah, sehingga tak sehelai rumputpun tersisa, sebagai akibatnya patung Lembusura yang sebelumnya tertutup oleh semak belukar menjadi nampak jelas ditengah-tengah perbukitan yang hangus. Untuk diketahui, bahwa pada saat terjadi erupsi Kelud masyarakat wlingi dan sekitarnya dapat menikmati tontonan lava panas yang terlihat jelas di malam hari. Saat kondisi Kelud sudah mulai aman berduyun-duyunlah masyarakat desa sekitar Wlingi melihat kondisi gunung Kelud pasca meletus dari puncak Lembusaura, karena puncak Kelud memang nampak jelas dari titik tersebut, dan elok cerita orang-orang tersebut mendapati 2 patung Lembusura yang berdiri tegak ditengah perbukitan gosong. Dan sejak saat itu kemunculan Patung Lembusura menjadi cerita mistis yang berkembang dikalangan masyarakat, padahal patung tersebut memang sudah berada disana sebelum gunung Kelud meletus, karena sengaja dibuat orang (mungkin untuk tujuan nyepi/bersemedi) dan sebelumnya tidak ada orang yang naik sampai puncak Lembusura karena memang disana tidak ada sesuatupun yang bisa dilihat atau dinikmati.

Hari Minggu 29 Desember 2019, berdua saya dengan pak Bambang sepupu saya, memulai gowes dari Rumah di desa Gandusari kira-kira jam 7.30. Perjalanan menuju Puncak Lembusura dapat saya bagi menjadi 3 etape, pertama adalah etape track asphalt jalan desa yang berjarak sekitar hampir 6 km, kemudian dilanjut dengan etape Offroad jalan tanah berpasir ditengah kebun karet sepanjang 4 km, dan etape terakhir adalah 2 km track terberat karena disamping ascent-nya gila ditambah kondisi jalannya ampun karena tergerus aliran air hujan. Ditengah perjalanan kami mendapati sahabat komunitas gowes Wlingi sedang asyik istirahat sarapan ditengah hutan gunung Gedang, mereka berjumlah 7 orang. Akhirnya kami ber-sembilan bergabung bersama2 menuju puncak Lembusura. Pada gowes kali ini sangat berbeda dengan gowes pada 2016 lalu, yang sekarang sangat-sangat-sangat berat untuk mencapai puncak, perasaan gowes dahulu meskipun berat saya masih bisa menikmatinya. Ada 2 faktor utama yang mungkin menyebabkan menjadi berat, pertama adalah umur sudah bertambah 3 tahun, tentunya ada korosi stamina, dan yang kedua saya pakai sepeda AM karena memang tujuan utamanya ingin menikmati descent sepanjang 6 km yang sangat menantang, sedangkan dahulu saya pakai jenis HT. Walapun di KM terakhir banyak aksi “TTB alias Tun Tun Bike”, karena disamping lelah sudah tak tertahankan dan juga kondisi track yang tidak memungkinkan. Akhirnya sampai juga kami lengkap bersembilan di puncak Lembusura.

Kini saatnya Rock ‘n Roll, dalam hal ini saya sendirin, karena yang lain semuanya “ahli tanjakan anti turunan”...he3x, dan sepeda mereka juga HT semua. Knee n elbow protector yang sepanjang bike hiking tadi tersimpan di dalam tas punggung, saya pasangkan dengan firm di siku dan lutut. Mulailah execution “The Main Goal” mendaki puncak Lembusura, yaitu menaklukkan descent track sepanjanjang hampir 6 Km, dan bagusnya adalah disepanjang jalur ini banyak sekali bumpy alami besar dan kecil yang sudah tersedia, sehingga sangat mengasyikan bagi siapapun untuk memacu adrenalin di track ini, ditambah kondisi track-nya yang tidak licin meski habis diguyur hujan,  karena tanahnya berpasir padat. Kalau boleh ada kata “sayang”, adalah “ No Cornering”, tidak ada belokan tajam yang bisa memaksa roda belakang sepeda kita sedikit “NGEPOT”, sepanjang jalur adalah lurus. Alhamdulillah, tidak terjatuh sama sekali, aman dan lancar sampai rumah Gandusari, tak berselang lama pak Bambang menyusul sampai dirumah.

Demikian sobat gowes petualangan pak We kali ini, semoga bisa menjadi reference bagi siapa saja yang ingin mencoba track Lembusura.

Akhirnya salam 2rodaMTB.

Saturday, December 14, 2019

MENDEK BIKE PARK


MENDEK BIKE PARK

Ternyata di Lawang ada semacam Track Tutur-Welang, meskipun tidak sepanjang TW bikepark namun ke-seruan-an offroad-nya gak kalah sama TW, bahkan disana terdapat 2 jalur yang berbeda, dengan level of difficulty yang berbeda pula, kalau menurut ukuran “ketangkasan” saya bisa digolongkan pada level Moderate dan Technical (curam dan banyak drop-off).

Sedikit mengupas Track Mendek Offroad, track ini sebagian besar adalah jalan setapak di areal ladang penduduk yg digunakan untuk akses ke ladang maupun bagi peternak yang mencari rumput. Ada satu ruas yang panjangnya kira-kira 100an meter yang diatasnya bertebaran bongkahan batu besar kecil yang cukup menyulitkan bagi para bikers untuk manaklukkannya, tentunya dengan kecepatan cukup, bukannya pelan2, saya pribadi lebih suka menyebut ruas ini sebagai “Rock Garden”. Kemudian adalagi track didalam hutan pinus yang cukup rimbun namun tidak panjang. Secara keseluruhan Track ini saya kasih Bintang 3, cukup FUN bagi goweser seperti saya ini, skill pas2an dan umur sudah cukup kadaluwarsa, tapi semangat masih Sweet Seventeen,.........wakakakak. Kalaupun ada nilai minus Track ini adalah, tentang panjangnya yang tidak lebih dari 5 km, kalau diukur dari waktu gowes, hanya butuh sekitar 30 menit untuk menyelesaikannya, satu lagi kalau masih boleh menyebut kekurangannya adalah jalur loading yang cukup panjang memutar sepanjang hampir 14km, jika mau 2-3 kali gowes.

Bonusnya, ada satu lagi track Mendek bikepark dengan level “Technical”. Bikepark ini belum sepenuhnya jadi saat kami jejaki, masih dalam proses penyelesaian. Medannya cukup lengkap, ada turunan curam, ada bumpy, ada drop, ada berem, semua tracknya jalur cepat, track buatan ini mungkin tidak lebih dari 1km, selepas itu dilanjut single track menurun sepanjang kurang lebih 2km berakhir di peternakan ayam potong. Perlu skill yang cukup dan satu lagi keberanian dan “kenekatan” untuk goweser level saya untuk mencoba track ini.

Kebetulan saya berkawan baik dengan mas David dari komunitas gowes Lawang, yang merupakan salah satu perintis pembukaan track tersebut. Dan pada Sabtu 14 Desember 2019, dia bersedia menjadi marshall kami untuk mencoba Track tersebut, berlima saya pak We, Ari “Pace” Wongkar, pak Paryono alias mBah No, mas Insan, ditambah marshall. Dari Malang kami berangkat sekitar jam 6.30, menuju titik start di Warung Ringin. Tepat 07.35 kayuhan pedal sepeda mulai diputar, sekitar 1.8 km dari warung Ringin menuju medan offroad adalah jalan asphalt desa. Untuk menyelesaikan track ini hampir tidak membelanjakan energy sama sekali selama kurang lebih setengah jam, hal ini dapat dilihat dari hasil bacaan Amazfit saya yg cuma 463 Calory Burned, yang bekerja keras adalah lengan dalam mengendalikan handlebar sepeda, dan Jantung khususnya saat me-manage tingkat ketegangan, karena bpm saya mencapai 182. Final oppinion saya untuk track ini adalah JEMPOL 3, dan harus sering2 balik sini.

Sedikit Tips, adalah jangan meninggalkan safety outware untuk gowes di track ini, helm, knee & elbow protector, minimal pakai sepatu outdoor yg tidak licin, Glove kalau ada type full, kacamata sport dan terakhir sepedanya spec AM yang dalam kondisi siap tempur. Perlu sahabat goweser ketahui bahwa rekan kami mas Insan dan mBah No beberapa kali harus berjibaku koprol dan beradu badan melawan batang pohon, karena medannya sangat sulit, sedangkan energy “kenekatannya” berlebihan, maka dari itu Safety Outware sangatlah penting untuk melakukan Riding AM seperti itu.

Satu lagi pesan bagi sahabat gowes yang sudah pada level “komersial”, saran saya sebelum membawa tamu ke area tersebut sebaiknya melakukan komunikasi terlebih dahulu dengan komunitas gowes Lawang yang sudah merintis keberadaannya, setidaknya tidak semena-mena mengambil keuntungan dari jerih payah orang lain, sebagai rasa hormat kita, kecuali mungkin untuk gowes pribadi.

Akan sangat membahagiakan apabila tulisan ini bermanfaat bagi pembaca, khususnya sahabat gowes, bisa menjadi referensi untuk beraktifitas gowes sehat, rekreasi dan olah raga.

Akhirnya salam 2rodaMTB.

Monday, November 18, 2019

THE TAMAN SATRIYAN


Pada kesempatan kali ini, saya berbagi kisah petualangan Kaki Semeru jilid 2,...ya karena sebelumnya kami pernah melakukannya pada April 2019 silam. Team kecil 6 orang dari komunitas gowes biker08 dan CADbikers bergabung, acara kali ini termasuk mendadak, dari omong2 kopi lepas Ashar, kami bersepakat pada Sabtu 16 November 2019, karena juga pada tanggal itu mas Wahyu Malang Selatan ada waktu kosong untuk kita.

Kami bertiga; saya pak We, mas Insan, dan kang Fuad loading sepeda di depan ponpes Al-Hikam, sementara 3 lainnya Pace, kang Besoet n David menunggu di kantor Telkom Sawojajar. All bikes had loaded, segera mobil L-300 hitam andalan mas Wahyu meluncur ke arah Dampit, tepatnya di desa Taman Satriyan, dusun mBopong. Sampai di titik start etape_1 kira2 jam 08.00, dan
kayuhan pertama tepat jam 08.18, menuju titik finish di BoonPring Turen. Etape_1 ini berjarak kurang lebih 17 km, dengan jenis medan yang lumayan berat n extreem, karena banyak tanjakan dan turunan curam. Kondisi cuaca panas dan hari sebelumnya tidak turun hujan, sehingga banyak track berdebu yang cukup mengganggu hidung dan mata kami. Dari titik start sampai Taman Hutan Pinus Semeru (HPS), track nya sangat menantang, turunan curam berkelok-kelok, yang kalau rem belakang ditekan sepeda tetap meluncur kebawah, sedangkan jika rem depan ditekan dapat dipastikan sepeda berikut rider-nya akan “nJungkel” atau terbalik, dibutuhkan skill dan keberanian yang cukup untuk bermain disini. Ada sepenggal jalan tanah rata yang menurun dengan dropped-off alami yang bisa membuat sepeda kami terbang. Dengan sedikit “kenekatan” saya nikmati sepenggal track ini dengan konsentrasi penuh sehingga bisa larut dalam sensasi “drop n jump” yang  “very-very excited”, alhamdulillah kami semua selamat dan lolos dari track ini. Setelah melalui jalan menukik tajam dan menyeberangi sungai kering yang cukup besar, sampailah kami di area Taman Hutan Pinus Semeru. Suasana sejuk, segar, tentram langsung merasuk sekujur tubuh, seolah mampu men-trigger energy baru kedalam tubuh kami. Disini tergelar jalan tanah padat menurun cukup panjang, yang mampu menggoda siapapun untuk memacu sepedanya dengan sekuat tenaga...malang tak dapat ditolak, saat roda sepeda melibas gundukan dan terbang, grip jari-jemari kiri kang Fuad lepas dari handlebar karena tekanan akibat mendaratnya roda sepeda di tanah, jatuhpun tak dapat dihindari. Pada moment seperti ini barulah terasa bahwa Safety Outware sangatlah penting saat bersepeda AM, (Helmet, Knee/elbow protectors, gloves, Shoes), termasuk kacamata sport untuk bisa melindungi mata kita dari debu yang beterbangan, dan alhamdulillah kang Fuad sudah well prepared. Bersyukur kami masih “full team” untuk menuntaskan petualangan kali ini.

Dengan bantuan portable stove yang dibawa mas Wahyu, Kami bisa menikmati sedapnya kopi semeru yang kami beli dari petani dusun mBopong sambil beristirahat di sekitaran taman wisata BoonPring. Etape_2, adalah etape remidy karena sebelumnya sudah pernah kami lakukan, hanya saja sekarang titik startnya diatas titik start sebelumnya, sedikit agak susah karena harus “menuntun” sepeda keatas bukit. Rute ini kita sebut rute “BAHAGIA” karena tracknya menurun lurus disela-sela pohon pinus, sehingga kita bisa menikmati putaran roda sepeda tanpa harus mengayuh di tengah-tengah hutan pinus yang sejuk, yang berakhir di area Wisata Winong.

Sampai dengan akhir etape_2 waktu menunjukkan jam ± 13.30, waktunya ishoma, kami makan siang dan sholat di sekitar pasar desa Bringin. Dilanjut menuju titik start etape_3 via jalan utama menuju dusun Duwet Krajan, yang kurang lebih berjarak 11 km dari pasar Tumpang. Kurang lebih jam 15.00, kami memulai kayuhan sepeda. Track awal disuguhi oleh pemandangan hutan yang disebelah kiri kami adalah jurang yang sangat dalam, jalan setapak yang kami lalui sangat sempit, meleset sedikit bisa jatuh di kedalaman, saya pribadi tidak merekomendasikan rute ini saat musin penghujan, “take much risk”. Kalau ada track Bromo 5cm, maka saya namakan rute ini “Duwet 3cm”. Setelah menikmati jalan setapak ditengah hutan, kami keluar ke jalan raya Benjor, meng-asphalt turunan sepanjang kurang lebih 4km, sebelum masuk ke areal ladang dan persawahan, menyusuri pinggiran kali. Dan setelah memasuki perkampungan, kami kembali meng-asphalt di Jalan Wisnuwardhana, melewati Candi Jago dan Mobil Pickup kami sudah menunggu di pasar Tumpang. Overall track ini adalah “Track Rekreasi”, karena tidak ditemukan sama sekali bumpy path di descent, yang memungkinkan melakukan drop atau jump, hanya diperlukan konsentrasi dan extra hati2 pada jalan setapak yang sempit sepanjang jurang yang dalam.


Demikian sahabat gowes sharing experience kali ini, semoga bermanfaat dan bisa menjadi referensi bagi yang belum pernah mencoba track ini.

Salam 2rodaMTB


Sunday, November 3, 2019

GOWES LEMBAH SERIBU - COBAN TALUN

Awal November 2019, Malang sudah benar-benar masuk musim penghujan. Dan menyambut musim hujan kali ini saya mencoba mengulang track Lembah Seribu yang sudah pernah saya explore pada Januari lalu. Namun kali ini PlanRoute adalah turun di Coban Talun, tidak di desa wisata Kungkuk seperti yang sudah pernah saya sebelumnya. Rombongan gowes kali ini, saya bersama rekan komunitas gowes “ORONG2”, total kami bertujuh saya pak We, mas Boiy, nDan Mayur, mas David, pak Anang, pak Hari dan mas Abdillah. Start dimulai dari Masjid Jami’ Darussalam ds. Pandesari Pujon.

Kayuhan pertama diawali kurang lebih jam 08.00, cuaca mendung dan berkabut. Kami menyusuri jalan asphalt halus yang di beberapa bagian sedang dilakukan perbaikan, sepanjang kurang lebih 2.5 km dengan ascent yang lumayan terjal, yang dengan cepat mendorong bpm jantung saya naik sampai ke level 140an, sampai akhirnya berhenti sejenak di pohon Ringin Kembar. Disini kabut sangat tebal, jarak pandang kurang lebih hanya 20m, kami lanjut melalui track makadam dan jalan tanah yang terus menanjak. Guyuran air hujan yang baru 1-2 hari saja sudah menyebabkan jalan licin dan berlumpur, dan di beberapa bagian ada genangan air, maka semakin banyak belanja energy yang kami lakukan untuk menaklukan medan ini dibanding saat kondisi kering. Bad news-nya adalah pemandangan indah disebelah kanan kami yang dikenal dengan istilah lembah seribu tak nampak sedikitpun, sedangkan good news-nya adalah suasana bersepeda lain dari pada yang lain, seperti di negri atas awan, dan belum pernah pengalaman gowes seperti ini, sehingga menambah sensasi yang luar biasa. Extra hati2 harus terus dilakukan mengingat ada lembah yang sangat dalam disebelah kanan kami yang tidak nampak karena tertutup kabut, yang jika tak waspada bisa....

Satu lagi sobat gowes, bahwa akibat tiupan angin di ketinggian saat hujan, mengakibatkan banyak pohon tumbang menghalangi jalan, dan semak-semak berduri di kanan-kiri jalan setapak yang saling bertangkupan, bisa menggores kulit kita, dan yang lebih sayang lagi bisa merobek jersey SEVEN7 yang saya kenakan (sempat terpikir “napa gak pakai jersey yang lain saja”, he33x...). Di beberapa titik kami sempat kebingungan karena banyak persimpangan jalan yang dijumpai, rupanya mas Boiy agak2 lupa rute yang pernah dijajal setahun yang lalu, dan untungnya sepanjang gowes meskipun ditengah hutan, signal selular setia menemani kami, sehingga google maps masih bisa diandalkan untuk menjadi assistant guide kami. Ada saja bicycle technical problem disetiap gowes, sepeda mas Abdillah mengalami bocor rear shox, maka dengan segala keikhlasan hati harus rela menyelesaikan etape gowes yang masih sangat jauh dari titik finish layaknya bersepeda HardTail. Untuk problem physhic, pak Hari yang biasanya jago tanjakan sedikit mengalami kram, dan untungnya bisa segera pulih dengan istirahat sejenak, pak Budi alias nDan Mayur yang sebelumnya kami “under_estimate”, ternyata selalu ngacir didepan, dan malah saya sendiri yang sering keteteran di belakang.

Setelah melalui track sulit; berlumpur, terhalang semak dan pohon tumbang, jalan nge-rel bekas motor trail, tanjakan terjal yang tidak memungkinkan di gowes, akhirnya sampailah kami di Bukit Cinta Calindra Area Wisata Coban Talun. Hamparan kebun bunga yang luas dikelilingi hutan pinus yang berjajar rapi dengan jarak antara yang sepadan nampak sangat indah menentramkan batin, yang mampu segera mengobati rasa lelah akibat gowes selama kurang lebih 4 jam dengan jarak tempuh 14km.

Karena kepulangan kami ke Malang direncanakan untuk tetap gowes, maka sebelum turun melahap track asphalt jalan raya utama Batu-Malang, sepeda kami cuci di kali sekitar area wisata Coban talun, agar lumpur kering tidak menghalangi loncer-nya hub dan bottom bracket sepeda kami. Bumi arema kaya akan area wisata gowes dengan berbagai jenis track-nya, yang cocok untuk peng-gowes mulai kelas goweser pemula, goweser wisata sampai athlete downhill, so mari kita terus galak-kan minat bersepeda baik untuk wisata, kesehatan, maupun sport sebagai obat bahagia yang paling mudah dan murah dibeli, dan jangan bosan untuk terus explore track baru yang belum pernah dijejaki sebelumnya.

Demikian sahabat gowes yang bisa kami share, semoga bisa menjadi referensi untuk men-jajal rute/track baru bagi yang belum pernah.

Akhirnya Salam 2rodaMTB.



Thursday, October 10, 2019

PIKNIK NGONTHEL BARENG BIKER08


Sharing kali ini tentang gowes Bedugul. Sudah cukup lama kami ingin men-jajal single track Bedugul, yang menurut cerita dikalangan goweser cukup menantang. Peserta kali ini berjumlah 19 orang, tidak sebanyak event gowes bersama sebelumnya. Seperti biasanya planning gowes kami adalah 2 hari, sabtu  dan minggu 5-6 Oktober 2019, hari pertama adalah explore single track Bedugul, sedangkan hari kedua gowes ringan city tour Denpasar.


Gowes Bedugul dimulai dari titik start Puncak Bukit Catu yang berjarak kurang lebih 53 km dari down town Denpasar. Dari titik start ada jalan asphalt kurang lebih 100 m, kemudian langsung masuk medan offroad single track. Medan yang kami lalui menurut saya punya difficulty factor pada level cukup lumayan, karena selain hampir sepanjang jalur adalah single track, juga banyaknya pokok pohon yang menjorok, akar pohon yang cukup besar berserakan di sepanjang track, ditambah lagi batang pohon yang cukup rapat yang memaksa kami harus mengeluarkan kemampuan untuk meliuk-liuk diantara pepohonan. Ditengah perjalanan terdapat pos pemberhentian untuk bayar ticket yang katanya untuk biaya perawatan track, namun sayangnya pengamatan saya sepanjang gowes tidak ada tanda-tanda hasil kegiatan perawatan, bahkan sebaliknya nampak tidak terawat, beda banget dengan kondisi track Tutur-Welang di Kabupaten Pasuruan yang nampak terawat. Track bedugul tersedia banyak alternatif jalan seperti halnya di track TW, namun karena keterbatasan waktu, kami hanya melakukannya sekali saja. Tidak seperti track TW yang single track nya berupa tanah padat, track bedugul banyak dijumpai tanah kering yang diatasnya terdapat tanah lembut yang cukup tebal, sehingga akan memproduksi debu yg luar biasa saat dilalui, hampir sama seperti gowes Bromo saat musim kemarau. Salah satu yang perlu diwaspadai adalah kehadiran tanaman “lateng” yang dapat menyebakan serasa tersengat serangga saat terkena daunnya. Overall saya pribadi puas dengan tantangan medannya, dan rasanya patut untuk dicoba sekali lagi. Akhirnya etape satu berakhir di wisata air panas Angsri.

Gowes dilanjut menuju titik finish di Monumen Panca Bhakti Margarana, melalui persawahan Jatiluwih yang sudah sangat terkenal sebagai obyek wisata alam persawahan yang didanai oleh UNESCO. Jalur ini didominasi dengan jalan perkampungan ber-asphalt, persawahan dan menyusur aliran sungai kecil. Namun sayangnya jalur persawahan Jatiluwih yang kami lalui adalah bagian sebelah timur, yang tidak seindah bagian sebelah barat yang dimulai dari “Jatiluwih Rice Terrace”. Total jarak tempuh yang kami lalui sekitar 30 km dengan waktu tempuh 4 jam.

Day 2, adalah acara gowes “City Tour”, dimulai dari kantor Telkom jalan Serma Gede, menuju utara melalui Lapangan Puputan Badung, lanjut terus ke utara sampai memotong jalan Gatot Subroto, masih terus ke utara menuju Ekowisata Subak Lestari Kelurahan Penatih di jalan Sekargadung, tepat disamping Pasar Kerta Waringin Anggabaya adalah pintu masuk Ekowisata Subak Lestari. Ekowisata ini berupa area persawahan yang dibangun beberapa spot “SELFIE”, menurut saya area tersebut cukup indah walaupun tidak seindah area persawahan Jatiluwih dan juga tidak begitu luas, sekitar 2.5 km kami berputar-putar diarea ini. Keluar dari area persawahan, kami balik lagi kearah selatan menuju pantai Sanur, namun sebelumnya kami mampir di Cuture Village Kertalangu untuk rehat sejenak sambil ngopi. Dilanjut ke pantai Sanur, disini kami mengabadikan diri di Matahari Beach. Dari sini rute pulang adalah jalan lurus kearah timur, menyusuri jalan Raya Puputan sampai kembali ke kantor Telkom Serma Gede. Sampai lokasi finish tepat adzan Dhuhur waktu Denpasar, total jarak tempuh city tour ini kurang lebih 40 Km, dengan total waktu gowes selama 4 jam.

Selesai sudah agenda gowes II-2019 cycling community Biker08, kami selalu mengagendakan 2x tour luar Malang dalam setahun, dimana agenda gowes I dilakukan di Baturaden pada bulan Juni-2019. Selesai berkemas kami berangkat pulang ke Malang pada jam 16.00.

Goodbye Bali, see you soon in the near future....Salam 2rodaMTB

Sunday, September 15, 2019

GOWES CANGAR "remedy"

Jalur track Offroad Cangar-Batu adalah salah satu jalur gowes terbaik di Malangraya, disamping tracknya sendiri yang cukup menantang, juga object wisata yang dilalui, diantaranya konservasi alam milik perhutani yakni Arboretum Sumber Brantas, wisata alam Coban Talun, Taman Rekreasi Selecta yang sudah sangat populer di Indonesia. Pemandangan alam yang mempesona sepanjang perjalanan gowes adalah bonus yang luar biasa untuk membantu mengembalikan suasana hati menjadi lebih relax khususnya bagi yang mempunyai aktifitas padat di kesehariannya, diantaranya adalah hutan pinus, hamparan ladang petani sayur, sungai2 kecil yang membawa aliran air sumber mata air yang airnya sangat jernih dengan background Gunung Arjuna. Sekedar informasi, bahwa Arboretum Sumber Brantas adalah kawasan konservasi alam, berupa taman bunga dan pepohonan yang didalamnya terdapat sumber mata air yang katanya merupakan asal mula air sungai Brantas, seperti tertulis pada papan diatas sumbermata air tersebut “DARI TEMPAT INI BERASAL AIR KALI BRANTAS”. Sumber mata air tersebut mungkin adalah salah satu donor air sungai Brantas dan masih banyak sumber mata air lainnya yang juga ikut menyumbang debit kali Brantas. 

Karena itu saya tidak bosan2nya mengulang petualangan di track ini. Sabtu 14 September 2019 adalah yang ketiga dan kali ini saya bersama rekan komunitas gowes “ORONG2”, p.Hariyanto, p. Anang, dan kang Besoet. Seperti biasa start dimulai dari lokasi Pertanian Padat Karya Budi Daya Jamur yang berjarak kurang lebih 900m sebelum Pemandian air panas Cangar jika dari kota Batu. Kalau soal track mungkin tidak banyak hal baru yang bisa dikupas, karena di blog gowes lainnya sudah banyak yang menyajikan info tentang itu, termasuk tulisan saya terdahulu “Menaklukkan Tanjakan Cangar” di blog ini juga, hanya berbeda saat musim hujan yang licin dan musim kemarau yang berdebu, dan saat musim hujan jauh lebih indah karena semua tumbuhan menghijau dengan sempurna, termasuk rumput2 yang menghalangi debu. Hanya saja ada yang baru saat melintas kawasan konservasi Arboretum Sumber Brantas, pagar yang mengelilinginya bukan lagi kawat berduri usang yang bisa “di-brobosi” sebagai jalan ilegal untuk masuk ke kawasan Arboretum (he3x), kini sudah diganti pagar galvanis BRC, sehingga kami masuk melalui pintu jaga untuk meminta ijin kunjungan, dan sepeda harus diparkir disitu, sehingga tidak bisa kami bawa sampai ke sumber mata air seperti biasanya.

Dari kawasan kota Batu menuju malang, dalam upaya menghindari tanjakan, kami mengambil jalan pintas di desa Pandanrejo menuju Jalan Wukir. Saat masuk jalan Kamboja di Desa Pandanrejo, belum sampai 400m jalan kami terhalang panggung Tayub yang berdiri di tengan jalan dan menutup akses jalan tanpa celah sedikitpun, tak terkecuali untuk jalur sepeda sekalipun, beruntung ada ibu2 yang memandu kami melalui gang sempit di samping panggung. Dan beruntungnya kami menjadi tahu bahwa desa Pandanrejo adalah lumbung Strawberry, karena saat melalui gang sempit tersebut nampak banyak ibu2 yang sedang melakukan packing strawberry, tak ayal kami berhenti untuk membeli buah strawberry langsung dari tangan pertama, harganya murah banget dibanding yang jual di Alun2 kota Batu atau di Malang. Saat ngobrol dengan ibu2 tersebut, kami mendapat informasi bahwa panggung tayub tersebut dalam rangka selamatan desa atau “Merti Dusun”. Yang namanya rizki itu datangnya bisa kapan saja dan dari siapa saja tanpa kita bisa menduga sebelumnya, dalam kondisi perut lapar kami ditawari makan “berkat” selamatan, sontak kamipun menjawab “IYA”. Bermacam-macam lauk-pauk masakan khas desa tersaji dihadapan kami, dan dengan lahapnya kami bersantap, nikmatnya berlebih-lebih saat cita rasa lezat masakan bertemu dengan rasa lapar. Setelah berucap terimakasih atas “hospitality” warga Pandanrejo, kamipun menyampaikan kata pamit untuk melanjutkan perjalanan menuju rumah yang masih berjarak 15 km lagi. 

Total jarak yang saya tempuh kurang lebih 37km, dan tentunya p.Hari cs menempuh jarak yang lebih jauh lagi karena mereka finish di Perumahan Dirgantara (Sawojajar), sedangkan saya di Cengger Ayam. Karena track gowes start dari posisi 1.700 mdpl menuju 500 mdpl, maka sedikit sekali dijumpai ascent, overall menurut catatan amazfit saya, Uphill=23%, downhill=32%, flat=45%, so ini adalah track “happy-happy”. Begitulah sobat sekelumit cerita gowes saya kali ini, semoga dapat menjadikan gula2 bagi sobat gowes yang lain untuk selalu berusaha explore track gowes Malangraya. Malang adalah sorga bagi goweser, masih banyak track gowes yang mungkin belum dijelajahi, sisi barat seputaran Gunung Panderman – Gunung Banyak – Gunung Arjuna, sisi Tenggara Gunung Semeru, sisi Timur laut Gunung Bromo, sisi selatan wilayah pantai, dan sisi Barat Laut adalah lereng Gunung Kawi. Dan bagi sahabat gowes jangan segan berbagi, agar bermanfaat bagi banyak sahabat gowes lainnya. 

Terima kasih P. Hariyanto, P. Anang, Kang Besoet atas kebersamaannya dan juga warga desa Pandanrejo atas keramah-tamahannya, lain kali kita ulangi di rute yang berbeda, dan akhirnya Salam 2rodaMTB.

Sunday, September 8, 2019

GOWES WISATA COBAN JIDOR


Minggu, 8 September 2019 bersama komunitas CAD Cycling berencana turut serta FunBike HUT RINDAM V, entah kenapa tiba2 kami berubah pikiran, dan membatalkan keikut sertaan kami dan lebih memilih gowes sendiri ke Coban Jidor. Kebetulan hari itu banyak anggota yang berhalangan, sehingga hanya kami berempat saja yang bisa meluangkan waktu bersama, pak Mar, mas Fuad, Kang Parlan dan saya sendiri pak We, seperti biasa janjian di tikum POS SATPAM CAD jam 5.30, dan juga seperti biasa terjadi delay beberapa menit, dan akhirnya kami berangkat pada pukul 5.52.

Kami memilih tidak melalui jalan utama Blimbing-Tumpang, tapi mengambil jalan sulfat – Ampeldento terus masuk jalan Sunan Ampel melewati kampung dan persawahan, keluar jalan raya persis di depan Pasar Pakis, dilanjut mengaspal di jalan raya Pakis – Tumpang, sampai di jalan raya Sumber Pasir tepatnya Pangkalan Ojek KENONGO belok kiri,  pada arah ini kita bisa sampai ke banyak coban diantaranya Coban Jahe, Coban Tarzan, Coban Siuk, Coban Jodo, Coban Cinde dll, setelah kurang lebih 750 meter dari pangkalan ojek KENONGO kami jumpai perempatan, belok kanan arah Precet, terus lurus sampai desa Ngadirejo.

Jalan masuk ke coban Jidor bisa diakses dari dua titik, yang pertama adalah 200 meter sebelum kantor desa Ngadirejo, tepatnya di tandai dengan gapura ICON Kabupaten Malang, titik kedua terletak di gang masuk yang berjarak 300 meter setelah kantor desa Ngadirejo. Saya merekomendasikan melalui titik masuk pertama, karena selain jalannya flat juga pemandangannya bagus, meskipun berupa jalan single track dan perlu kehati-hatian karena sebelah kanannya adalah jurang. Nanti kita akan ketemu pintu masuk menuju Coban Jidor, kita bisa parkir sepeda disitu atau jika mau bersusah payah sepeda bisa kita bawa kebawah sampai lokasi coban. Di pintu masuk ini ada yang membuat kami kecewa, karena penjaganya menarik biaya masuk per-orang sebesar Rp.10.000 belum termasuk ongkos parkir dan tanpa memberikan karcis/ticket. Kita bisa bandingkan dengan wisata alam hutan pinus Mangunan-Bantul-Yogyakarta dengan segala fasilitasnya yang terawat, pengunjung hanya dikenakan ticket masuk Rp.3.000, sementara mengunjungi sungai di coban Jidor dikenakan ticket masuk Rp.10.000, saya rasa hal seperti ini yang membuat orang malas datang berkunjung, dan harusnya hal-hal seperti ini menjadi koreksi perangkat desa untuk menertibkannya, sehingga tidak hanya pandai meng-inisiasi pembukaan wisata alam, namun pandai juga menjaga dan meningkatkan kualitasnya. Singkat cerita dengan bersusah payah kami turun sampai lokasi coban, melalui jalan tanah curam yang sudah dibuat trap-trap sampai ke lokasi coban.

Seperti lokasi wisata alam yang sudah sering kami jumpai di wilayah kota maupun kabupaten Malang, semua kebutuhan tempat wisata seperti warung dan Toilet Umum tersedia, namun kondisinya rusak parah dan tidak bisa digunakan lagi, kami menduga bahwa keberadaan fasilitas tersebut hadir saat awal dibukanya kawasan wisata alam tersebut, namun setelah itu karena frequency kunjungan wisata sangat kecil sehingga semua fasilitas tersebut terbengkalai. Kawasan Coban Jidor lumayan asri alami, meskipun ketinggian cobannya kurang lebih hanya 10 meter, namun debitnya cukup besar. Suasana asri tersebut membuat kita bisa betah berlama-lama berada disana.

Gowes kali ini menempuh jarak kurang lebih 24.3 Km yang hampir tidak ada turunan sama sekali, namun bagusnya sepanjang rute adalah jalan aspal mulus. Bagi sahabat gowes yang ingin menikmati kesejukan coban Jidor, rasanya informasi yang saya sampaikan diatas cukup membantu sebagai guidance untuk menuju kesana.
 
Akhirnya salam 2rodaMTB

Sunday, August 25, 2019

JELAJAH ALAM DESA PUNTEN



Pada kesempatan kali ini, saya bersama komunitas CAD Cycling Community berpartisipasi pada event “Jelajah Alam Desa PUNTEN” yang diadakan oleh salah satu komunitas gowes di kota wisata BATU. Kami bertujuh Saya, pak Mar, mas Fuad, kang Parlan, mas Insan, pakde Eddy, dan pak Bahar adalah Brigade 53, yang jika di-rata2 usia kami bertujuh adalah 53 tahun, dari yang termuda 41 tahun dan yang paling senior 64 tahun. Meskipun kelompok old Crack (above FIFTY), semangat untuk main Offroad masih cukup tinggi.

Sabtu malam, sekitar jam 21.00 kami loading sepeda ke pickup milik mas Insan, dengan harapan besuk paginya bisa lebih santai untuk persiapan berangkat. Pada keesokan harinya, Minggu 25 Agustus 2019 kami berangkat jam 05.30 tepat sesuai rencana. Karena pickup tidak cukup dimuati 7 orang, terpaksa kami menggunakan 2 mobil. Sampai dilokasi Balai Desa Punten kami disambut panitia untuk mengarahkan parkir mobil, suasana sudah cukup ramai para peserta karena jam sudah menunjukkan pukul 06.30 sesuai dengan rencana waktu pemberangkatan. Dan akhirnya pada pukul 07.08 peserta gowes Jelajah Alam Desa Punten diberangkatkan.

Rute kami adalah, start dari Balai Desa Punten Jl. Raya Punten No.19A, kemudian dilanjut masuk gang Buto Jl. Purwosenjoto menuju Gunung Pucung, sepanjang kurang lebih 4 km kami melalui jalan makadam menanjak cukup tajam dimana banyak beserta gowes yang berkali-kali harus berhenti beristirahat karena kejamnya tanjakan PUCUNG, termasuk rekan kami pak Bahar yang sudah terbatuk-batuk karena kekurangan oksigen meskipun jantungnya sudah berusaha memompa dengan kecepatan 180 bpm. Singkat cerita sampailah saya dan pak Bahar di pos#1 pintu masuk hutan gunung Pucung yang ditandai adanya saung tempat istirahat para penyadap getah pinus, sementara rekan2 lainnya sudah mendahului kami berdua. Pada etape kedua ini, sebagian besar adalah jalan tanah didalam hutan gunung Pucung, diselingi jalan makadam, tanah berdebu, dan sesekali kami jumpai kebun bunga. Kami menapak-kan sepeda sampai puncak Gunung Pucung dan kemudian turun ke arah selatan ke jalan Sumbergondo yang tidak jauh dari lokasi start, namun kemudian dibelokkan kearah barat menyeberang jalan Raya Punten untuk berpindah rute gowes di sebelah barat Jalan Raya Punten. Rute dibagian barat jalan raya ini kebanyakan adalah jalan perkampungan. Kami masuk ke sisi barat lewat gang kecil yang berjarak kira2 400m di utara Jl. Melati, kemudian melalui jalan perkampungan sebentar untuk dibelokkan kearah perkebunan jeruk, seterusnya potong jalan masuk pekarangan pribadi yang ilalangnya baru saja di pampras khusus untuk event ini, yang asyik ada masuk galengan sempit sekali dan pinggiran kali yang juga sempit, setelah itu ketemu jalan Anjasmoro lanjut masuk jalan Melati kemudian belok kearah selatan sampai di belakang Hotel Purnama. Dan akhirnya sekitar jam 10.21, alhamdulillah saya dan pak Bahar sampai di lokasi finish balai Desa Punten, sementara kelima rekan kami yang lain sudah duduk-duduk bersantai menikmati alunan musik dangdut dari panggung yang berdiri di lapangan sebelah barat balai desa. Total rute yang kami lalui kurang lebih sepanjang 15 Km, maximum ketinggian lebih dari 1.300 dpl, dengan komposisi track adalah 64% tanjakan, 13% track turun dan sisanya flat.

Secara keseluruhan penyelengaraan event ini di-manage dengan baik, dari aspek pemilihan rute sangat baik dengan segala variasinya, petugas penunjuk jalan dengan disiplin mengarahkan peserta gowes sampai peserta terakhir, pengaturan lokasi parkir sangat baik sehingga tidak merepotkan peserta, penyelenggara tidak mengambil keuntungan finansial dari event ini dan sepertinya murni untuk memanjakan pecinta sepeda gunung, juga untuk mengenalkan potensi wisata desa Punten. Kami sampaikan terima kasih dan Bravo untuk seluruh panitia Jelajah Alam Desa Punten, ditunggu event berikutnya dan tentunya dengan track yang lebih mempesona baik dari sisi beauty view maupun tantangan offroad.

Demikian sobat gowes, dan tak lupa salam 2rodaMTB.



resep donat empuk ala dunkin donut resep kue cubit coklat enak dan sederhana resep donat kentang empuk lembut dan enak resep es krim goreng coklat kriuk mudah dan sederhana resep es krim coklat lembut resep bolu karamel panggang sarang semut